Cirebon – Insiden kesehatan yang dialami sejumlah penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon turut berdampak pada tenaga pendidik. Sebanyak 35 guru dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG yang dipasok SPPG 05 Kalijaga.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Cirebon, terutama terkait keterlibatan guru dalam pelaksanaan program MBG. PGRI menilai, tugas tambahan yang dijalankan guru, mulai dari menerima dan membagikan makanan hingga mengawasi siswa saat makan, perlu mendapat evaluasi agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Ketua PGRI Kota Cirebon, Eka Noviyanto, menegaskan bahwa guru bukan tenaga ahli gizi yang memiliki kompetensi khusus untuk menilai keamanan pangan. Karena itu, pemeriksaan kelayakan makanan sebelum didistribusikan ke sekolah dinilai perlu menjadi tanggung jawab pihak penyedia.
“Guru bukan tenaga ahli gizi. Jadi, tanggung jawab untuk memastikan makanan layak dikonsumsi seharusnya berada pada pihak SPPG sebelum menu didistribusikan ke sekolah,” ujar Eka.
Menurut Eka, pelaksanaan program MBG juga menyita waktu guru karena melibatkan sejumlah kegiatan di luar pembelajaran. Aktivitas tersebut mencakup penerimaan makanan, pembagian kepada siswa, pengawasan saat makan, hingga pengembalian wadah makanan.
PGRI menilai pembagian tugas yang jelas antara penyelenggara program dan pihak sekolah diperlukan agar pelaksanaan MBG tidak menambah beban kerja guru secara berlebihan. Organisasi tersebut juga mendorong adanya kesepakatan lintas lembaga untuk memperjelas tanggung jawab setiap pihak.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap anggotanya yang terdampak gangguan kesehatan, PGRI Kota Cirebon memberikan santunan untuk membantu meringankan beban mereka. PGRI juga menyediakan vitamin guna mendukung pemulihan kondisi tubuh para guru.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon mengapresiasi langkah PGRI yang memberikan perhatian langsung kepada tenaga pendidik terdampak. Sehari sebelumnya, PGRI Provinsi Jawa Barat juga telah memberikan bantuan kepada guru yang mengalami gangguan kesehatan dalam peristiwa tersebut.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, para guru terdampak berasal dari lima taman kanak-kanak (TK) dan dua sekolah dasar (SD). PGRI bersama Dinas Pendidikan Kota Cirebon mendatangi sekolah-sekolah tersebut untuk memberikan dukungan kepada tenaga pendidik.
Selain menyoroti beban kerja guru, PGRI meminta agar pengawasan terhadap mutu dan keamanan pangan dalam program MBG diperhatikan secara ketat. Pemeriksaan sebelum makanan didistribusikan ke sekolah dinilai penting untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan pada penerima manfaat.
PGRI juga mendorong koordinasi yang lebih baik antara penyelenggara program, penyedia makanan, dan pihak sekolah, terutama dalam pembagian tanggung jawab serta pelaksanaan tugas di lingkungan pendidikan.

