News Kamis, 22 Juni 2023 | 17:06

Elektabilitas Anies Baswedan Terus Melemah

Lihat Foto Elektabilitas Anies Baswedan Terus Melemah Anies Baswedan bertemu Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Editor: Tigor Munte

Jakarta - Elektabilitas Anies Baswedan terus merosot dibandingkan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto sesuai hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

SMRC merilis hasil survei terkait dengan elektabilitas tokoh yang berpotensi menjadi calon presiden pada Pilpres 2024 pada Selasa, 20 Juni 2023 kemarin.

Hasilnya, bakal capres PDIP Ganjar Pranowo unggul dari Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.

Direktur riset SMRC Deni Irvani mengatakan, di kalangan pemilih kritis, dukungan pada Anies Baswedan 19,2 persen, Prabowo Subianto 33,5 persen, dan Ganjar Pranowo 37,9 persen.

Selisih suara Prabowo dan Ganjar tidak begitu jauh secara statistik karena kurang dari dua kali margin of error 3,3 persen (selisih di bawah 6,6 persen).

Sementara suara Anies berbeda signifikan dengan kedua bakal calon presiden tersebut.

BACA JUGA: Walau Digoda PDIP, Demokrat Tetap Solid Dukung Anies Baswedan di Pilpres 2024

Menurut Deni, dalam enam bulan terakhir, kesukaan pemilih kepada Anies cenderung makin lemah. 

Hal itu menjadi salah satu penjelas mengapa elektabilitas Anies cenderung melemah dalam periode ini.

“Sementara Ganjar dan Prabowo terus bersaing ketat dengan dukungan yang relatif seimbang,” ujar Deni dilansir dari aktual, Kamis, 22 Juni 2023.

Pemilihan sampel dalam survei ini dilakukan melalui metode random digit dialing (RDD). RDD adalah teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak.

Survei terakhir dilakukan pada 30-31 Mei 2023 dengan sampel sebanyak 909 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak.

Margin of error survei diperkirakan ±3.3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling. 

Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih.

Deni menjelaskan bahwa “pemilih kritis” adalah pemilih yang punya akses ke sumber-sumber informasi sosial-politik secara lebih baik karena mereka memiliki telepon atau cellphone sehingga bisa mengakses internet untuk mengetahui dan bersikap terhadap berita-berita sosial-politik.

Mereka umumnya adalah pemilih kelas menengah bawah ke kelas atas, lebih berpendidikan, dan cenderung tinggal di perkotaan. 

Mereka juga cenderung lebih bisa mempengaruhi opini kelompok pemilih di bawahnya. 

"Total pemilih kritis ini secara nasional diperkirakan 80 persen,” ujar Deni. []

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya