Hiburan Minggu, 15 Februari 2026 | 16:02

Rambut Sewu: Satu Langkah Getih, Horor Ritual Jawa tentang Pilihan Kecil yang Berujung Kutukan Berdarah

Lihat Foto Rambut Sewu: Satu Langkah Getih, Horor Ritual Jawa tentang Pilihan Kecil yang Berujung Kutukan Berdarah Produser Zakir Rasyidin dan para pemain film
Editor: Yohanes Charles

CirebonFilm horor supranatural berjudul Rambut Sewu: Satu Langkah Getih menghadirkan kisah mencekam tentang sebuah keputusan sederhana yang justru menyeret seseorang ke dalam lingkaran kutukan mematikan. Cerita film ini mengangkat perpaduan ritual mistis, mitos lokal, serta tekanan psikologis yang perlahan menghantui kehidupan tokoh utamanya.

Produser film, Zakir Rasyidin, menjelaskan bahwa judul film tersebut menjadi representasi utama dari konflik cerita. Menurutnya, “Satu Langkah Getih” menggambarkan bagaimana satu pilihan keliru mampu membawa seseorang masuk ke dunia gelap yang penuh ritual, konsekuensi berdarah, dan perubahan hidup yang tak dapat kembali seperti semula.

Film ini menggabungkan unsur horor supranatural dengan sentuhan thriller psikologis guna menciptakan ketegangan emosional yang lebih kuat. Pendekatan tersebut dipilih untuk memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga intens secara dramatis.

Kisah berpusat pada Wulan, seorang perempuan yang pindah ke desa terpencil demi pekerjaan sekaligus merawat ibunya yang sakit. Ia kemudian menyewa sebuah rumah tua dengan harga murah tanpa mengetahui sejarah kelam yang tersimpan di dalamnya.

Sejak tinggal di rumah tersebut, Wulan mulai mengalami berbagai kejadian ganjil, mulai dari mimpi buruk berulang, kebiasaan berjalan saat tidur, hingga munculnya luka misterius di tubuhnya. Teror semakin nyata ketika terungkap bahwa rumah itu berkaitan dengan seorang gadis bernama Marni, yang arwahnya terikat dalam ritual hitam.

Arwah tersebut diyakini berusaha mengambil alih tubuh Wulan sebelum masa 40 hari berakhir. Dalam kondisi terdesak, Wulan dibantu seorang wartawan dan saksi masa lalu untuk mengungkap rahasia kelam sekaligus memutus kutukan sebelum semuanya terlambat.

Zakir mengungkapkan ide cerita lahir dari ketertarikannya pada mitos dan ritual Jawa yang masih hidup di tengah masyarakat, terutama kisah tentang perjanjian gaib yang selalu menuntut pengorbanan besar. Meski terinspirasi dari kepercayaan lokal, ia menegaskan film ini merupakan karya orisinal yang dikembangkan menjadi narasi fiksi sinematik.

Sejumlah aktor dipercaya menghidupkan karakter penting dalam film ini, di antaranya Wavi Zihan sebagai Wulan, Taskya Namya sebagai Marni, Yusuf Mahardika sebagai Damar, serta aktor senior Donny Alamsyah yang memerankan Suradi.

Pemilihan pemain dilakukan melalui diskusi panjang antara produser dan sutradara Hanny Saputra. Kesesuaian karakter, kemampuan akting, serta chemistry antar pemain menjadi pertimbangan utama dalam proses casting.

Para pemain juga menjalani rangkaian persiapan sebelum syuting, termasuk reading naskah, pendalaman karakter, latihan emosi, hingga blocking adegan untuk membangun hubungan antar tokoh agar terasa alami di layar.

Pengambilan gambar dilakukan di wilayah Tegal, Wonosobo, dan sekitarnya guna menghadirkan atmosfer desa dan hutan yang mendukung nuansa mencekam. Namun, lokasi terpencil serta faktor cuaca menjadi tantangan tersendiri selama proses produksi, ditambah adegan fisik yang cukup menguras energi para pemain.

Dari sisi visual, film ini mengusung pendekatan gelap, atmosferik, dan realistis. Teknik kamera dibuat lebih intim agar penonton dapat merasakan langsung teror yang dialami karakter utama.

Melalui film ini, Zakir berharap penonton tidak hanya merasakan ketegangan, tetapi juga menangkap pesan moral tentang konsekuensi dari jalan pintas yang ditempuh melalui cara-cara gelap, yang dampaknya dapat meluas hingga orang-orang di sekitarnya.

Saat ini produksi film masih berlangsung. Proses syuting dijadwalkan dimulai pada 25 Februari 2026 dan ditargetkan rampung pada 15 Maret 2026 dengan jadwal produksi yang intensif.

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya