Medan - BNPB merilis data sementara korban akibat bencana banjir dan longsor di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara sampai Minggu, 30 November 2025 pukul 16.00 WIB.
Korban meninggal dunia ada sebanyak 6 jiwa, dalam pencarian 2 jiwa, luka-luka 9 dan sebanyak 2.200 warga mengungsi di posko serta rumah kerabat terdekat.
Hingga Minggu sore, tim gabungan terus fokus mencari dua warga yang masih dinyatakan hilang.
Terkait pengungsian, BNPB juga telah menyediakan tenda keluarga berukuran 4x6 kapasitas 8 orang di pos induk penanganan darurat Desa Panggugunan.
Adapun wilayah terdampak meliputi 31 desa dari 6 kecamatan, desa terisolir ada 2 karena akses masih tertutup material dan jembatan penghubung amblas.
Sementara untuk kerusakan material meliputi 51 unit rumah rusak berat, hanyut 22 unit, rusak sedang 7 unit, rusak ringan 90 unit, rumah rencana relokasi 2 unit, lahan pertanian terdampak seluas kurang lebih 768 hektare.
Berikutnya untuk infrastruktur umum meliputi jembatan hilang 2 unit, amblas 1 unit, jalan terdampak longsor ada 132 titik, jalan amblas 126 titik, rumah ibadah 1 unit.
Jalur dari Pulo Godang-Pakkat sampai ke Barus mulai terbuka dan dapat dilalui kendaraan setelah sebelumnya tertutup material longsor berupa tanah berlumpur dan bebatuan dalam dimensi yang cukup besar.
Empat alat berat telah dikerahkan untuk membuka jalur tersebut. Meski sudah dapat diakses, namun petugas tetap berjaga di lokasi untuk mengatur lalu lintas warga. Jika turun hujan, jalur kembali ditutup sementara dengan alasan keamanan dan keselamatan.
Dari pantauan visual di Desa Panggugunan, material longsor menutup jalur, lahan persawahan dan menghantam beberapa rumah termasuk satu rumah dua lantai yang kini tinggal bangunan lantai atasnya saja.
Batu-batu sebesar truk berserakan di samping kanan-kiri jalan. Lumpur yang masih basah menjadi hal yang dapat terlihat sekaligus menjadi saksi bisu bencana yang dipicu oleh faktor cuaca.
Selain proses pencarian dan pertolongan, prioritas penanganan darurat ini juga difokuskan pada perbaikan akses terputus, pemenuhan kebutuhan dasar dan permakanan.
BNPB juga telah menyarankan kepada Badan Geologi untuk mengkaji wilayah yang masuk dalam kategori rawan bencana banjir bandang dan tanah longsor.
"Kajian ini diperlukan sebagai rekomendasi untuk rencana relokasi geologi, dengan target setelah masa tanggap darurat berakhir," kata Abdul Muhari selaku Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. []