Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Tapi Kelas Menengah Terus Tergerus

‎Jakarta – Ekonom dan Dosen Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyoroti kondisi perekonomian Indonesia di era pemerintahan Prabowo Subianto yang menurutnya menunjukkan paradoks.

‎Sebab, pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 5 persen. Akan tetapi, menurut dia, masyarakat belum merasakan dampak positif pertumbuhan tersebut secara nyata.

‎Dalam paparannya bertajuk “Akan Dibawa ke Mana Ekonomi Kita?” pada Konferensi Republik di Padang, Senin, 31 Agustus 2026, Wijayanto menyebut ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II dan 5,45 persen pada semester I.

‎Namun, capaian pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupan masyarakat.

‎“Ekonomi 2026 moncer, tumbuh 5,29 persen (Q2 YoY) dan 5,45 persen (H1 YoY),” demikian poin yang disampaikan Wijayanto dalam paparannya.

‎Dia mengatakan masyarakat justru menghadapi sejumlah persoalan mulai dari biaya hidup yang semakin tinggi, lapangan pekerjaan yang lebih sulit diperoleh, meningkatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), hingga tabungan rakyat yang semakin menipis.

‎Wijayanto juga menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai kesenjangan antara data dan realitas.

Ia mencatat, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tidak selalu mampu menggambarkan kualitas kehidupan masyarakat.

‎Dia mengutip pandangan ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, bahwa GDP tidak mengukur berbagai hal yang membuat kehidupan layak untuk dijalani.

‎“Kualitas pertumbuhan ekonomi buruk, terdapat gap antara data dan realita,” ujarnya.

‎10 Persen Teratas Belum Tentu Sejahtera

‎Wijayanto kemudian menyoroti Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Menurutnya, data tersebut semakin memperlihatkan persoalan distribusi kesejahteraan di Indonesia.

‎Dia menyoroti kelompok masyarakat yang masuk Desil 10, yakni 10 persen kelompok paling sejahtera. Di sisi bersamaan, masih terdapat banyak masyarakat dalam kelompok tersebut yang berpendapatan di bawah Rp7 juta per bulan.

‎Kondisi itu, kata dia, menunjukkan bahwa sebagian kelompok yang secara statistik masuk kategori paling sejahtera masih membutuhkan subsidi dan bantuan sosial.

‎Wijayanto menilai kondisi tersebut berpotensi menunjukkan bahwa persoalan ketimpangan dan kemiskinan di Indonesia lebih besar dibandingkan angka resmi yang selama ini digunakan.

‎Dia juga membandingkan hal itu dengan angka resmi Gini Ratio sebesar 0,368 serta tingkat kemiskinan sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,4 juta orang.

‎Kelas Menengah Terus Tergerus

‎Salah satu perhatian utama Wijayanto adalah kondisi kelas menengah. Dia mencatat sepanjang 2019-2025, perekonomian Indonesia tumbuh rata-rata mendekati 5 persen per tahun. ‎Namun, pertumbuhan tersebut tidak diikuti peningkatan pendapatan riil yang berarti.

Pada periode yang sama, jumlah kelas menengah disebut turun dari sekitar 57 juta orang menjadi 47 juta orang, sementara jumlah penduduk bertambah sekitar 13 juta.

‎Wijayanto juga menyebut pekerja formal dengan pendapatan di atas upah minimum provinsi (UMP) hanya sekitar 26 juta orang.

‎Sementara itu, sekitar 60-70 persen masyarakat bekerja di sektor informal, yang menurutnya memiliki ketidakpastian pendapatan lebih tinggi.

‎Dia juga menggunakan standar garis kemiskinan Bank Dunia sebagai pembanding. Dengan standar pengeluaran setara Rp1,5 juta per kapita per bulan yang tercantum dalam paparannya, Wijayanto menyebut tingkat kemiskinan bisa berada di atas 60 persen.

‎”Angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan standar pembanding yang berbeda, sehingga tidak dapat disamakan langsung dengan angka kemiskinan resmi BPS,” kata Wijayanto Samirin. []

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI

News Anchor Bongkar Cerita di Balik Layar TV

Jakarta - Sederet pembaca berita alias news...

Video Bokep 19 Detik di Emperan Toko Magelang, Viral di Media Sosial

Jakarta - Sebuah video bokep berdurasi 19 detik berisi...

Foto: Achmad Megantara, Perankan Rangga di Sinetron Dewi Rindu

Jakarta - Aktor muda Achmad Megantara didaulat untuk berperan...

Dihina Gurunya, Siswi SMP di Medan Didatangi Polisi

Medan - Seorang siswi SMP Negeri 28 Kota Medan,...

Kembali Berulah, Dua Residivis Maling di Mamuju Ditangkap Polisi

Mamuju - Kembali berulah, dua residivis maling, EG dan...

Singgahi PSF Pancoran, Iwan Fals Lempar Gagasan Agar PSSI Gelar Liga Tarkam

Jakarta - Kehadiran musisi legendaris tanah air, Virgiawan Listianto,...

Maknai Dua Dekade Perjalanan, Ten2Five Rilis Single Happy Song

Jakarta - Menjaga eksistensi dan konsistensi di dalam industri...

Kementerian PKP: Sampai 15 Oktober, Pembangunan dan Peningkatan Kualitas Rumah Capai 1.790.081 Unit

Jakarta – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar...

Jokowi Hadir Tanpa Pidato di Rakorda PSI Bogor, Kader Disebut Tetap Bersemangat

BOGOR, Opsi.id – Kehadiran Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko...

Aguero Menepi hingga 3 Laga, PSM dapat Kabar Baik soal Dušan Lagator

Lampung, OPSI.ID - PSM Makassar dipastikan tidak diperkuat Sergio...

Stefan Jevtoski Ungkap Kunci PSM Makassar untuk Taklukkan Bhayangkara FC

Lampung, OPSI.ID - Gelandang PSM Makassar, Stefan Jevtoski, menegaskan...

PSM Makassar Bidik Rekor Bhayangkara FC, Darije Wanti-wanti soal Kartu Merah

Lampung, OPSI.ID - PSM Makassar terus menyiapkan persiapan menjelang...

Pdt Lindu Tambunan Resmi Dilantik Jadi Bishop HKIP Periode 2026-2031

PEMATANGSIANTAR, Opsi.id – Pdt Lindu Tambunan STh MM resmi...

Berita Terbaru

Popular Categories