Figur

Dampak DBD, Pak Slamat Jadi Pusat Perhatian Emak-Emak

OPSI.ID, Bekasi – Dampak dari kasus demam berdarah dengue (DBD) yang meningkat, Emak-emak di wilayah Rawalumbu Kota Bekasi jadikan Pemantauan Jentik Selasa Jumat (Pak slamat) sebagai pusat perhatian.

Inovasi Pak Slamat merupakan program rutin UPTD Puskesmas Pengasinan yang telah disosialisasikan kepada warga sejak tahun 2017, namun karena hingga Juni 2019, UPTD puskesmas pengasinan masih memiliki angka 110 kasus DBD, maka ditambahkan lagi program Ovitrap.

Kepala UPTD Puskesmas Pengasinan, Dwi Wahyuningsih mengatakan, Ovitrap yang dibuat secara ekonomis tanpa biaya ini berbeda dengan sebelumnya, kali ini tanpa menggunakan gula, dan bahan lainnya. Cukup dengan bahan ember hitam kecil yang berisi air bersih.

“Karena jika menggunakan bahan lainnya, yang masuk bukan hanya nyamuk, melainkan kecoa dan serangga kecil,”tuturnya.

Dwi menjelaskan, ember hitam yang berisi air ditaruh di tempat yang gelap dan sudut rumah, dengan melakukan pengecekan setiap dua hari sekali, dan berlanjut setiap hari mengecek apakah ada jentik, jika terdapat jentik maka air disaring dan jentik nyamuk dibuang ke tanah.

Diketahui, puskesmas pengasinan masuk rangking tiga dari 56 kelurahan di Kota Bekasi dalam kasus DBD, dengan 110 kasus hingga juni 2019.

“Alhamdulillah bulan ini angka kasus DBD sudah berkurang drastis, dengan tiga kasus DBD di bulan Juli ini,”ujarnya di Bekasi, Jumat (26/7).

Dwi menuturkan, pengasinan sangat rawan terserang DBD karena faktor lingkungan, pelaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masih sangat kurang disini. “Semoga bisa hilang kasus DBD di wilayah ini”.

Melalui Program Pak Selamat, juga dibuat grup whats app (GWA) yang selalu mengingatkan warga dalam metode Pak Slamat.

“Pak Slamat dan Ovitrap akan terus disosialisasikan demi menghilangkan kasus DBD,”tukasnya.

Penulis:Nugie

Editor :Redaksi

Sumber :Opsi.id