Lebih Dekat

Kisah Yana Umar : Dirigen Viking, Persib dan Warisan Leluhur

Dirigen Viking Yana Umar [Olah Digital OPSI.ID/Yudha/berbagai sumber]

OPSI.ID – Siapa yang tidak mengenal figur satu ini. Namanya sudah dikenal akrab oleh ratusan ribu bahkan jutaan anggota Viking Persib Bandung, suporter sepakbola terbesar di Indonesia.

Dalam wawancara ‘Lebih Dekat’ OPSI.ID dengan Yana baru-baru ini, di Bandung, ayah beranak tiga ini mengemukakan pengalaman dan kecintaannya terhadap Persib, serta kisah hijrahnya dalam proses pencarian jati diri.

Kontribusi Yana merupakan bukti nyata kecintaannya terhadap Persib Bandung. Separuh hidupnya diabdikan untuk mendukung Pangeran Biru. Bagi Yana, “Persib adalah segalanya dan Viking adalah jiwanya”.

Di barisan penonton lah Yana tetap setia memimpin bobotoh, memberikan semangat, sekaligus jadi pemain ke-12 bagi Persib Bandung.

Bagaimana kisah Yana Umar? Begini wawancara OPSI,ID dengan pria yang suaranya diikuti oleh jutaan anggota Viking ini.

Assalamualaikum Kang Yana, kumaha damang?

Waalaikumsalam, alhamdulillah sae..

Kang, kok akang bisa sih jatuh cinta sama Persib?

Persib jadi budaya dan warisan. Warisan dari orang tua, turun menurun dari kakek, bapak, saya, anak, terus ke cucu saya mungkin.

Tidak ada paksaan untuk nonton (ke stadion) tapi melhat orang tua datang, ikut ke stadion. Akhirnya jadi kebiasaan terus sendiri datang ke stadionnya.

Ada Pengalaman berkesan saat nyetadion?

Ada.. Tahun 90-an, (Persib) lawan apa ya, saya lupa lagi tapi dari pinggir saya lihat Wawan Karnawan, julukannya Si Beton. (Dia) itu larinya.. hebat, kenceng banget.. itu yang paling saya inget.

Bedanya suporter dulu dan sekarang?

Antusiasme dan kerasnya sama, cuma mungkin dulu mah masyarakat kurang ya. Dari Bandung ke luar Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi dan ada dimana-mana sekarang. Itu kelebihan Persib.

Sejak kapan jadi Dirigen Viking?

Awal mulanya pas kebentuk komunitas Viking, baru tahun 95-96 ada dirigen, itu pertama dari suporter seluruh indonesia. Kita (supporter) yang pertama yang ada dirigennya, ada temen almarhum, Ayi sama Odoy.

Belum lama sih dua bulan tiga bulan, ada dirigen dari Tangerang. Dia jatuh, saya yang lanjutin. Tiga bulan dia sembuh, terus dia naik lagi, tapi anak-anak pada enggak mau.

Akhirnya kami bicara, dia bilang ya sudah kamu aja (Yana) yang naik. Terus saja begitu sampai sekarang.

Cikal bakal nama Yana Bool?

Kalau panggilan “Bool” mah bukan dari Persib, tapi (sejak) sekolah. Waktu itu kelas 2 SD, saya orang paling jahil dan tengil

Terus disebut ‘tah itu mah si bool’, Terus saya tanya kenapa harus bool?

Ya itu we kayak pantat saya, mulya-mulya. Nama saya kan Mulyana. Padahal sebelum usia 5 tahun, panggilan saya Yana Umar.

Nama Umar juga dari lagu Iwan Fals. Saat itu lagu Iwan Fals, lagu Sarjana Muda, untuk habis rewind lagi. Enek mereun ya tetangga (mungkin tetangga bosan), dasar Yana Umar dasar! (merujuk lagu Umar Bakri Iwan Fals)

Masuk SD, baru Yana Bool. Padahal di Viking mah enggak ada (panggilan itu).

 

Ada yang berubah dari Kang Yana dari awal mendukung Persib hingga sekarang?

Banyak sih, saya paling tidak terima kalau sudah nonton Persib kalah. Terus pas rombongan pulang, ada orang yang ngejelekin ‘Persib kalah, tapi kenapa ditonton terus?’ pokoknya mah ngejekin pasti saya tantang berantem, mau orang tua atau anak muda saya ajakin ribut dan berakhir di kantor polisi.

Itu sering (berantem), enggak tahu sudah berapa kali. Sekarang enggak, karena (saya) sudah tua kali ya.

Bobotoh dilarang nyetadion, gimana tanggapannya?

Kemarin ada suporter tetangga yang meninggal, dampaknya ke semuanya. jadinya harus menerima keputusan PSSI.

Padahal kita tidak menerima sanksinya, kita merasa seperti dikebiri. Itu yang terus dikebiri.

Lebih berat sanksi larangan bermain untuk pemain atau bobotoh dilarang nyetadion?

Lebih berat untuk pemain, sekarang kita perjuangkan untuk bisa nonton di 2019.

Persib takdirnya dari PSSI, dari Komdis. Mau begini salah, mau begitu salah.

Ya rugi sekalilah kalau bobotoh dilarang main, kalau mau memberikan efek jera jangan seperti itu. Suporter tetangga juga berjalan perdamaian, tiba-tiba muncul sanksi yang tidak masuk akal.

Komdis juga tidak bisa memberikan sanksi yang sewajarnya. Kalau kerusuhan baru, ini mah kan di luar (area stadion).

Penulis:tim opsi.id

Editor :yudha

Sumber :opsi.id