JAKARTA, Opsi.id – Reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026 memunculkan beragam tafsir politik.
Salah satunya datang dari I Gede Pasek Suardika melalui tulisan yang diunggah di akun Facebook pribadinya, Jumat (2/10/1026).
Dalam tulisannya, eks anggota DPD RI itu menyebut reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif Presiden.
Namun, menurut dia, perubahan susunan kabinet tetap menarik dianalisis karena dapat memberikan gambaran mengenai arah konsolidasi kekuasaan pemerintahan Prabowo.
Pasek mengawali analisisnya dengan menyoroti keputusan Presiden melakukan pelantikan pada 1 Oktober, yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.
Menurut dia, pemilihan tanggal tersebut menarik untuk dicermati dari perspektif simbol politik.
Ia mempertanyakan apakah penetapan 1 Oktober sekadar kebetulan atau memiliki pesan tertentu mengenai kekuasaan, stabilitas pemerintahan dan peringatan terhadap berbagai bentuk gerakan politik yang dapat mengganggu pemerintahan.
“Adakah ini kebetulan atau simbol jika yang sakti itu Presiden?” tulis Pasek dalam unggahannya.
Pasek kemudian mengarahkan perhatiannya pada pergantian Kapolri.
Menurut dia, perubahan tersebut menjadi salah satu bagian paling menarik dalam membaca peta kekuasaan baru.
Listyo Sigit Prabowo yang sebelumnya menjabat Kapolri ditempatkan sebagai Kepala Staf Presiden (KSP), sementara posisi Kapolri diisi Suyudi Ario Seto.
Pasek menilai perpindahan tersebut dapat dibaca sebagai perubahan posisi strategis karena karakter jabatan KSP berbeda dengan Kapolri yang memiliki struktur komando hingga ke daerah.
Ia juga mengaitkan pergantian tersebut dengan latar belakang keluarga Suyudi Ario Seto.
Menurut Pasek, hubungan keluarga dengan tokoh senior kepolisian pada masa pemerintahan Presiden Megawati dapat menjadi salah satu bahan pembacaan politik.
Soroti Konsolidasi Kekuasaan
Dalam bagian lain tulisannya, Pasek melihat reshuffle sebagai kemungkinan bagian dari konsolidasi kekuasaan Presiden Prabowo.
Ia menilai masuknya sejumlah tokoh berlatar belakang militer dan kepolisian ke dalam pemerintahan memperlihatkan semakin kuatnya peran unsur keamanan dalam kabinet.
Pasek menyebut nama Dudung Abdurachman, Mohamad Saleh Mustafa dan Dedi Prasetyo sebagai bagian dari formasi baru yang menurutnya menarik untuk dicermati.
Ia bahkan membandingkan konfigurasi tersebut dengan pola kekuasaan masa lalu, meskipun perbandingan tersebut tetap menjadi bagian dari analisis politiknya.
“Formasi menambah jaringan militer ke kabinet semakin membuktikan format kekuasaan Prabowo,” tulis Pasek.
Pergantian Menteri Keuangan
Pergantian Menteri Keuangan juga menjadi sorotan.
Purbaya Yudhi Sadewa digantikan Suahasil Nazara.
Menurut Pasek, perubahan tersebut penting karena Kementerian Keuangan merupakan salah satu pusat pengambilan keputusan strategis pemerintah, terutama dalam pengelolaan APBN dan kebijakan fiskal.
Ia juga menyoroti masuknya Luki Alfirman sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Luki disebutnya salah satu sosok yang meloloskan pembelian mobil listrik yang belakangan bermasalah secara hukum dan menjadi korban pencopotan Purbaya kala masih Menkeu.

