Pilihan Kamis, 02 Juni 2022 | 21:06

Hahomion, Ritual Doa dan Memotong Kerbau di Tepian Danau

Lihat Foto Hahomion, Ritual Doa dan Memotong Kerbau di Tepian Danau Acara Manguras Horbo atau memberkati kerbau yang akan disembelih agar orang yang memakannya sehat-sehat dalam ritual hahomion di Silahisabungan, Dairi, Sumatra Utara, Selasa, 22 Maret 2022. (Foto: Pemkab Dairi)
Editor: Tigor Munte

Dairi - Kabupaten Dairi di Sumatra Utara kaya bentangan alam nan indah dan budaya warisan leluhur. Salah satunya di Kecamatan Silahisabungan.

Anda tahu, di sana ada sebuah ritual adat yang secara turun temurun masih digelar sampai saat ini.

Ritual dimaksud adalah hahomion. Ritual adat ini dipimpin oleh Raja Taon atau Raja Bius yang ada di Silahisabungan.

Dalam menggelar ritual adat, mereka mengenakan pakaian adat lengkap, termasuk menggunakan ulos.

Hahomion adalah prosesi doa yang disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian berinteraksi dengan roh para leluhur.

Meminta agar hasil panen yang melimpah dan dijauhkan dari segala marabahaya.

“Manusia terdiri dari daging dan roh, daging akan mati tetapi roh tetap hidup. Makanya di acara ini, kita berkomunikasi dengan roh para leluhur,” kata Marsiso Sihaloho (70), salah satu tokoh masyarakat di sana saat mengikuti tradisi itu pada Maret 2022 lalu.

Ini diperkuat seorang Raja Bius di Silahisabungan, Libertus Pintubatu.

Libertus mengatakan, doa dan ritual yang dilakukan masyarakat Silahisabungan secara turun temurun ini untuk meminta agar hasil panen pertanian khususnya bawang merah dan perikanan dari danau melimpah.

Baca juga:

Desa Silalahi Dairi, di Sana Ada Air yang Bisa Sembuhkan Berbagai Penyakit

“Kita meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar hasil panen melimpah dan warga dijauhkan dari segala penyakit dan marabahaya,” kata Libertus.

Tradisi ini menurutnya sudah dilaksanakan sejak zaman dulu oleh para leluhur.

Dalam ritual ini dilakukan acara Manguras Horbo atau memberkati kerbau yang akan disembelih agar orang yang memakannya sehat-sehat.

Bupati Dairi dan Raja Bius di Silahisabungan pada acara ritual hahomion, Selasa, 22 Maret 2022. (Foto: Pemkab Dairi)

Ritual doa kepada para leluhur dan memotong kerbau dilakukan di Ruma Bolon Silalahi. Sangat sakral.

“Daging kerbau ini nantinya dimakan bersama dan sebagian dibagikan kepada warga melalui Raja Turpuk masing-masing,” kata Libertus.

Acara seperti ini biasanya dilaksanakan setiap tahun. Tahun 2022 digelar pada Selasa, 22 Maret lalu.

Baca juga:

Nikmati Kuliner dan Literasi Khas di Semesta Dairi Memanggil

Dihadiri Bupati Dairi Dr Eddy Keleng Ate Berutu. Dia mengikuti prosesi hahomion dengan tema `Martua Omaoma Pagabe Taon` di Tugu Silahisabungan Desa Silalahi 3.

Dalam acara tersebut hadir Raja Bius 1 dan Raja Bius 2, yakni Libertus Pintubatu dan Martua Sipayung. 

Bupati Eddy mengaku bersyukur bisa kembali melaksanakan prosesi hahomion yang kedua kalinya.

“Hahomion tahun ini adalah yang kedua kalinya. Tahun lalu kita lakukan di danau. Agenda hahomion ini akan menjadi agenda rutin masyarakat dan pemerintah," katanya.

Menurutnya, kegiatan ini sangat baik selain ritual adat tetapi juga untuk menarik wisatawan ke Silahisabungan.

Kecamatan Silahisabungan memang salah satu unggulan kepariwisataan karena merupakan bagian dari Kaldera Toba dan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).

Bupati Eddy berjanji akan memperbaiki sejumlah infrastruktur di daerah itu agar lebih mudah diakses wisatawan.

Bupati Eddy menyebut salah satu upaya mengenalkan Silahisabungan ke dunia internasional, melalui ulos Silalahi yang dibuat bukunya.

“Kita juga telah membuat buku pertama tentang ulos Silalahi. Ini untuk menunjukkan kepada dunia bahwa masyarakat Silalahi punya ulos. Kita akan gali antropologi dan budayanya,” katanya. []

 

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya