Cirebon – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon terus memperkuat aspek keselamatan di perlintasan sebidang dengan meningkatkan kompetensi dan kedisiplinan para petugas penjaga perlintasan.
Langkah tersebut dilakukan melalui pelatihan bagi pekerja yang mendukung tugas penjagaan perlintasan sebidang. Sebanyak 112 peserta mengikuti kegiatan yang digelar dalam dua batch, mulai Rabu (26/8) hingga Kamis (3/9).
Materi pelatihan tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis penjagaan perlintasan, tetapi juga mencakup keselamatan kerja serta penerapan Standard Operating Procedure (SOP) dalam menjalankan tugas.
Manager Humas KAI Daop 3 Cirebon Muhibbuddin mengatakan, kesiapan petugas menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan keselamatan di perlintasan sebidang.
“Keselamatan di perlintasan sebidang tidak hanya bergantung pada sarana dan prasarana, tetapi juga pada kesiapan dan kedisiplinan petugas yang menjalankan tugas di lapangan,” ujar Muhibbuddin.
Menurutnya, petugas harus mampu menjalankan setiap prosedur penjagaan secara tepat dan konsisten. Karena itu, peningkatan kapasitas menjadi bagian penting dari upaya KAI menjaga keselamatan perjalanan kereta api sekaligus masyarakat pengguna jalan.
“Karena itu, KAI Daop 3 Cirebon terus mengoptimalkan kompetensi petugas agar setiap prosedur penjagaan perlintasan dapat dijalankan secara tepat, disiplin, dan konsisten,” katanya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga memperoleh materi mengenai identitas, nilai-nilai, dan budaya perusahaan. Selain itu, wawasan kebangsaan turut diperkuat melalui penerapan nilai-nilai Wawasan Nusantara.
Muhibbuddin menyebut, pembekalan tersebut diharapkan mampu membentuk pekerja yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mempunyai integritas dan rasa tanggung jawab tinggi.
“Kami berharap para peserta tidak hanya memiliki kemampuan teknis yang baik, tetapi juga memiliki karakter yang tangguh, integritas, rasa tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan kerja,” ucapnya.
Ia menegaskan, kepatuhan terhadap SOP harus menjadi bagian dari kebiasaan setiap petugas ketika menjalankan tugas di lapangan.
“Kedisiplinan dan kepatuhan terhadap SOP harus menjadi budaya dalam setiap pelaksanaan tugas karena keselamatan merupakan tanggung jawab bersama,” imbuh Muhibbuddin.
Selain aspek teknis, para peserta juga diberikan pemahaman mengenai kewaspadaan terhadap potensi ancaman yang dapat mengganggu keamanan di lingkungan kerja.
Mereka dibekali kemampuan untuk mengenali potensi risiko sejak dini sehingga dapat mengambil langkah pencegahan dan menjaga kondisi lingkungan kerja tetap aman.
“Kewaspadaan bukan berarti menciptakan rasa takut, melainkan membangun kepedulian dan kemampuan untuk mengenali potensi risiko sejak dini,” jelas Muhibbuddin.
Ia menambahkan, pemahaman tersebut diharapkan dapat mendorong seluruh pekerja berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman sekaligus mendukung kelancaran operasional kereta api.

