Jakarta - Anggota MPR RI Netty Prasetiyani Aher menilai terjadinya beberapa kasus hukum yang menyedot perhatian belakangan ini karena kurangnya pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Demikian disampaikan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang berlangsung di Cirebon, Sabtu, 24 September 2022.
"Kasus hukum yang menyedot perhatian publik seharusnya tidak terjadi jika Pancasila terinternalisasi dengan baik. Pancasila jangan hanya nyaring di mulut, tapi kosong di hati," sindir Netty seperti mengutip keterangan tertulisnya, Selasa, 27 September 2022.
Menurut dia, banyak kasus hukum menyeret sejumlah penegak hukum yang seharusnya jadi pengayom masyarakat.
"Kita meminta masyarakat taat hukum, sementara penegak hukumnya melanggar hukum. Bahkan kadang pelanggaran itu ditutupi dengan menggunakan sumber daya negara," ujarnya.
Dia berpandangan, upaya menanamkan nilai-nilai Pancasila di masyarakat membutuhkan kerja ekstra, serius, dan sungguh-sungguh.
"Pancasila itu diambil dari filosofi bangsa Indonesia yang bersendikan agama dan nilai-nilai budaya. Jadi, ber-Pancasila artinya berpegang pada nilai-nilai agama dan budaya yang lurus," tuturnya.
"Jangan sampai kita ke sana kemari menggaungkan Pancasila tapi kemudian melakukan pelanggaran hukum. Ramai berseru NKRI Harga Mati, NKRI Harga Mati, tapi di saat yang sama dengan serakah mengeruk habis sumber daya alam Indonesia," kata dia menambahkan.
Dia menegaskan, seharusnya nilai agama dan budaya benar-benar dijadikan etika berbangsa dan bernegara agar wujud ketahanan nasional dalam arti sebenarnya.
"Agama dan budaya mengajarkan kita untuk menjalani hidup yang lebih manusiawi. Nilai-nilai ini harus menjadi etika berbangsa dan bernegara. Dan harus diwujudkan dalam setiap tindakan saat mengambil peran di masyarakat," ucap Netty.[]