Cirebon – Kemampuan mengelola keuangan dan mengenali risiko investasi menjadi bekal penting bagi santri di tengah pesatnya perkembangan layanan keuangan digital. Selain memperkuat pemahaman agama, santri juga didorong memiliki literasi finansial agar mampu mengatur pengeluaran, memilih layanan keuangan yang aman, serta terhindar dari penipuan berkedok investasi.
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam Seminar Digital Finance: Building Financially Wise Santri bertema Santri Masa Kini Cerdas Spiritual, Cakap Finansial yang digelar di Aula Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan yang dihadiri Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026. Seminar tersebut diinisiasi Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Cirebon bersama OJK Cirebon untuk memperluas pemahaman santri mengenai pengelolaan keuangan dan perkembangan layanan finansial digital.
Siti Farida menilai, kecakapan finansial perlu berjalan beriringan dengan pendidikan spiritual agar santri mampu menghadapi perubahan zaman dan mengambil keputusan secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
“Pemerintah Kota Cirebon berharap kegiatan ini dapat membangun paradigma baru bahwa santri masa kini harus paripurna, cerdas secara spiritual sekaligus cakap secara finansial. Keduanya perlu berjalan beriringan agar santri mampu menghadapi tantangan zaman dan mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Siti Farida.
Menurutnya, kemudahan akses layanan keuangan melalui teknologi harus diimbangi dengan pengetahuan yang memadai. Tanpa pemahaman yang baik, masyarakat berisiko terjebak pinjaman online ilegal, penipuan keuangan, hingga investasi yang menawarkan keuntungan tidak masuk akal.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil keputusan. Nilai-nilai yang dipelajari di pesantren, seperti tabayyun atau memastikan kebenaran informasi serta qana’ah yang mengajarkan sikap merasa cukup, dinilai relevan untuk menghadapi berbagai tawaran finansial di ruang digital.
“Santri memiliki bekal nilai yang sangat kuat untuk bersikap kritis dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Jika nilai-nilai tersebut dipadukan dengan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan digital, saya yakin santri akan lebih mampu mengenali risiko dan tidak mudah tergiur oleh iming-iming keuntungan yang tidak masuk akal,” tuturnya.
Siti Farida berharap materi yang disampaikan dalam seminar tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Para peserta juga diharapkan dapat meneruskan pemahaman tersebut kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Jadikan forum ini sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan, bukan hanya dalam memahami instrumen keuangan, tetapi juga dalam membangun kebiasaan mengelola uang secara bijak. Kita ingin generasi muda Kota Cirebon memiliki daya saing, mampu mengambil keputusan secara rasional, dan tetap berpegang pada nilai-nilai yang baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala OJK Cirebon Agus Munthalib menjelaskan, seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan yang berlangsung sepanjang Oktober 2026. OJK menggandeng pemerintah daerah dan komunitas pemuda untuk memperkenalkan berbagai produk serta layanan keuangan, termasuk instrumen investasi di pasar modal dan keuangan syariah.
Agus menilai, santri merupakan kelompok strategis untuk mendapatkan edukasi finansial. Dengan tradisi keislaman dan keberadaan pondok pesantren yang kuat, Kota Cirebon dinilai memiliki potensi untuk melahirkan generasi yang mampu mengintegrasikan nilai agama dengan kecakapan sosial dan ekonomi.
Ia menjelaskan, para santri nantinya akan kembali ke tengah masyarakat dan menghadapi berbagai kebutuhan hidup, mulai dari memenuhi kebutuhan pribadi hingga membangun keluarga. Karena itu, pemahaman mengenai perencanaan keuangan, pengendalian pengeluaran, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan perlu diperkenalkan sejak dini.
“Harapan kami, santri tidak hanya memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga melek finansial. Ketika kembali ke masyarakat dan mulai menjalani kehidupan mandiri, mereka sudah memahami bagaimana mengelola keuangan dengan baik, mengenali risiko, dan menentukan pilihan yang sesuai dengan kemampuan mereka,” kata Agus.
Selain mengajarkan pengelolaan keuangan, OJK juga menekankan pentingnya kehati-hatian sebelum menempatkan dana pada instrumen investasi. Masyarakat diminta memeriksa legalitas pihak yang menawarkan produk, memahami mekanisme investasi, serta mempelajari potensi risiko yang menyertainya.
Agus mengingatkan, tawaran keuntungan tinggi dalam waktu singkat perlu dicermati secara kritis. Informasi yang beredar melalui media sosial maupun ajakan dari pihak yang belum jelas kredibilitasnya tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan finansial.
Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi melalui sumber resmi dan memastikan layanan yang digunakan sesuai dengan ketentuan serta pengawasan berdasarkan jenis produk keuangannya.
Perlindungan data pribadi juga menjadi perhatian dalam edukasi tersebut. Di tengah meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital, santri dan mahasiswa diharapkan menjaga kerahasiaan informasi pribadi serta menggunakan akun media sosial secara bijak agar tidak disalahgunakan oleh pihak lain.
Dalam seminar itu, peserta turut diperkenalkan dengan sejumlah instrumen investasi, termasuk reksa dana. Pengenalan tersebut diharapkan membantu santri memahami karakteristik produk, potensi keuntungan, risiko, serta pentingnya memilih penyedia layanan yang legal.
Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Cirebon Nur Akhadah mengatakan, seminar tersebut merupakan bagian dari program Bidang Ekonomi Fatayat NU yang diselaraskan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026.
Menurutnya, edukasi keuangan dibutuhkan agar santri memiliki kesiapan menghadapi perkembangan teknologi sekaligus mampu merencanakan masa depan secara lebih matang.
“Kami ingin santri tidak hanya memiliki pemahaman yang kuat dalam ilmu agama, termasuk mampu membaca kitab kuning, tetapi juga siap menghadapi perkembangan zaman. Literasi keuangan perlu dikenalkan agar mereka bisa mengelola uang dengan bijak, memahami risiko, dan tidak mudah terpengaruh tawaran yang belum jelas kebenarannya,” ujar Nur Akhadah.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut diikuti perwakilan santri dari sekitar 20 pondok pesantren di Kota Cirebon. Para peserta diharapkan dapat membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan-rekan di pesantren masing-masing sehingga edukasi mengenai pengelolaan keuangan dan kewaspadaan terhadap penipuan finansial dapat menjangkau lebih banyak kalangan.

