Regional

Kota Bandung jadi Penyumbang Jumlah Pengidap HIV/Aids Terbanyak di Jawa Barat

Ilustrasi HIV/Aids

OPSI.ID, Bandung – Angka baru pengidap HIV di Jawa Barat dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan, pada tahun 2015 sebanyak 4.500 orang, tahun 2016 sebanyak 5.400 orang, dan di tahun 2017 mencapai 5.800 orang.

Kota Bandung menjadi wilayah penyumbang teratas penularan HIV/AIDS di Jawa Barat, dengan angka sekitar 900 lebih, atau 18% dari 5.800 orang di tahun 2017.

“30 persen dari jumlah terinfeksi pada tahun 2017 adalah kelompok usia 15-24 tahun. Dari 30 persen, hampir 90 persen berada pada usia 20-24 tahun, itu artinya perilaku berisiko penularan dimulai dari usia dini,” tutur Iman Tedja Rachmana saat ditemui di RS Melinda 2 Bandung, Sabtu 3 November 2018.

Berdasarkan hal tersebut, maka Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Barat ingin menambah metode edukasi dan intervensi perilaku di kelompok usia muda. Salahsatunya dengan menggandeng kelompok profesi yakni Komunitas Kesehatan Jiwa Masyarakat Jawa Barat.

Untuk fokus mencegah dan merubah perilaku remaja yang berisiko tinggi penyebab penularan HIV/AIDS, melalui modul yang dimiliki oleh para dokter ahli jiwa, dapat mencegah perilaku berisiko pada remaja dilakukan melalui pengasuhan orang tua dan edukasi yang baik, sedangkan untuk merubah dengan psikoterapi dan dialectical behavior therapy.

“Karena penanggulangan HIV/AIDS semakin komplek, tidak bisa hanya melalui pendekatan yang sudah ada. Kenyataan angka itu semakin tinggi, mau tidak mau mulai menyempurnakan penanggulangan HIV dengan cara perubahan perilaku di kelompok anak muda,” kata Iman Tedja.

Iman mengatakan, selama ini KPA Jawa Barat terus melakukan sosialisasi, koordinasi, dan advokasi guna menekan angka pertumbuhan penularan HIV/AIDS.

 

Total Page Visits: 17 - Today Page Visits: 2

 

“Untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS, kita sudah lakukan mulai dari langkah paling ekstrim hingga langkah pendekatan yang soft terus kita lakukan. Yang ekstrim misalnya kita tidak bisa menghindari pada transaksi seksual, ya sudah intervensi yang melalui ketersedian alat kontrasepsi, minimal orang itu tidak membawa HIV itu ke rumah” ujarnya.

“Pencegahan soft atau mederatnya dengan mengajak kelompok atau komunitas-komunitas di kelompok muda merubah perilaku tidak berganti-ganti pasangan, atau melakukan sosialisasi kepada anak-anak untuk tidak coba-coba berhubungan seks,” katanya.

Penulis:suryadi

Editor :redaksi

Sumber :opsi.id