News Selasa, 20 Januari 2026 | 17:01

Banjir Datang, Masjid Jami’ Al-Munawwaroh Bergerak: Dapur Siaga Bencana dan Iman yang Bekerja

Lihat Foto Banjir Datang, Masjid Jami’ Al-Munawwaroh Bergerak: Dapur Siaga Bencana dan Iman yang Bekerja Masjid Jami’ Al-Munawwaroh. (Foto:Istimewa)

Bekasi – Banjir yang merendam Perumahan Graha Prima, Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, pada 18 Januari 2026, kembali menyingkap kenyataan pahit tentang krisis ekologi yang kian dekat dengan kehidupan warga. Air naik, aktivitas lumpuh, dan banyak rumah kehilangan fungsi paling dasarnya: dapur sebagai penopang kehidupan sehari-hari.

Di tengah situasi itu, Masjid Jami’ Al-Munawwaroh memilih untuk tidak diam. Dari ruang ibadah yang selama ini menjadi pusat spiritual jamaah, masjid ini mengoperasikan Dapur Umum Masjid yang difungsikan sebagai Dapur Siaga Bencana, melayani warga terdampak banjir di Graha Prima dan kawasan sekitarnya secara cepat dan terorganisir.

Sejak pagi hari, justru di saat masjid pun kebanjiran, relawan yang terdiri dari pengurus DKM, jamaah, dan warga sekitar Mangunjaya bergerak menyiapkan makanan.

Di balik kesederhanaannya, dapur ini memperlihatkan satu hal penting: masjid mampu menjalankan manajemen krisis nyata di tengah situasi darurat.

Ketua DKM Masjid Jami’ Al-Munawwaroh, Ust. Mohamad Miqdad, menegaskan bahwa beroperasinya dapur siaga bencana tersebut bukanlah aksi karitatif sesaat, melainkan ekspresi iman yang dipahami secara utuh.

“Bagi kami, iman tidak berhenti di mimbar dan sajadah. Iman harus bekerja, terutama ketika krisis ekologi seperti banjir ini datang. Jika masjid tetap sunyi saat warga kehilangan dapur dan ruang aman, maka ada yang keliru dalam cara kita memaknai agama,” ujarnya.

Menurut Ust. Miqdad, banjir yang melanda Graha Prima, Mangunjaya, Tambun Selatan ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan cermin dari relasi manusia yang rapuh dengan lingkungan.

Dalam konteks itu, masjid memiliki tanggung jawab untuk hadir sebagai institusi yang tidak hanya menenangkan secara spiritual, tetapi juga menguatkan secara sosial.

“Krisis ekologis tidak bisa dijawab hanya dengan khutbah tentang kesabaran. Ia menuntut kehadiran nyata, sistem kerja, dan manajemen krisis yang berpihak pada keselamatan manusia. Dapur siaga bencana ini adalah bentuk ibadah sosial yang paling jujur,” tegasnya.

Masjid Jami’ Al-Munawwaroh sejak beberapa tahun terakhir memosisikan diri sebagai masjid ekologis—masjid yang memahami bahwa penghambaan kepada Tuhan tidak terpisah dari tanggung jawab menjaga kehidupan dan lingkungan.

Prinsip itu menemukan bentuk konkret ketika banjir merendam wilayah permukiman dan masjid memilih membuka dapurnya bagi warga.

“Masjid seharusnya menjadi ruang paling aman saat krisis. Bukan hanya tempat berlindung spiritual, tetapi pusat koordinasi, solidaritas, dan ketahanan sosial. Dari dapur masjid inilah agama hadir dalam realitas sehari-hari,” kata Ust. Miqdad.

Bagi warga terdampak banjir di Graha Prima dan sekitarnya, kehadiran dapur umum ini bukan sekadar bantuan makanan. Ia menjadi penyangga psikologis dan sosial—pesan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi krisis. Bahwa ada institusi keagamaan yang bekerja secara nyata ketika keadaan genting.

Melalui pengelolaan dapur umum yang tertib dan berbasis gotong royong, Masjid Jami’ Al-Munawwaroh menunjukkan bahwa institusi keagamaan mampu bergerak cepat, adaptif, dan profesional dalam menghadapi bencana di tingkat komunitas.

“Ketika masjid mampu mengelola krisis dengan rapi dan manusiawi, di situlah iman menemukan bentuknya yang paling konkret. Agama tidak lagi sekadar dibicarakan, tetapi benar-benar dirasakan oleh warga yang terdampak,” pungkas Ust. Miqdad.

Dari dapur siaga bencana di Mangunjaya ini, satu pesan menguat: di tengah krisis ekologi yang kian sering terjadi di kawasan urban seperti Tambun Selatan, masjid memiliki peran strategis sebagai simpul kemanusiaan dan ketahanan sosial.

Masjid Jami’ Al-Munawwaroh membuktikan bahwa agama, ketika dikelola dengan kesadaran ekologis dan keberpihakan pada manusia, menjadi solusi yang bekerja di tengah kehidupan nyata.[] 

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya