‎Jakarta - Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike mengaku masih menunggu laporan dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan jajaran yang hingga saat ini belum berkoordinasi dengan pihaknya terkait perencanaan hingga kebutuhan anggaran untuk pembangunan mega proyek Giant Sea Wall atau Tanggul Laut Raksasa di Teluk Jakarta.
Rencananya, pembangunan Giant Sea Wall akan dimulai pada September 2026 mendatang.
‎
‎"Kalau untuk tanggul laut (Giant Sea Wall) ini kan perencanaan yang sangat-sangat besar dan ini bersama dengan pemerintah pusat. Terkait alurnya atau mungkin perencanaan, yang pasti, apa yang disepakati bersama, terus terang kami di Komisi D ini belum disampaikan," kata Yuke Yurike saat ditemui di Gedung DPRD DKI Jakarta pada Rabu, 21 Januari 2026.
Apabila laporan terkait pembangunan Giant Sea Wall sudah dikantongi, maka Komisi D DPRD DKI akan menindaklanjuti, dengan menggodoknya di dalam rapat. Sebab, hanya dalam hitungan bulan, mega proyek era Presiden Prabowo Subianto ini mulai bergeliat.
‎
‎"Nah ini yang pastinya seperti apa yang memang sudah dikaji oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta? Nanti kami tunggu informasi lebih lanjut untuk dibahas di rapat kerja kami. Komisi D DKI memang belum disampaikan rencana yang sudah disepakati oleh pemerintah pusat," kata Yuke Yurike.
Kendati demikian, ia menyatakan siap mendukung langkah pemerintah dalam pembangunan proyek strategis nasional Giant Sea Wall di Teluk Jakarta.
‎"Kalau memang ternyata sudah disampaikan September ini akan berjalan, selama anggaran dan lain-lainnya mendukung, kita juga siap support," ujarnya.
‎
‎Yuke melihat manfaat dari pembangunan proyek tersebut, yakni upaya kesungguhan pemerintah dalam melindungi wilayah daratan Utara Jakarta dari risiko penurunan tanah.
‎
‎"Melihat kondisi penurunan tanah di Jakarta yang semakin tahun juga cukup signifikan, memang harus ada langkah-langkah antisipatif dan solutif, salah satunya adalah memang sudah direncanakan lama terkait Giant Sea Wall," ujar politisi PDI Perjuangan (PDIP) tersebut.
‎
‎Diharapkan, pembangunan Giant Sea Wall ini mampu meredam banjir rob yang terus-menerus melanda kawasan Jakarta Utara (Jakut).
‎
‎"Itu adalah salah satu upaya untuk kita bisa melindungi daratan Jakarta, khususnya di Jakarta Utara. Lalu juga ada cadangan air bersih dan kita bisa melindungi sehingga permukaan daratan yang ada di Utara Jakarta itu juga bisa terlindungi tidak semakin menurun," ucapnya menegaskan.
‎
‎Yuke Yurike memperkirakan, anggaran pembangunan Giant Sea Wall akan dikucurkan dari APBN dan APBD DKI Jakarta.
‎
‎"Kan terkait penganggaran ini juga akan ada yang ditanggung oleh pemerintah pusat, ada juga yang dari pemerintah provinsi di Jakarta," katanya.
‎
‎Yuke pun memprediksi, proyek pembangunan Giant Sea Wall ini akan memakan waktu yang panjang. Sebab, kajian fase I, dilakukan pembangunan mulai dari Banten hingga Cirebon.
‎
‎"Tapi pasti itu kan memerlukan waktu yang tidak sebentar ya, jadi memang harus dimulai, karena yang kita tahu kan rencananya sudah cukup lama," kata Yuke Yurike.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan proyek pengerjaan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa Pulau Jawa mulai digarap pada September 2026.
“Mau 12 kilometer atau 19 kilometer, Jakarta akan mengerjakan. Tetapi kapan dimulainya, rencananya secara konkret itu mulai bulan September tahun ini,” ujar Pramono di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Januari 2026. []