Jakarta – Institut Teknologi PLN (ITPLN) berperan aktif dalam upaya pemberantasan demam berdarah dengue (DBD) dengan memfasilitasi pengembangbiakan nyamuk ber-Wolbachia di lingkungan kampus.
Program orang tua asuh (OTA) Wolbachia tersebut menjadi bagian dari upaya pengendalian DBD sekaligus mendukung pemantauan populasi nyamuk di kawasan kampus ITPLN, Jakarta Barat.
Manajer Humas dan Stakeholder ITPLN, Abdul Farid mengatakan pihak kampus menyambut baik program tersebut dan berkomitmen mendukung pelaksanaannya secara berkelanjutan.
“ITPLN menyambut baik dan berperan aktif dalam mendukung upaya pengendalian DBD di Jakarta Barat, khususnya di lingkungan kampus. Kami memfasilitasi pelaksanaan program OTA Wolbachia ini untuk memastikan media pengembangbiakan nyamuk Wolbachia terpelihara dengan baik serta dapat dipantau secara berkala,” ujar Farid dalam keterangannya pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurut Farid, keterlibatan ITPLN tidak sebatas menyediakan lokasi, tetapi juga memastikan sarana yang digunakan dalam program tersebut mendapatkan perawatan sesuai kebutuhan.
“Kami akan terus mendukung pemantauan dan pemeliharaan fasilitas pengembangbiakan Wolbachia di lingkungan kampus. Kolaborasi antara ITPLN, kelurahan dan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat merupakan langkah penting untuk meningkatkan kesadaran serta memperkuat upaya pencegahan DBD di lingkungan kampus dan masyarakat sekitar,” katanya.
Farid menambahkan, pemantauan berkala menunjukkan perkembangan nyamuk Wolbachia di sejumlah wadah yang ditempatkan di lingkungan kampus berjalan dengan baik. Saat ini terdapat 13 wadah pengembangbiakan yang dipantau di kawasan ITPLN.
“Perawatan dilakukan secara berkala, antara lain dengan mengganti air, membersihkan wadah, serta menambahkan kembali media dan pakan untuk mendukung perkembangan telur hingga menjadi nyamuk dewasa,” ungkapnya.
Pemantauan Dinas Kesehatan
Petugas Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Dinda Nara mengatakan pemantauan di ITPLN telah dilakukan beberapa kali. Setiap kunjungan dilakukan pengisian kembali media pengembangbiakan sekaligus penghitungan selongsong pupa untuk mengetahui perkembangan nyamuk dewasa.
“Ini sudah empat kali kami melakukan pemantauan di sini. Setiap kali datang, kami melakukan pengisian kembali media dan menghitung selongsong pupa skin. Dari hasil pemantauan hari ini, nyamuknya sudah berkembang dan sebagian sudah terbang. Dari tiga ember sampel, kami hitung selongsong pupa skin ada yang mencapai 221, 336, 238 pupa. Artinya, Wolbachia di ITPLN berhasil berkembang dengan baik,” ungkapnya.
Dinda menjelaskan, Wolbachia merupakan nama bakteri yang secara alami dapat ditemukan pada sejumlah serangga. Dalam program pengendalian DBD, bakteri tersebut digunakan untuk membantu menekan kemampuan nyamuk Aedes aegypti dalam menularkan virus dengue.
Proses pengembangbiakan dimulai dari telur yang ditempatkan pada media tertentu. Telur kemudian menetas menjadi larva atau jentik, berkembang melalui beberapa tahap, lalu berubah menjadi pupa sebelum menjadi nyamuk dewasa. Siklus tersebut dipantau secara berkala oleh petugas.
“Setelah telur menetas menjadi jentik, proses perkembangannya berlangsung hingga menjadi pupa dan kemudian nyamuk dewasa. Kami melakukan penghitungan selongsong pupa untuk melihat keberhasilan perkembangan nyamuk. Parameternya, apabila jumlah selongsong sudah lebih dari 100, berarti perkembangannya dinilai baik,” ujar Dinda.
Dari pemantauan terhadap tiga wadah yang diperiksa, Dinda menyebut jumlah selongsong pupa berada di atas 200. Bahkan, salah satu wadah tercatat mencapai sekitar 300 selongsong. Setelah pemeriksaan, wadah dibersihkan dan diisi kembali untuk melanjutkan siklus pengembangbiakan.
Program tersebut, kata Dinda, tidak hanya dijalankan di ITPLN. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat juga melakukan pemantauan di sejumlah wilayah dengan pendekatan bertahap karena keterbatasan sumber daya manusia.
“Untuk Jakarta Barat, program ini saat ini sudah berjalan di Kecamatan Kembangan dan sedang berjalan di Kecamatan Cengkareng,” kata Dinda.
Menurut Dinda, karakteristik wilayah turut memengaruhi pelaksanaan program. Kecamatan Cengkareng, misalnya, membutuhkan waktu lebih panjang karena jumlah kasus dan kepadatan wilayah yang harus dipantau cukup tinggi. Sementara di wilayah tertentu, koordinasi dengan kelurahan, RW, dan puskesmas dapat dilakukan lebih cepat.
Di ITPLN sendiri, pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan wadah pengembangbiakan tetap berfungsi dan perkembangan nyamuk berjalan sesuai target. Program tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam menekan risiko penularan DBD di lingkungan kampus dan kawasan sekitarnya. []


