Jakarta - Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengaku tidak pernah terpikirkan olehnya, proyek pembangunan monorel yang telah dikaji secara matang oleh para pakar transportasi sebagai solusi jangka panjang dalam mengatasi kemacetan di ibu kota, bakal mangkrak selama dua dekade.
Sutiyoso menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta selama dua periode, yakni pada 1997–2002 dan berlanjut pada 2002-2007.
Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menceritakan, pelbagai proyek transportasi umum, semula dikaji oleh pakar-pakar transportasi dari beberapa universitas, supaya bisa dibangun tanpa melibatkan investor dari luar negeri. Musababnya, kondisi sosial ekonomi nasional belum stabil pascareformasi 1998.
"Nah saya mulai yang tidak perlu investor ya, karena saat itu kondisi sosial ekonomi kita belum mapan akibat kerusuhan Mei tahun 98. Itu akibatnya amat panjang, terutama kepercayaan investor terhadap Indonesia lebih khusus lagi Jakarta," kata Sutiyoso di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Januari 2026.
Setelah melakukan studi banding terkait transportasi massal ke berbagai negara, salah satunya ke Bogota, Kolombia, Sutiyoso menemukan empat formula jitu rancangan jaringan transportasi makro ibu kota, untuk mengatasi persoalan kemacetan di Jakarta dengan membangun MRT bawah tanah, monorel, TransJakarta (busway), dan waterway.
"Jadi saya tanya kepada tim itu, `Ini moda apa yang enggak perlu investor?` Dijawab jelas `Busway, Pak` gitu. Oleh karena itu saya mulai dengan Busway. Ini dirancang secara terintegrasi, jalurnya ada masing-masing, tetapi terintegrasi sehingga rakyat Jakarta dan sekitarnya pasti dapat transportasi makro," kata Sutiyoso.
"Nah untuk mengejar kecepatan menanggulangi kemacetan ini, secara paralel kita bangun juga monorel gitu kan. Itu juga yang dibangun di Bogota dan Manila, Filipina, yang saya lihat juga di Bangkok, Thailand gitu kan," ujar dia lagi.
Sutiyoso mengatakan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri sempat berkomitmen untuk menjalankan idenya dalam pembangunan monorel di Jakarta. Sebab, saat itu pemerintah sudah berhasil mendatangkan investor dari China untuk menggeliatkan proyek tersebut.
"Nah oleh karena itu, pada 2004 supaya cepat bisa kita selesaikan dicanangkan oleh Presiden Megawati. Artinya, saat dicanangkan Presiden, itu berarti segala sesuatunya itu sudah ada gitu, rencananya jelas, investornya juga ada dari China gitu," ucapnya.
Dinas Bina Marga siap melakukan pembongkaran tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan pada Rabu, 14 Januari 2026. Foto: Morteza Syariati Albanna.
Namun, Sutiyoso kadung menyelesaikan jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2007, digantikan oleh Fauzi Bowo alias Foke. Setelah itu, otomatis ia tidak bertanggung jawab lagi atas keberlanjutan pembangunan proyek monorel.
"Nah, terus akibatnya saya tidak tahu terus mangkrak total jadi besi tua seperti ini yang merusak estetika kota. Tahun 2014 monorel ini diganti dengan LRT yang tidak ada rencana sebelumnya. Tentu gubernur waktu itu punya alasan yang saya tidak tahu ya," tutur Sutiyoso.
Menurut dia, hanya ada dua opsi terkait proyek monorel ini. Lanjutkan atau bongkar. Sementara di sisi bersamaan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menawarkan opsi pembongkaran total tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said dengan target selesai pada September 2026.
"Nah dalam kondisi seperti itu yang sudah dikatakan sudah puluhan tahun mangkrak dan jadi besi tua itu, harus ada satu keputusan. Nah, itu saya kira sudah ditawarkan oleh Gubernur Pramono, tidak bisa melanjutkan ya dibongkar. Itu pilihan yang paling buruk tetapi harus kita lakukan itu," ucap pria yang akrap disapa Bang Yos itu.
Dengan adanya groundbreaking pembongkaran tiang monorel pada Rabu hari ini, Sutiyoso mengapresiasi penuh keputusan dari Pemerintah Provinsi atau Pemprov DKI Jakarta di era DKI-1 Pramono Anung.
"Saya sekali lagi secara pribadi saya terima kasih, mudah-mudahan kalau saya lewat ini enggak sakit mata lagi saya. Kepastian itulah yang diberikan oleh Gubernur Pramono dan itu adalah keputusan yang paling tepat," katanya.
Sutiyoso berpesan agar tiang monorel di Jalan Asia Afrika Senayan juga dilakukan pembongkaran, demi perbaikan estetika kota.
"Saya berharap juga sampai di Senayan nanti juga ditertibkan," ujar Sutiyoso.