Jakarta – Unit synthwave/darkwave/post-punk Temarram resmi meluncurkan album penuh perdananya berjudul “Antara Angkara” pada 11 September 2026.
Album ini menjadi tonggak penting perjalanan mereka setelah lima tahun berkarya sejak terbentuk pada 2021, dengan formasi Regga Prakarso pada gitar dan programmed synthesizer, Sherina Redjo sebagai vokalis, serta Tanthowi pada bass.
Album berisi delapan lagu ini menghadirkan narasi musikal yang membawa pendengar ke dalam lorong keruntuhan diri, sebuah ruang reflektif di mana kehidupan memaksa manusia bersimpuh dan meratap serpihan yang tertinggal, yaitu kehidupan, ketiadaan, harapan, serta penyesalan.
Perjalanan menuju album ini sebelumnya telah dibuka melalui perilisan single “Pusara” pada 2025, yang menjadi pengantar atmosfer kelam sekaligus emosional dari karya penuh mereka.
“Album ini adalah katarsis. Kami ingin pendengar merasakan bagaimana ambisi, harapan, dan penyesalan bisa saling bertabrakan, lalu menemukan ruang untuk menerima,” ujar Temarram dalam pernyataan resmi.
Eksplorasi musikal Temarram dalam album ini turut diwujudkan melalui kolaborasi dengan sejumlah musisi yang membawa karakter berbeda. Otong Koil menghadirkan nuansa mencekam dalam “Afeksi dan Mati”, sementara Gerry Lainil Fauzi dari Dirty Ass menambahkan energi amarah melalui “Aksioma”.
Pandu Fuzztoni dipercaya sebagai produser sekaligus kolaborator, menghadirkan pendekatan produksi yang lebih lepas dari batas-batas sebelumnya tanpa meninggalkan karakter Temarram. Pandu juga turut menyumbangkan isian gitar penuh noise sebagai twist dalam “Pengakhiran Permulaan”.
“Kolaborasi ini memberi nyawa baru bagi Temarram. Setiap musisi membawa energi berbeda, dan itu membuat album ini lebih hidup,” ungkap Regga Prakarso.
Dalam “Antara Angkara”, Temarram menghadirkan rangkaian lagu yang saling berkaitan. “Dan Kau Terlunta” membuka perjalanan dengan penyesalan atas ambisi yang menghancurkan kehidupan. “Reruntuh” menggambarkan mimpi-mimpi yang dirampas oleh rutinitas, sementara “Aksioma (feat. Gerry Lainil Fauzi)” menyuarakan amarah dari sebuah hubungan dan perpisahan.
Lagu “Pusara” menjadi titik balik yang menghadirkan kesadaran bahwa manusia kerap memasung diri pada petaka yang diciptakan sendiri. Refleksi berlanjut melalui “Tak Tergenggam”, yang berbicara tentang kenyataan bahwa kehidupan hanya dapat dimiliki sebagian orang.
Nomor “Semesta Semesta” memberi secercah harapan di tengah kehancuran, sebelum “Afeksi dan Mati (feat. Otong Koil)” kembali menegaskan kegetiran realita. Album ditutup dengan “Pengakhiran Permulaan”, sebuah penerimaan bahwa setiap akhir akan membuka permulaan baru.
Selain musik, Temarram juga menaruh perhatian besar pada aspek visual. Untuk karya sampul album, mereka bekerja sama dengan seniman asal Finlandia, Suvi Karjalainen.
Suvi menerjemahkan “Antara Angkara” sebagai sebuah ruang tempat manusia bersimpuh, sebuah gambaran yang dekat dengan isi album, yakni manusia yang berhenti sejenak di hadapan segala sesuatu yang telah runtuh, tanpa benar-benar tahu apa yang harus dilakukan setelahnya.
Sejak terbentuk pada 2021, Temarram menjadikan musik sebagai katarsis atas sisi rapuh kehidupan. Mereka sebelumnya telah merilis EP “Montase” pada 2022, “Selubung Abadi” pada 2023, serta single “Pusara” pada 2025.
Album penuh “Antara Angkara” menjadi penanda perjalanan baru mereka, sebuah karya yang menemukan napas baru di antara reruntuhan kehidupan.
Kini, “Antara Angkara” sudah tersedia di berbagai platform musik digital, menghadirkan pengalaman mendalam bagi para pendengar yang ingin merasakan perpaduan synthwave, darkwave, dan post-punk dengan narasi emosional yang kuat. []

