News Sabtu, 27 Desember 2025 | 13:12

Rizieq Shihab Tengarai Ada Pembisik Bohongi Prabowo sehingga Sumatra Bukan Bencana Nasional

Lihat Foto Rizieq Shihab Tengarai Ada Pembisik Bohongi Prabowo sehingga Sumatra Bukan Bencana Nasional Eks pentolan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab. (foto: YouTube).

Jakarta - Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menengarai adanya pembisik yang sengaja membohongi Presiden Prabowo Subianto sehingga sampai saat ini RI-1 tidak menetapkan peristiwa dahsyat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) sebagai Bencana Nasional.

"Enggak apa-apa enggak jadi bencana nasional, kalau betul-betul pemerintah kita sanggup, mampu, dan benar, bekerja ke bawah ‎silakan. Tapi kan ada yang lapor enak-enak saja sama presiden, bahkan presiden dibohongin saudara," kata Habib Rizieq dikutip dari video akun x/@BosPurwa pada Sabtu, 27 Desember 2025.

Salah satu contohnya, ujar dia, saat ada pejabat menyatakan listrik di titik bencana sudah menyala. Padahal, sesungguhnya masih padam. Di sisi bersamaan juga ada yang membisiki RI-1 perihal mayat korban bencana sudah klir tertangani, padahal masih banyak yang tertimbun alias belum dimakamkan.

"‎Pak listrik sudah nyala, ternyata belum nyala. Nanti lapor lagi pak presiden semua mayat sudah diurus, sudah dikubur, enggak ada mayat lagi, presiden percaya `oh kalau begitu sudah selesai selesai tidak usah ada bencana nasional`," ucap Habib Rizieq.

"‎Sementara masih banyak mayat yang belum ditemukan sampai saat ini saudara, yang tertimbun tadi Habib Hanif cerita di atas mimbar ada tiga desa itu berapa orang saudara, berapa KK," ujar dia menekankan.

Habib Rizieq lantas menyindir malunya pemerintah dalam hal menerima bantuan internasional hingga menetapkan peristiwa di penghujung November 2025 di Sumatra tersebut sebagai Bencana Nasional.

Namun, di sisi bersamaan pengumuman soal utang dengan negara lain diungkap ke publik tanpa rasa malu.

"Jadi sekali lagi saudara, bencana nasional enggak usah malu, kalau ngutang boleh malu,‎ utang triliunan enggak malu, menerima bantuan malu," ujar dia.

Habib Rizieq menceritakan, saat Presiden ke-2 RI Soeharto memimpin, ada peristiwa tsunami di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tak lama berselang setelah kejadian, langsung diumumkan ke dunia sebagai bencana nasional.

Menurut dia, positifnya penetapan bencana nasional ialah pemerintah dapat lebih fokus pada penanganan pascabencana.‎

‎"Tahun 1992 terjadi tsunami di NTT saudara, begitu terjadi tsunami Presiden Soeharto mendapatkan berita langsung diumumkan bencana nasional, selesai. Hanya dalam sekian minggu selesai, yang rusak dibangun Kembali, jalan dibangun kembali, jembatan dibangun kembali saudara, selesai enggak ada ribut-ribut," ucapnya.

Habib Rizieq pun merasakan langsung suasana bencana nasional dalam peristiwa tsunami di Aceh, saat itu diumumkan oleh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kala itu, ia bersama ribuan laskar FPI terjun ke lokasi bencana.

"Di tahun 2004 terjadi tsunami di Aceh saudara, hari ini terjadi tsunami saudara malam itu juga diumumkan oleh Presiden SBY sebagai bencana nasional. Besoknya ber ton-ton bantuan datang dari semua negara selesai, selesai rapi," ucapnya.

"‎Saya dengan kawan-kawan 1.300 laskar kita bawa dari Jakarta berangkat ke Aceh ikut kerja, bantuan luber dari mana-mana. Tapi sekarang saudara, giliran ada bantuan bilangnya enggak kita masih mampu. Dari mana mampu. Kalau mampu, jembatan sudah beres, kalau mampu, tuh mayat sudah selesai semua diangkat dalam waktu singkat. Jangan malu saudara," katanya.

Ia merasa tidak suka dengan sikap Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang diduga meremehkan kecilnya nilai bantuan dari Malaysia.

"Ada lagi menteri pakai meremehkan bantuan Malaysia tidak seberapa, sombongnya. Malaysia tetangga kita sudah beriktikad baik kirim bantuan sekecil apapun terima kasih. (Pejabat) enggak ada terima kasihnya pakai menyepelekan," tuturnya.

Maka itu ia mengimbau kepada seluruh jemaah FPI ataupun yayasan yang berafiliasi untuk tidak mengumumkan besaran penyaluran bantuan ke Sumatra agar tidak diremehkan oleh menteri tersebut.

"‎Jamaah nanti ini bantu untuk Aceh Rp1.000-Rp2.000 perak bagus, tapi jangan sampai menteri dengar. ‎Pokoknya masjid Madinah kirim-kirim saja jangan ngomong, jangan diberitain," ucapnya.

Habib Rizieq sampai saat ini mengaku berprasangka baik kepada Presiden Prabowo. Namun, ia menyoroti adanya pembisik di sekitar RI-1 yang membuat status Bencana Nasional tidak kunjung diumumkan. Padahal skala bencana ini sangat besar.

"Saya yakin beliau setuju ini dinyatakan sebagai bencana nasional. Apa yang menjadi persoalan ada pembisik-pembisik manusia di sekitar dia yang mempengaruhi presiden supaya jangan dinyatakan sebagai bencana nasional," katanya.

"‎Sampai saat ini Prabowo menyatakan tidak mau bencana nasional, di sini saya suuzon kepada orang-orang yang memberikan bisikan atau laporan asal bapak senang. ‎Di depan TV, depan wartawan, depan rakyat berani laporan asal bapak senang, walaupun harus bohong. Kalau depan TV berani bohong, apalagi di belakang TV," kata Habib Rizieq Shihab. []

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya