News Kamis, 01 Desember 2022 | 15:12

Sri Mulyani Tegaskan APBN Bekerja Keras Menjaga Pemulihan Ekonomi Nasional

Lihat Foto Sri Mulyani Tegaskan APBN Bekerja Keras Menjaga Pemulihan Ekonomi Nasional Menkeu Sri Mulyani dalam acara Penyerahan DIPA dan Buku Daftar Alokasi TKDD Tahun Anggaran 2023 di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 1 Desember 2022. (Foto: Humas Setkab)

Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan anggaran pendapatan belanja negara (APBN) telah bekerja keras dalam menjaga perekonomian nasional di tengah tantangan pandemi Covid-19 yang dihadapi sejak 2020 lalu.

Demikian disampaikan Menkeu dalam acara Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) Tahun Anggaran 2023, di Istana Negara, Jakarta.

"Indonesia alhamdulillah dapat menangani pandemi dan juga mengelola dampak secara sangat baik dibandingkan banyak negara-negara di dunia. APBN dalam hal ini menjadi instrumen yang luar biasa penting dan diandalkan," kata Sri Mulyani dalam keterangan tertulis Sekretariat Kabinet (Setkab), Kamis, 1 Desember 2022.

Dia mengungkapkan, pada tahun 2020 belanja APBN mencapai Rp 2.595,5 triliun dengan defisit yang melonjak akibat pandemi, mencapai Rp 947,7 triliun. 

Kemudian, di tahun 2021 belanja APBN meningkat menjadi Rp 2.786,4 triliun namun dengan defisit yang menurun tajam ke Rp 775,1 triliun. 

Dia berpandangan, penurunan defisit tersebut menandakan bahwa pandemi Covid-19 sudah mulai dapat dikelola dan perekonomian Indonesia mulai bangkit.

"Pada tahun 2022 ini kita akan membelanjakan Rp 3.106,4 triliun dan defisit diperkirakan akan turun lagi menjadi Rp 598 triliun. Ini menggambarkan bahwa dalam tiga tahun kita berhasil mengendalikan Covid-19, melindungi masyarakat, melindungi perekonomian, dan APBN secara bertahap juga mulai disehatkan kembali," ujarnya.

Selain itu, dia juga mengungkapkan bahwa perekonomian nasional Indonesia saat ini masih di dalam tren pemulihan positif yang tumbuh cukup kuat, yaitu tumbuh di atas 5 persen selama lima triwulan berturut-turut. 

Tren ini juga dikonfirmasi oleh berbagai indikator perekonomian seperti tingkat inflasi, neraca perdagangan, hingga indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur.

"Inflasi di Indonesia juga relatif moderat dibandingkan negara-negara lain di dunia yaitu pada level 5,71 persen pada bulan Oktober, turun dari 5,99 pada bulan September. Di sisi lain, dari sisi neraca perdagangan terjadi surplus selama 30 bulan berturut-turut dan indeks PMI yang tetap menunjukkan ekspansif dalam 14 bulan terakhir," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Menkeu menyampaikan apresiasi kepada DPR RI dan DPD RI yang telah memberikan dukungan di dalam perumusan kebijakan dan respons APBN di dalam situasi yang sulit akibat pandemi Covid-19 dan juga gejolak perekonomian global.

Baca juga: Akhir 2022, Sri Mulyani Minta Pemerintah Belanja Anggaran Sebesar Rp 537,2 Triliun

Baca juga: Optimis Hadapi Situasi Perekonomian Global, Jokowi: Indonesia Adalah Titik Terang

"Ini menghasilkan APBN yang responsif, tepat waktu, fleksibel, namun tetap efektif dan akuntabel di dalam menghadapi tantangan yang luar biasa yaitu pandemi dan konsekuensinya serta mengawal dan mempercepat proses pemulihan ekonomi yang sangat kompleks dan menghadapi gejolak-gejolak ekonomi global baru yang menantang saat ini," ucap Sri Mulyani.[]

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya