Guru Besar ITPLN Prof. Syamsir Abduh: Jaringan PLTS 100 GWp Harus Jadi Penggerak Industri

Jakarta – Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh menilai program pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) harus ditempatkan sebagai transformasi sistem ketenagalistrikan nasional, bukan sekadar penambahan kapasitas pembangkit.

Menurutnya, keberhasilan program PLTS 100 GWp membutuhkan strategi yang mencakup seluruh ekosistem energi, mulai dari sumber daya, jaringan listrik, pasar, pembiayaan, industri, perizinan, teknologi hingga sumber daya manusia (SDM).

“100 GWp PLTS bukan proyek pembangkitan semata, tetapi transformasi ekosistem energi nasional,” ujar Syamsir dalam keterangannya, dikutip Rabu, 16 September 2026.

Menurut dia, pemerintah perlu memiliki peta jalan nasional yang jelas dengan membagi target 100 GWp ke dalam tahapan realistis, misalnya 2027-2030, 2031-2035, dan 2036-2040.

Karena itu, target kapasitas tahunan dan regional juga perlu ditetapkan berdasarkan potensi surya, kesiapan jaringan, pertumbuhan permintaan listrik, serta dampak ekonomi.

“Pengembangan proyek, harus terintegrasi agar tidak berjalan secara terfragmentasi. Kualitas sumber daya energi dan kapasitas jaringan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan lokasi proyek,” katanya.

Syamsir menilai jaringan listrik harus menjadi prioritas sebelum pembangunan klaster PLTS berskala besar. Dia juga menegaskan, studi dampak terhadap sistem kelistrikan perlu dilakukan sebelum proyek disetujui.

Pemerintah juga, ucapnya, perlu menetapkan zona energi terbarukan dan kapasitas tampung jaringan, mempercepat pembangunan transmisi dari wilayah dengan potensi surya tinggi ke pusat beban, serta memperkuat interkoneksi antar-pulau.

“Untuk menjaga keandalan sistem, pengembangan PLTS perlu didukung baterai penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), pumped storage, pembangkit fleksibel, serta sistem kendali jaringan yang lebih canggih,” tuturnya.

Syamsir juga mendorong pendekatan portofolio. Kapasitas 100 GWp tidak hanya mengandalkan satu model pembangkit, tetapi dapat dikembangkan melalui PLTS skala utilitas, PLTS atap, PLTS terapung, PLTS dengan BESS, serta sistem hibrida surya-hidro dan surya-angin-penyimpanan energi.

“PLTS juga dapat diarahkan untuk kawasan industri, wilayah terpencil dan kepulauan,” ucapnya.

Besarnya kebutuhan modal membuat aspek pembiayaan menjadi faktor penting dalam program tersebut. Menurut Syamsir, pemerintah harus menciptakan mekanisme pengadaan yang layak secara finansial atau bankable agar menarik bagi investor.

Kepastian itu mencakup struktur perjanjian jual beli listrik (PPA), tarif listrik, ketentuan take-or-pay, risiko mata uang, kompensasi atas pembatasan pasokan (curtailment), hak atas tanah, koneksi jaringan, jaminan pemerintah, serta perlindungan terhadap perubahan regulasi.

Sumber pembiayaan pun perlu diperluas dengan menggabungkan perbankan domestik, bank internasional, obligasi hijau, pembiayaan berkelanjutan, bank pembangunan multilateral, dana iklim, pembiayaan campuran (blended finance), serta investor negara dan institusional.

Jadi Penggerak Industri

Syamsir menilai pengembangan PLTS juga perlu dikaitkan dengan kebijakan industrialisasi. Energi surya dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri, smelter, pusat data, hidrogen hijau, ekosistem kendaraan listrik, pelabuhan, bandara, dan bangunan komersial.

Pendekatan tersebut akan membuat pembangunan PLTS tidak berhenti pada penambahan kapasitas listrik, tetapi ikut menciptakan aktivitas ekonomi baru dan memperkuat rantai industri energi bersih.

Di sisi lain, kesiapan SDM harus menjadi bagian dari peta jalan 100 GWp. Universitas dan lembaga pendidikan vokasi perlu dilibatkan untuk menyiapkan tenaga profesional yang mendukung pengembangan industri PLTS.

Kebutuhan tersebut meliputi insinyur tenaga surya, insinyur sistem kelistrikan, perencana jaringan, spesialis pembiayaan proyek, profesional konstruksi, teknisi operasi dan pemeliharaan (O&M), spesialis energi digital, serta tenaga ahli lingkungan dan sosial.

Dengan demikian, menurut Syamsir, target PLTS 100 GWp harus dibangun sebagai ekosistem yang terintegrasi. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh berapa besar kapasitas pembangkit yang terpasang, tetapi juga oleh kesiapan jaringan, pembiayaan, industri, teknologi, regulasi, dan manusia yang menopangnya. []

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI

News Anchor Bongkar Cerita di Balik Layar TV

Jakarta - Sederet pembaca berita alias news...

Video Bokep 19 Detik di Emperan Toko Magelang, Viral di Media Sosial

Jakarta - Sebuah video bokep berdurasi 19 detik berisi...

Foto: Achmad Megantara, Perankan Rangga di Sinetron Dewi Rindu

Jakarta - Aktor muda Achmad Megantara didaulat untuk berperan...

Dihina Gurunya, Siswi SMP di Medan Didatangi Polisi

Medan - Seorang siswi SMP Negeri 28 Kota Medan,...

Kembali Berulah, Dua Residivis Maling di Mamuju Ditangkap Polisi

Mamuju - Kembali berulah, dua residivis maling, EG dan...

Pansus DPRD DKI Evaluasi Kelaikan Armada Truk Pengangkut Sampah yang Beroperasi di Jakarta

Jakarta - Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI...

Penumpang Malaysia Bawa Emas 5,25 Kg Tanpa Dokumen, Digagalkan Bea Cukai di Kertajati

Majalengka – Upaya membawa keluar negeri emas batangan senilai...

Vokalis Muhammad Irfan Resmi Mengundurkan Diri dari Band Govinda

Jakarta - Grup musik pop-rock terkemuka tanah air, Govinda,...

Burhanuddin Muhtadi: Potensi Gibran Mundur Kecil, Bola Panas Putusan MK Bisa Mengarah ke DPR

JAKARTA, Opsi.id — Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait perkara...

ITPLN dan UTP Malaysia Bangun Jembatan Akademik Global, Perdalam Riset Transisi Energi

Jakarta – Institut Teknologi PLN (ITPLN) menerima mahasiswa Universiti...

Siam Cement Group (SCG) Catat Pertumbuhan Penjualan Tertinggi di ASEAN pada Q2-2026

Jakarta – Siam Cement Group (SCG) mencatat kinerja operasional...

Tampil di Piko Fest Makassar, Rumahsakit Kurasi 2 Band Lokal

MAKASSAR, OPSI.ID -- Band indie legendaris asal Jakarta, rumahsakit,...

Stevan Pasaribu dan Andi Rianto Rilis Single Kolaborasi Berjudul Siapa yang Tahan

Jakarta - Dinamika hubungan interpersonal kembali diangkat ke dalam...

Berita Terbaru

Popular Categories