News

SMA 1 Pasir Sakti Miliki Program Peduli Masyarakat Miskin

LAMPUNG TIMUR,Opsi.id -Kepala SMA I Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur, Joko Sumariono mengajarkan siswa-siswi memberantas kemiskinan untuk dimasukkan dalam ranah pendidikan.

Setiap sekolah, wajib memiliki program peduli masyarakat miskin.

Salah satu bentuk kegiatan itu adalah kewajiban sekolah agar mengajak para murid untuk mengunjungi kediaman warga yang kurang yang mampu.

Wacana ini dilaksanakan sebagai salah satu bentuk implementasi program Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan yang dibentuk kurang lebih 6 tahun lalu.

Wacana ini sudah terlaksana, kemungkinan akan menjadi satu-satunya sekolah yang menerapkan sistem pendidikan karakter melalui penanaman jiwa sosial kepada anak sekolah sejak dini.

Kegiatan dirancang secara sistematis dan logis. Sistematika kegiatan dapat disusun melalui penyusunan program berkelanjutan yang melibatkan semua dewan guru wali murid dan siswa-siswi.

Selanjutnya, program itu dideskripsikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan nyata yang langsung bersentuhan dengan siswa-siswi Tentu sudah terwujud secara nyata di lapangan.

Setelah rumah muruid dipantau, para dewan guru dan murid menyusun program yang nantinya dapat dijadikan alternatif, yaitu berbagai sistem yang diberikan secara langsung berupa matrial yang dibutuhkan, sistem pemberian bantuan yang dibayarkan secara tunai berdasarkan kebutuhan keluarga miskin.

Bantuan itu dapat berbentuk renovasi rumah, bantuan material bangunan, bantuan modal kerja, bantuan ternak bergulir, atau bantuan uang tunai.

Sistem keluarga asuh yaitu sistem pemberian bantuan yang dilakukan secara berkesinambungan.

Hal ini tidak hanya dilakukan menurut kebutuhan fisik, tetapi juga pemberian perhatian. Itu berarti bahwa hubungan sekolah dengan keluarga miskin perlu dijalin secara konsisten.

Oleh karena itu, Kepala sekolah, para guru berikut siswa-siswi SMA N 1 Pasir Sakti memberikan indikator-indikator kriteria keluarga miskin,yang akan dibantu berasal pendidikan di sekolah itu.

Jika keluarga sasaran sudah ditentukan, panitia kecil dapat melakukan survei awal untuk mengetahui kondisinya. Dari beberapa keluarga miskin yang diusulkan itu, akhirnya panitia kecil dapat memberikan skala prioritas berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

Dari tahapan itulah, keluarga miskin yang dijadikan sasaran dipilih secara objektif dan transparan.

Sumber Dana

Program pemberantasan kemiskinan merupakan program yang didominasi kegiatan pembangunan fisik sehingga memerlukan banyak dana.

Oleh karena itu, perlu dicari terobosan melalui penggalian dana. Hal ini perlu dilakukan karena sekolah dilarang melakukan pungutan kepada orang tua dan murid sejak diberikannya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA).

Beberapa terobosan yang dapat dilakukan pihak sekolah di antaranya adalah menggiatkan infak Jumat, penyisihan hasil usaha sekolah, serta gerakan peduli keluarga miskin.

Gerakan infak Jumat berbentuk mobilisasi infak sukarela bagi yang mampu per murid setiap Jumat. Selain itu, dana dapat dihimpun pula dari penyisihan hasil usaha sekolah, baik berasal dari usaha koperasi sekolah maupun koperasi simpan-pinjam yang dikelola para guru.

Dana dapat dihimpun pula dari gerakan peduli keluarga miskin yang digulirkan secara spontan. Ketika program pengentasan kemiskinan akan dilaksanakan, panitia kecil menyodorkan proposal kegiatan.

Berdasarkan estimasi kebutuhan dana, panitia kecil menghimpun dana melalui gerakan sumbangan suka-rela dari semua warga sekolah, yaitu para murid, guru, komite sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Program ini sangat bagus dan terpuji jika ditelisik dari tujuan dan dampaknya. Pemahaman kemiskinan kepada para murid tentu akan membekas dalam-dalam di sanubari mereka. Dengan mengunjungi keluarga miskin dan membantunya, para murid akan bersimpati dan berempati.

Selanjutnya, mereka akan bersyukur dengan kondisinya, belajar menjadi semakin giat, dan muncul keinginan untuk membantu si miskin. Ini adalah bentuk penanaman karakter secara langsung.

Bagi warga miskin, program ini pun memberikan keuntungan karena keluarganya akan terbantu. Lambat tetapi pasti, kondisi fisik dan ekonominya akan berubah menjadi lebih baik karena dibina sekolah.

Di sinilah akan terbentuk sinergisitas pelaksanaan program pembangunan pemerintah daerah dengan pembangunan karakter di sekolah. Sebuah gagasan cerdas yang layak dipertimbangkan oleh banyak kepala daerah lainnya. Fauzi

Penulis:Fauzi

Editor :Redaksi

Sumber :Opsi.id