Makassar, OPSI.ID – Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Awal Chairuddin tengah menyiapkan program pembinaan bagi anak pelaku geng motor dan tawuran. Untuk awal, 16 pelaku geng motor dan tawuran di Kota Makassar akan dikirim Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua, Makassar.
Rencana Kapolda Sulsel tersebut mirip dengan apa yang dilakukan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yakni program barak militer untuk remaja bermasalah. Diharapkan dengan rencana tersebut anak pelaku kejahatan bisa ada perubahan pola pikir, serta upaya membuka akses pekerjaan bagi para pemuda agar tidak kembali terlibat dalam aksi kekerasan.
“Langkah tersebut diharapkan menjadi upaya pencegahan sekaligus memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memperbaiki perilaku dan menjalani aktivitas yang lebih positif,” ujarnya kepada wartawan di Mapolda Sulsel, Rabu (21/10).
Untuk tahap awal, rencana 16 pelaku perang kelompok dan geng motor yang sudah ditangkap akan menjalani program tersebut di SPN Batua selama 5-7 hari.
“Enam belas orang yang diduga sebagai leader atau pemimpin para kelompok-kelompok tadi sudah kita amankan dan data. Saya menginginkan mereka setelah itu ada perubahan sikap. Kalau memang hal-hal yang sifatnya penting diharapkan pada pembinaan,” kata Awal.
Awal mengatakan nantinya program tersebut akan diawasi oleh RT/RW dan lurah. Tak hanya itu, orang tua pun akan dilibatkan untuk pembinaan.
“Orang tua, ketua RT/RW, hingga lurah setempat diharapkan mengetahui dan turut mengawasi perkembangan para pemuda selama menjalani pembinaan,” tuturnya.
Selain itu, kepolisian melalui Direktorat Pembinaan Masyarakat (Binmas) berkoordinasi dengan pihak SPN untuk menyiapkan sertifikat kesadaran diri bagi peserta.
Awal Chairuddin menegaskan, penanganan kelompok pembuat onar tidak cukup dilakukan melalui pengamanan dan penegakan hukum.
Ia menyoroti kebiasaan sebagian pemuda yang mudah terpancing ajakan atau provokasi melalui media sosial hingga terlibat dalam aksi keributan.
“Selama ini mungkin berpikir keras, cepat emosi dengan undangan di medsos itu. Tidak pikir nanti ada korban jiwa, ada korban harta benda,” beber Awal.
Melalui pembinaan tersebut, kepolisian berharap para peserta dapat memahami risiko dari tindakan kekerasan dan tidak mengulangi perbuatannya.
“Kami harapkan mereka bisa menjadi agen di kelompok-kelompok itu, supaya tidak melakukan lagi perbuatan seperti itu (tawuran dan geng motor). Ini suatu langkah terobosan yang saya pikirkan,” kata dia.
Sementara itu, Kapolrestabes Makassar, Komisaris Besar Arya Perdana, mengungkapkan bahwa sebagian besar pelaku yang diamankan dalam penertiban merupakan anak di bawah umur. Dari penangkapan awal terhadap 19 orang, sebanyak 18 orang di antaranya masih berstatus anak-anak dan hanya satu orang dewasa.
”Tindakan represif dan penegakan hukum tetap kami lakukan. Seluruh pelaku yang ditangkap diproses hukum sesuai perannya masing-masing dan tidak ada penangguhan penahanan,” tegas Arya Perdana.
Selain penegakan hukum, Polrestabes Makassar juga mengedepankan langkah preventif dengan melibatkan unsur pemerintah daerah hingga tingkat kelurahan. Kegiatan sosialisasi dan dialog Kamtibmas dijadwalkan secara rutin di titik-titik rawan persimpangan jalan.
Guna menyelesaikan akar masalah, kepolisian juga berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk menyediakan program pelatihan kerja bagi usia produktif guna mengurangi angka pengangguran yang memicu kenakalan remaja.
Sekadar diketahui dalam sebulan terakhir, masyarakat Kota Makassar diteror kasus geng motor dan perang kelompok. Berdasarkan data polisi, setidaknya tiga orang meninggal dunia dan puluhan orang ditangkap.[]


