Jakarta – Grup musik Primitive Monkey Noose resmi merilis ulang lagu rakyat legendaris asal Kalimantan Selatan, “Ampar Ampar Pisang”. Rilisan ini hadir melalui kerja sama dengan demajors dan menawarkan interpretasi baru yang lebih reflektif, kontemplatif, serta relevan dengan kehidupan modern.
Selama ini, “Ampar Ampar Pisang” dikenal luas sebagai lagu rakyat yang identik dengan dunia anak-anak, ringan, riang, dan penuh permainan bunyi. Namun, dalam versi terbaru ini, Primitive Monkey Noose menghadirkan tafsir berbeda dengan menjadikan lagu tersebut sebagai metafora kehidupan.
Richy Petroza, vokalis band, menegaskan bahwa ada pesan tersembunyi yang ingin mereka soroti.
“Bahwa sesuatu yang ‘dihampar’—entah itu harapan, hubungan, atau perjalanan hidup—tidak selalu hancur karena badai besar, melainkan justru sering runtuh akibat kelalaian kecil yang terus dibiarkan,” ucapnya.
Pesan tersebut diperkuat oleh pernyataan Juli Yusman, drummer Primitive Monkey Noose. “Pesan yang kami bawa dalam versi ini mencoba mengajak pendengar melihat kembali hal-hal sederhana yang selama ini dianggap sepele, padahal justru menjadi pondasi penting dalam kehidupan,” jelasnya.
Dengan pendekatan musikal khas yang memadukan nuansa punk-rock, ketukan menghentak, dan dinamika nada yang intens, Primitive Monkey Noose berhasil mengubah lagu tradisional ini menjadi ruang refleksi yang lebih dalam.
Aransemen musik yang cepat dan energik memberi dimensi baru, menjadikan Ampar Ampar Pisang bukan sekadar nostalgia, melainkan juga ajakan untuk merenung.
Rilisan ini tidak hanya berfungsi sebagai penghormatan terhadap warisan budaya, tetapi juga sebagai upaya reinterpretasi berani. Primitive Monkey Noose membawa lagu rakyat ke ranah makna yang lebih gelap, jujur, dan relevan dengan kondisi manusia modern.
Single “Ampar Ampar Pisang” versi Primitive Monkey Noose resmi dirilis pada 22 Mei 2026 dan sudah tersedia di berbagai platform streaming digital, termasuk Spotify, YouTube Music, TikTok Music, Apple Music, dan Langit Musik. []

