Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Banten Andra Soni menyaksikan Penandatanganan Nota Kesepahaman "Studi Potensi Kontribusi MRT Lintas Timur Barat Fase 2 (Kembangan-Balaraja)" di Balairung, Balai Kota Jakarta pada Rabu, 4 Februari 2026.
"Hari ini kita mencatat sejarah penting kerja sama antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan Pemprov DKI Jakarta untuk pengembangan MRT," kata Pramono Anung saat konferensi pers di Balai Kota Jakarta pada Rabu, 4 Februari 2026.
Pramono berpendapat, Penandatanganan Nota Kesepahaman transportasi kereta modern yang menyambungkan wilayah Jakarta dengan Banten sepanjang 30 kilometer (Km) ini akan memudahkan bagi PT MRT Jakarta (Perseroda) dalam hal pengembangan Transit-Oriented Development (TOD) di sejumlah titik dekat stasiun.
"Pasti akan dilakukan bersama-sama oleh pengembang," kata politisi PDI Perjuangan (PDIP) itu.
Menurut Pramono, apabila proyek pengembangan MRT ini berjalan sesuai rencana, maka akan menguntungkan pihak Pemprov DKI Jakarta, Pemerintah Tangerang, Pemerintah Banten, MRT, hingga pihak pengembang.
"Ini semacam simbiosis mutualisme, saling menguntungkan antara Pemerintah Jakarta, Pemerintah Banten, pengembang, dan MRT sendiri dalam hal pembiayaan dan sebagainya," ujar dia.
Pramono menekankan bahwa Rute MRT Lin Utara-Selatan, yakni Bundaran Hotel Indonesia (HI) - Lebak Bulus berhasil terwujud atas partisipasi sejumlah institusi internasional hingga Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Pramono tidak memungkiri akan menggunakan strategi yang sama untuk pembangunan MRT Lintas Timur Barat Fase 2 (Kembangan-Balaraja) sepanjang 30 kilometer.
"Akan kami lakukan yang sama untuk mengembangkan fase 2 Kembangan-Balaraja yang akan segera kita persiapkan, kita matangkan, termasuk studinya," ujarnya.
Pramono menaruh harapan besar, proyek MRT Kembangan-Balaraja ini sudah bisa dimulai pembangunannya dalam 1-2 tahun ke depan.
"Kalau itu bisa dilakukan akan sangat baik bagi Jakarta, Banten, dan tentunya bagi transportasi yang ada di Indonesia," kata Pramono Anung.
Transportasi umum kereta MRT Jakarta siap mengangkut penumpang di Stasiun ASEAN. Foto: Morteza Syariati Albanna.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan proyek transportasi massal MRT Kembangan-Balaraja yang terintegrasi ini sebetulnya sudah dicita-citakan sejak lama, untuk mengurai kemacetan akibat banyaknya pekerja yang menggunakan kendaraan pribadi.
"Dirancang oleh Provinsi Jakarta, tentu bermanfaat kepada pemerintah Provinsi Banten. Kami berbatasan langsung dengan ibu kota dan warga kami sebagian besar itu bekerja di Jakarta dan pada malam hari mereka kembali ke jam-jam tersebut, maka kemacetan terjadi juga di tempat kami," ucapnya.
Baginya, dengan keberadaan transportasi massal ini akan membuat gaya hidup masyarakat menjadi tumbuh dan berkembang, khususnya di wilayah perbatasan Jakarta.
"Terima kasih sekali lagi pada seluruh pihak atas terlaksananya MoU ini," tuturnya.
Sementara, Direktur Utama (Dirut) PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat optimistis keberadaan proyek MRT Lintas Timur Barat Fase 2 (Kembangan-Balaraja) dapat mengoptimalkan pengembangan kawasan TOD.
Sebab, ini merupakan koridor yang sangat strategis, menghubungkan kawasan industri serta dapat menjadi pusat pertumbuhan baru di sekitar Jakarta dan Banten.
"Kami punya tanggung jawab dengan radius 700 meter dari stasiun," ucapnya.
Tuhiyat menekankan, MRT mengambil inisiatif untuk membantu pemerintah selaku pemilik proyek, dalam hal mendorong konektivitas dan efisiensi. Ia berharap studi ini turut membantu Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Ia tidak menampik, proyek ini dapat terwujud berkat sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta.
"MRT Jakarta bersama para pengembang ingin mendorong konsep TOD yang tidak hanya berorientasi pada mobilitas, tetapi pada kualitas hidup," ujar Tuhiyat. []