Pilihan Rabu, 03 Agustus 2022 | 13:08

Ita Siregar, Aktivis dan Penulis di Balik Suksesnya Festival Literasi Balige 2022

Lihat Foto Ita Siregar, Aktivis dan Penulis di Balik Suksesnya Festival Literasi Balige 2022 Ita Siregar, sastrawan berdarah Batak. (Foto: Facebook)
Editor: Tigor Munte Reporter: , Jumpa Manullang

Balige - Festival Literasi Balige 2022 sejak 21 Juli hingga 31 Juli di Kabupaten Toba, Sumatra Utara, terbilang sukses digelar. Sejumlah penulis, penyair, akademisi, dan praktisi literasi Tanah Air hadir di acara tersebut. 

Mereka hadir baik dalam bentuk diskusi berseri secara daring maupun kegiatan di lokasi yang dihadiri sejumlah sastrawan, seperti Saut Poltak Tambunan, Nestor Rico Tambun, dan penyair Saut Situmorang.

Figur atau sosok yang membuat acara itu sukses dan mendapat apresiasi, adalah Ita Siregar, yang juga pegiat literasi dan seorang penulis.

Ita bertutur kepada Opsi.id, awalnya festival ini digagas dan digelar. Ita semula ke Balige pada November 2019.

Dia menerima beasiswa residensi penulis dari Komite Buku Nasional (KBN) di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI atau Kemendikbud. Sebelumnya Ita tinggal di Jakarta.

"Saat itu aku ajukan proposalku ke KBN setelah membaca buku Uli Kozok utusan damai dalam kemelut perang, di dalamnya ada info Sisingamangaraja XII pernah berjumpa Nommensen. Jadi aku mau meriset perjumpaan kecil itu, di Balige dan Bakkara. Thompson Hs kasih aku informasi buku-buku yang harus dibaca berkenaan tema itu," kata Ita.

Menikmati sunset saat senja di pantai Desa Lumbangaol, Kecamatan Balige, Toba pada Jumat, 29 Juli 2022. (Foto: Opsi/Jumpa Manullang)

Ita bertemu banyak orang dan banyak cerita tentang Balige. Hingga dia terpukau dengan misteri kota Balige yang dinilainya minim dan miskin literasi.

"Aku suka kota ini. Mungil, segalanya ada, tapi kurang obrolan-obrolan sastra, buku, kegiatan seni dan lain-lain. Yang tadinya dua bulan, jadi tinggal lebih lama, sampai hari ini. Sudah lebih dua tahun di Balige, belum merasa tahu betul tentang karakter kota, tapi sedikit info sejarah kota," tuturnya.

Ita berujar, bicara kegiatan festival, sudah biasa dan suka bikin festival. Suka mempertemukan para penulis dan mendengarkan mereka bicara. 

"Susah memang merancang festival, tapi senang melakukannya. Perjumpaan orang-orang di festival, aku yakini akan menghasilkan sesuatu yang kreatif, entah apa," katanya.

Baca juga:

Profil 10 Penulis yang Terpilih Sebagai Pembicara di Festival Literasi Balige 2022

Pada Oktober 2021 silam, dia diminta untuk membantu bikin festival di Kepulauan Tahuna, Sulawesi Utara. Namanya Sangihe Writers and Readers Festival. 

"Dua minggu aku di sana. Kupikir, festival sama bisa dilakukan di Balige. Dengan tema berbeda tentu, sesuai isu lokal," bebernya.

"Pertama aku ketemu Chiko (Pasu Dame Pardede) kemudian Patrick Lumbanraja, aktivis di Balige, mengajak bikin festival. Mereka menyambut baik. Lalu ada Grace Doloksaribu, pegiat budaya dari Kemendikbud Ristek," imbuhnya.

Saat pertemuan itu, mereka berempat mencoba memikirkan tema dan bentuk festival, sampai lahir judul festival, yakni Festival Literasi Balige. Temanya, Memandang Danau Toba dari Balige.

"Salah satunya, Desa Lumbangaol jadi bahan ekskursi (jalan santai nikmati keindahan) FLB 2022," kata wanita lajang pengagum Mohammad Hatta, sang penulis kata bijak  "Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta tapi akan bercahaya dengan lilin-lilin di desa" itu.

Karya dan Aktivitas  

Lahir di Sukabumi, Jawa Barat. Lulus dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung pada tahun 1993. 

Pada tahun 2008 sampai 2009 bekerja di American Exchange Foundation. Pernah menulis di majalah Femina (2003-2008). 

Ita Siregar, bersama Binsar Sinambela, penjaga makam Sisingamangaraja XII Soposurung, Balige pada Jumat, 29 Juli 2022. (Foto: Opsi/Jumpa Manullang).

Ita menggagas festival Penulis dan Pembaca Kristiani pada 2010, Festival Sastra dan Rupa Kristiani di Jakarta (2018, 2020). 

Membantu penyelenggaraan pertemuan Pengarang Indonesia di Makassar (2012), Malam Federasi Teater Indonesia (2014, 2016, 2017), Temu Akbar (2014, 2018), Dialog Presiden dan Kebudayaan 2014, dan Ngopi Bareng Presiden 2016.

Lalu temu Mufakat Budaya Indonesia (2019) dan peserta Sangihe Writers and Readers Festival di Tahuna Sulawesi Utara tahun 2021.

Ita banyak menulis cerpen, puisi, dan novel seperti `Rahel Pergi ke Surga Sendiri`, terbit di Majalah Pesona 2017.

Baca juga:

Cerita Saut Situmorang soal Penyair Diusir, Dokter Diajak Makan Malam

Novel yang mengisahkan tentang kritik penerapan agama dan hidup sehari-hari, diapresiasi banyak orang. 

Dialihbahasakan ke bahasa Batak oleh Saut Poltak Tambunan, ditampilkan dalam bentuk  bahasa andung.

Buku puisi Ita berjudul `Ia Dinamai Perempuan` (2020), berisi 54 puisi tentang 54 perempuan dalam kitab suci dipuji oleh Benni Matindas, penulis dan pengajar filsafat, sebagai karya yang membumikan tokoh-tokoh Alkitab ke kemanusiaannya, dekat dengan keseharian.

Kemudian, `Novel Emeritus` (2011), kisah nyata seorang pendeta yang tujuh tahun jatuh dalam kegelapan.

Ita juga tercatat salah satu anggota dan pengurus Perkumpulan Penulis Indonesia Alinea Jakarta. []

 

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya