Pilihan Selasa, 31 Mei 2022 | 17:05

Melihat Keunikan Tiga Desa Wisata di Sumut yang Masuk 50 Besar ADWI 2022

Lihat Foto Melihat Keunikan Tiga Desa Wisata di Sumut yang Masuk 50 Besar ADWI 2022 Kampung Tigarihit di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. (Foto: KCM)
Editor: Tigor Munte

Medan - Ada tiga desa wisata di Sumatra Utara yang masuk penilaian 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (AWDI) 2022 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Diumumkan pada April 2022 lalu. Dari penilaian 500, 300, 100 hingga 50 desa.

Ketiga desa wisata tersebut berada di Kabupaten Simalungun, Kabupaten Serdang Bedagai, dan Kabupaten Nias Selatan.

1. Desa Buluh Duri

Desa Buluh Duri, salah satu dari 20 Desa di Kecamatan Sipispis dan dari 237 Desa di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Luas wilayahnya sekitar 1.906,11 hektare, dan terdiri dari tujuh dusun.
Jumlah penduduk Desa Buluh Duri 3.076 jiwa (890 KK), terdiri dari laki-laki 1.520 jiwa, perempuan 1.556 jiwa.

Arung jeram di Desa Buluh Duri, Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara. (Foto: Kemenparekraf)

Warganya berbagai macam suku berbaur menjadi satu dalam kehidupan masyarakat dan didominasi oleh suku Jawa.

Destinasi wisata unggulan desa ini berupa arung jeram (rafting), tepatnya di Dusun IV yang dialiri Sungai Bah Bolon.

Selain arung jeram, pengunjung juga dapat menikmati keindahan alam, berupa Bahgula Waterfall, Green Canyon, Magic Wall, Batu Boru Manzile, dan Batu Katak sepanjang perjalanan.


2. Desa Hilisimaetano

Desa Hilisimaetano adalah salah satu desa adat tertua di Kabupaten Nias Selatan.
Masih terdapat peninggalan sejarah di desa ini, seperti Batu Megalitik yang ada di jalan masuk desa.

Susunan rumah adat yang masih terpelihara, Lompat Batu dan atraksi budaya Famadaya Harimao, Maluaya (Tari Perang), Hoho, Fogale, dan Fo`ere.

Hilisimaetano merupakan Pusat Pemerintahan Kecamatan Maniamölö.

Jumlah penduduk Hilisimaetanö tahun 2021 adalah 1.968 jiwa dan masyarakat mayoritas bermata pencaharian sebagai petani (sawah, kebun karet, kebun kelapa, dll).

Hilisimaetanö juga merupakan salah satu lumbung padi terbesar yang ada di kepulauan Nias.

Berbagai atraksi pertunjukan seperti lompat batu masih lestari di Desa Hilisimaetanö, Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara. (Foto: Kemenparekraf)

Permukiman tradisional Desa Hilisimaetanö (Boto Mbanua) merupakan kampung yang terpanjang di seluruh Kepulauan Nias, terbentang sepanjang sekitar 500 meter.

Dari masa ke masa hingga sekarang, pusat negeri Maniamölö adalah Hilisimaetanö.
Sampai saat ini Desa Hilisimaetanö masih teguh menjaga nilai adat, dimana para Si’ulu (bangsawan) masih berfungsi sebagai pemangku kepemimpinan adat.

Si’ila (cendekiawan) menjadi tetua adat sebagai pemberi pertimbangan kepada bangsawan dan Sato/Fa’abanuasa (masyarakat umum) masih bekerja sama untuk menjaga Lakhömi Mbanua (marwah desa).

Desa Hilisimaetano masih terdapat banyak rumah adat tradisional, begitu pula dengan batu megalitik yang masih terjaga dengan baik.

Berbagai atraksi pertunjukan seperti tari perang, maena, mogaele, dan lompat batu juga masih lestari di desa ini.

Desa ini juga memiliki tradisi kerajinan tangan yang masih dilakukan sampai sekarang. Seperti Anyaman, Pahatan, Ukiran dan Pandai Besi (Manöfa).

3. Kampung Warna-Warni Tigarihit

Desa atau kampung yang berada di Kota Wisata Parapat, memiliki suguhan panorama alam Danau Toba.

Ada kuliner khas Parapat, joging trip, dan homestay memanjakan pengunjung untuk bersantai dan berlama lama di Desa Tigarihit. Kampung warna-warni terletak di tepian Danau Toba.

Tigarihit memiliki keunikan yang dapat dinikmati oleh para wisatawan baik lokal maupun non-lokal.

Desa atau Kampung Tigarihit di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. (Foto: Ist)

Salah satu keunikan yang dimiliki, yaitu para wisatawan dapat melihat pemandangan sunset dari beberapa tempat tertentu sembari menikmati secangkir kopi atau teh dan gorengan.

Selain pemandangan yang keren dari lokasi ini langsung ke Danau Toba, kampung ini juga bertingkat, seperti bentuk pemukiman di Italia.

Tatanan warna-warni akan menjadi spot terbaik turis untuk spot berfoto atau bahkan menginap semalam di homestay setempat.

Paling keren lagi kalau sudah sunset, pancaran sinarnya itu memantul langsung dari Danau Toba ke pemukiman ini.

Bagi Anda yang melakukan perjalanan jauh dari Medan-Balige-Tarutung, bisa singgah sebentar di lokasi ini bersantai sejenak sambil minum kopi.

Penilaian

Tim juri dari Kemenpareraf berikutnya masih akan meninjau langsung lokasi destinasi wisata tiga desa tersebut untuk melakukan penilaian sejumlah indikator. 

Tim penilai sendiri terdiri dari 8 Dewan Juri Kehormatan, 2 Dewan Juri Penggerak, dan 13 Dewan Juri Profesional. Diperkirakan jadwal penilaian Mei sampai September 2022.

Indikator penilaiannya nanti mencakup daya tarik pengunjung, homestay, suvenir, toilet umum, kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, digital dan konten kreatif, dan kelembagaan serta pengelolaan desa. []

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya