coffeebreak

Dewan Rempah Indonesia JABAR : Mengembalikan Kejayaan Rempah-Rempah Petani Pekarangan

Dewan Rempah Indonesia JABAR sedang berkumpul sambil menikmati wedang rempah

141 total views, 5 views today

OPSI.ID,BEKASI
Berbicara tentang pertanian memang hal yang cukup familiar bagi mereka golongan yang pendapatannya di ba­wah rata-rata. Sebab di Indonesia banyak yang mengklaim bahwa pertanian hanya dilakukan oleh orang-orang berpendidikan rendah yang tentunya susah diterima be­kerja di beberapa perusahaan ternama.
Sehingga tidak punya pilihan selain meng­geluti bidang pertanian. Pertanian di Indonesia bisa dikatakan masih cukup memprihatinkan karena produk yang dihasilkan masih kalah saing dengan produk pertanian negara lain yang memasuki sektor pasar.
H. Mulyadi Syamsudin M. Si
Menuturkan Jika kita melihat lebih luas lagi misal­nya di negara Amerika bahwa pertanian tidak hanya digeluti mereka yang berpen­didikan rendah saja, namun mereka yang telah mengemban pendidikan tinggi bertahun-tahun pun juga ikut terlibat untuk bercocok tanam. Lalu kenapa di Indonesia masih begitu tinggi gengsi terjun di dunia pertanian ? terutama para kaum mu­da yang masih usia produktif dan melek akan teknologi.
Sebelumnya perlu untuk kita ketahui bahwa menjadi se­orang petani bisa dika­takan seorang pahlawan. Mengapa saya katakan demikian, karena kegiatan yang kita lakukan terutama yang berfokus pada tanaman pangan adalah meng­hasilkan bahan produk makanan yang bisa dikon­sumsi oleh orang banyak demi kelang­sungan hidupnya.
Dengan begitu kita telah menyelamatkan banyak jiwa dari pintu kelaparan yang bisa berujung pada kema­tian. Namun kadang nasib para pahlawan pangan ini sering terabaikan dan tidak di­perhitungkan di beberapa forum pemba­hasan masalah bangsa yang kerap dila­kukan di hotel-hotel berbintang. Mungkin ini bisa menjadi salah satu dari sekian banyak alasan pemuda Indonesia enggan terjun ke dunia pertanian.
Nah di Era digital saat ini atau lebih dikenal dengan revolusi industri 4.0 (four poin zero) Apakah kita masih “diam” dan “terlena” dengan gaya zaman sebelumnya yang masih banyak enggan terjun ke dunia pertanian hanya karena takut kotor dan berlumuran lumpur? Itu menjadi perta­nyaan besar bagi kaum muda-mudi kita seba­gai generasi penerus bangsa yang me­miliki banyak potensi untuk lebih kreaktif memanfaatkan teknologi, guna meng­gen­jot sektor pertanian saat ini. Waktu terus berlalu dan persaingan kian ketat baik ditingkat nasional maupun dikancah global. Generasi muda harusnya menjadi po­ros perubahan di segala bidang terutama kegiatan pertanian, karena mumpuni untuk memanfaatkan teknologi.
Marjuki S.IP,MM
Menyebutkan bahwa dalam situasi kekinian kecerdasan buatan, internet of things, robotic, big data dan big analy­sis menjadi sebuah keharusan bagi rata-rata seluruh negara agar tidak dikatakan mengalami ketertinggalan dari bangsa lain.
Memanfaatkan teknologi industri 4.0 sebe­nar­nya memacu kita untuk lebih kreatif dan berwawasan pro­duktif menga­dopsi gaya bertani zaman sebelumnya de­ngan memadukan teknologi baru/canggih
Pertambahan penduduk yang tidak dapat di bendung, tentu­nya mempengaruhi kebutuhan komoditas pertanian terutama pangan akan ber­banding lurus akan hal tersebut. Ini tentunya memaksa kita un­tuk melakukan pengembangan komoditas pertanian dengan cara memanfaatkan teknologi agar produk yang dihasilkan mencapai titik maksimal.
Sebenarnya potensi pembangunan bang­sa ini tidak cukup hanya mengha­rapkan dari sektor non pertanian saja se­perti pertambangan, migas (Minyak dan gas bumi) maupun pari­wisa­ta tetapi jika digarap lebih tajam lagi pertanian pasti berpotensi besar menyumbang devisa bagi bangsa kita.
Tak hanya itu saja komoditas pertanian lain yang sangat berpengaruh pada devisa negara meliputi rempah-rempah, kakao, karet, hingga kopi. Jika kita berkaca dari sejarah Indonesia bahwa dulu, banyak bangsa asing yang kaya raya akibat rem­pah-rempah dari Indonesia yang mempu­nyai nilai jual ting­gi. Ini menambah bukti bahwa sektor pertanian Indonesia tak bisa di pandang sebelah mata di tingkat global apabila di kelola dengan maksimal memadukan teknologi masa kini.
 Disaat situasi seperti ini seakan memberikan kita sinyal untuk lebih kreaktif dan inovatif dalam meningkatkan sumberdaya manusia de­ngan memadukan perkembangan revo­lusi industri 4.0 untuk membangun dan me­ngelola per­tanian yang berkelanjutan tanpa harus bergantung pada negara-negara lain. Sehingga dapat terwujud inde­penden (produk yang sebelumnya di im­por kelak dapat diproduksi sendiri, yang akan membanjiri pasar dalam negeri bahkan luar negeri dan tentunya menam­bah devisa bagi negara).
Hadirnya alat-alat canggih saat ini me­rupakan sesuatu yang tidak bisa dihin­darkan, namun menjadi peluang besar untuk memperbaiki sistem pertanian kita yang selama ini amburadul dan bahkan tidak mempunyai nilai jual di pasaran. Lebih mirisnya lagi masyarakat kita sendiri lebih menyukai produk eks­por dari luar negeri seperti gandum, karena ang­gapan lebih ber­mutu atau berkualitas jika kita sandingkan dengan singkong yang merupakan produk lokal.
Sudah saatnya kaum muda menjadi seorang yang produktif dan berguna bagi bangsa dan negara. Kita dikatakan bergu­na bagi bangsa tidak mesti menjadi PNS yang hanya sering memegang kertas dan pulpen saja. Tetapi jika kita mampu menyumbang ide kreatif dan gagasan yang ber­makna bagi mereka yang masih awam teknologi khususnya petani, sudah lebih dari sekedar pintar yang kebanyakan ujung-ujungnya me­ngam­bil hak rakyat.
*Petani Butuh Penyuluhan, Motifator, Bahkan Bapak dari petani*
 Melihat persoalan ini perlu pening­katan kualitas pendidikan non for­mal dengan peranan pe­nyuluhan. De­ngan demikian kehadiran para kaum terdidik sangat dibutuhkan dalam kegiatan penyuluhan bagi para petani. Sasaran utama penyulu­han dalam hal ini adalah petani se­bagai pelaku utama dan pelaku bis­nis agar terjadi kesinambungan de­ngan mitra usaha, baik usaha tani mau­pun usaha dagang. Me­reka bu­tuh penyuluhan untuk mengenali tek­nologi dalam men­dukung usaha tani mereka agar mencapai produksi mak­simum.
Tanpa kehadiran kaum terdidik yang terjun membuka wa­wasan para petani terutama dalam mengenalkan teknologi, nis­caya akan terjadi perubahan yang signifikan dari kegiatan per­tani­an kita. Pembangu­nan bidang pertanian yang kini di­ga­lakkan oleh pemerin­tahan patut kita apresiasi, meskipun ma­sih banyak kekurangan sana sini. Te­tapi komit­men dan semangat yang ting­­gi sangat dibutuhkan dalam men­­­capai cita-cita bangsa yaitu kesejahteraan. Hasrat tersebut kini di depan mata, tinggal bagaimana kita merespon dan mengikuti per­kem­bangan di segala bidang khususnya sektor pertanian.
Kita berharap pemerintah mena­ruh perhatian penuh dalam mengem­bangkan produksi pertanian kita, terutama mendorong generasi muda untuk menyumbang ide-ide kreatif dengan memadukan teknologi yang ada saat ini sehingga dapat tercapai eks­ternalitas produktivitas yang lebih besar lagi.

Penulis:Msk,kardono

Editor :Redaksi

Sumber :OPSI.ID