Nagekeo - Pemerintah Kabupaten (Pemda) Nagekeo resmi meluncurkan Aplikasi Nagekeo Satu Data (NSD) sebagai langkah strategis memperkuat tata kelola data pembangunan daerah, Selasa (30/12/2025) lalu.
Aplikasi ini menjadi fondasi penting transformasi digital pemerintahan, sejalan dengan kebijakan nasional Satu Data Indonesia.
Peluncuran NSD menandai komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan data yang akurat, terintegrasi, dan berkelanjutan, sebagai dasar utama perumusan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kepala BLUD SPAM Manggarai Timur, Fransiskus Y. Aga, hadir sebagai pemateri dari Natural Komputer Warat.
Ia turut berbagi pengalaman serta perspektif teknis terkait pengembangan sistem informasi dan integrasi data lintas sektor, sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan NSD ke depan.
Kolaborasi ini melibatkan Natural Komputer, perusahaan teknologi yang berlokasi di Warat, Kelurahan Satar Peot, Borong, Manggarai Timur, yang dipercaya mendukung pengembangan aplikasi NSD.
Sinergi tersebut mempertemukan kebutuhan pemerintah daerah dengan kapasitas pengembang lokal, termasuk kontribusi tenaga Full Stack Developer dalam perancangan dan penguatan sistem aplikasi.
Dalam forum tersebut, Fransiskus memaparkan peran strategis teknologi informasi dalam menjawab persoalan klasik pengelolaan data pembangunan daerah.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan publik sangat ditentukan oleh akurasi, konsistensi, dan keterhubungan data antar sektor.
“Aplikasi NSD tidak boleh berhenti sebagai proyek teknologi. Ia harus menjadi alat kerja harian pemerintah daerah, terutama di desa, agar data selalu hidup dan relevan dengan kondisi masyarakat,” tegas Fransiskus Y. Aga, Senin (5/12/2025).
Sebagai pemateri dari Natural Komputer Warat, Fransiskus menjelaskan bahwa NSD dirancang untuk mengintegrasikan berbagai sektor penting.
Seperti kependudukan, pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur, ke dalam satu sistem yang dikelola secara berjenjang dari desa hingga kabupaten.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan aparatur desa dalam proses pembaruan data.
Menurutnya, desa merupakan sumber utama data pembangunan, sehingga sistem digital harus mudah digunakan, adaptif, dan berkelanjutan.
“Jika desa dilibatkan secara aktif, maka pemerintah kabupaten tidak lagi bekerja berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan data riil yang terus diperbarui,” tambahnya.
Menurutnya, peluncuran aplikasi NSD ini sejalan dengan Perpres Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia dan PP Nomor 95 Tahun 2018 tentang SPBE, yang menegaskan digitalisasi sebagai keharusan dalam pelayanan publik.
“Regulasi ini menegaskan bahwa digitalisasi layanan publik dan pengelolaan data merupakan kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan. Di tengah keterbatasan infrastruktur fisik, kemajuan teknologi informasi dan jaringan internet hingga ke pelosok desa membuka peluang besar bagi pemerintah daerah untuk menghadirkan infrastruktur digital yang inklusif,”tuturnya.
Fransiskus juga menilai, kolaborasi dengan pengembang lokal tidak hanya mempercepat proses pengembangan aplikasi, tetapi juga menjamin keberlanjutan sistem di masa depan.
“Transformasi digital tidak selalu harus mahal. Yang terpenting adalah komitmen, kolaborasi, dan konsistensi dalam mengelola data,” ujarnya.
Melalui perannya sebagai pemateri, Fransiskus Aga berharap Aplikasi Nagekeo Satu Data dapat menjadi fondasi kuat bagi lahirnya kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran, transparan, dan berdampak langsung bagi masyarakat Nagekeo.
Penulis: Agustinus Ardi