Jakarta – Dunia modern, khususnya bagi mereka yang hidup dan bekerja di kawasan megapolitan seperti Jakarta, sering kali digambarkan sebagai arena perlombaan tanpa garis akhir. Setiap pagi, jutaan manusia berbondong-bondong memadati jalan raya, kereta rel listrik, hingga halte bus dengan satu tujuan: mencari penghidupan.
Namun, di balik angka-angka target perusahaan yang harus tercapai dan laporan keuangan yang menumpuk, tersimpan sebuah narasi kelelahan psikologis yang jarang diangkat ke permukaan secara jujur.
Kelelahan ini bukan sekadar mengantuk karena kurang tidur, melainkan akumulasi dari tekanan mental, beban kerja yang tidak sebanding dengan apresiasi finansial, serta sistem korporat yang kerap menuntut kesempurnaan tanpa kompromi.
Di tengah kejenuhan lanskap musik yang terkadang terlalu sibuk meromantisasi patah hati remaja atau dinamika asmara yang klise, sebuah kejutan segar hadir dari unit band independen bernama El Popo.
Band yang digawangi oleh lima personel yang sehari-hari juga berstatus sebagai pekerja kantoran ini memilih untuk menyuarakan apa yang benar-benar dirasakan oleh kaum urban kelas pekerja.
Lewat single perdana mereka yang bertajuk “Ngantuk”, yang sekaligus menjadi trek pembuka dalam extended play (EP) perdana mereka, “Dumbo Fantastico”, El Popo berhasil meramu keresahan harian menjadi sebuah karya seni yang bertenaga, jujur, dan menggelitik.
Perilisan EP yang resmi meluncur ke publik ini tidak hanya menandai babak baru perjalanan musikal mereka, tetapi juga menjadi sebuah manifesto kultural bagi generasi pekerja yang rindu akan kejujuran lirik, tanpa balutan metafora yang rumit.
Salah satu kekuatan utama yang membuat lagu “Ngantuk” langsung melekat di telinga pendengar sejak pertama kali diputar adalah keberaniannya menggunakan bahasa sehari-hari yang sangat jujur.
Lirik lagu ini tidak mencoba untuk tampil puitis atau menggunakan diksi sastrawi yang melangit. Sebaliknya, lirik tersebut langsung menghujam ke jantung realitas kehidupan kantoran modern.
Vito Sanders, selaku vokalis sekaligus penulis lirik utama El Popo, mengungkapkan bahwa seluruh bait dalam lagu tersebut murni lahir dari observasi lapangan serta pengalaman nyata yang ditemuinya di lingkungan pertemanan maupun ruang kerjanya sendiri.
“Gue cuma coba nangkep cerita teman-teman aja. Misalnya, bos yang kalau kasih target gila-gilaan, tapi giliran diminta naik gaji malah ogah-ogahan. Atau teman kerja yang santai banget pas WFH, sementara kerjaan dan project-nya malah numpuk ke kita,” ujar Vito saat menceritakan proses kreatif penulisan lirik tersebut.
Lebih lanjut, Vito yang kini telah menginjak usia 30 tahun merasa bahwa fase kehidupan yang tengah ia jalani sudah jauh dari tema-tema percintaan remaja atau kegalauan asmara konvensional.
Bagi seorang pekerja dewasa, ketakutan terbesar sering kali bukan lagi kehilangan kekasih, melainkan kehilangan sumber penghidupan akibat pemutusan hubungan kerja. Dengan nada jenaka namun sarat makna.
“Gue sekarang umur 30 tahun. Mau bikin lagu cinta-cintaan udah bingung. Bikin lagu galau juga kayaknya sekarang gue lebih sedih kalau putus kontrak kerja daripada putus cinta,” kata Vito.
Pernyataan tersebut mencerminkan pergeseran paradigma kultural di kalangan musisi independen masa kini.
Alih-alih menjual ilusi romantisme, El Popo justru memilih menjadi corong bagi realitas kelas pekerja urban yang kerap merasa terpinggirkan secara emosional di tengah sistem ekonomi yang menuntut produktivitas tanpa henti.
Dari sudut pandang musikalitas, single “Ngantuk” dan keseluruhan materi dalam EP “Dumbo Fantastico” menawarkan sebuah perjalanan nostalgia yang kuat ke era awal tahun 2000-an. Pada dekade tersebut, gelombang musik pop punk, hardcore punk, punk rock, dan ska punk mendominasi gelombang udara serta layar kaca melalui program-program musik ikonik di MTV.
El Popo dengan sadar merangkul akar pengaruh dari band-band legendaris seperti Jun Fun Gung Foo, Less Than Jake, Reel Big Fish, Blink-182, hingga Rancid. Aransemen dasar yang dirintis oleh Vito Sanders kemudian dikembangkan secara matang bersama sang gitaris, Dipto.
Bagi Dipto, proses mengaransemen lagu-lagu El Popo memberikan sensasi emosional tersendiri, seolah membawa mereka kembali ke masa remaja ketika musik menjadi satu-satunya pelarian yang menyenangkan.
“Untungnya kita semua tumbuh di era yang sama, ketika MTV jadi referensi utama. Jadi musik dari Blink-182, Sum 41, sampai band yang punya elemen ska seperti Less Than Jake dan Rancid itu sudah sangat familiar buat kita,” jelas Dipto mengenai fondasi musikal band mereka.
Pendekatan hibrida antar subgenre punk ini juga dipertegas oleh sang bassist, Iqbal Firdaus. Dengan gaya bercanda yang khas, Iqbal memaparkan alasan mengapa band mereka menolak terjebak dalam jalur pop punk konvensional yang saat itu sudah diisi oleh banyak talenta muda berbakat.
“Band pop punk sekarang sudah banyak yang keren-keren. Kalau kita ikut jadi band pop punk juga, kayaknya kita kurang ganteng. Jadi, sekalian aja kita campur berbagai subgenre punk. Yang penting semuanya tetap terasa seperti musik yang kita dengarkan waktu kecil,” ungkap Iqbal.
Kombinasi antara ketukan ritme ska yang riang, distorsi gitar yang energetik, serta lirik yang sinis namun jenaka menciptakan sebuah kontras yang menarik. Musik yang riang gembira berpadu dengan tema lirik yang penuh keluh kesah pekerja kantoran, menjadikan lagu ini sebuah katup pengaman emosional yang efektif bagi pendengarnya. []

