News Selasa, 03 Februari 2026 | 15:02

New START Berakhir, Rusia Siap Hadapi Dunia Tanpa Batasan Senjata Nuklir

Lihat Foto New START Berakhir, Rusia Siap Hadapi Dunia Tanpa Batasan Senjata Nuklir Wakil Menteri Luar Negeri Rusia sekaligus juru bicara Kremlin untuk isu pengendalian senjata, Sergei Ryabkov. (Foto:Istimewa)

Jakarta - Pemerintah Rusia menyatakan kesiapannya untuk menghadapi dunia baru tanpa batasan pengendalian senjata nuklir, menyusul berakhirnya Perjanjian New START antara Moskow dan Washington pada akhir pekan ini.

Perjanjian bersejarah yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis tersebut akan kedaluwarsa pada 5 Februari 2026, tanpa ada kejelasan perpanjangan dari Amerika Serikat.

Perjanjian New START, yang ditandatangani pada 2010 oleh Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Presiden AS Barack Obama, merupakan satu-satunya perjanjian pengendalian senjata nuklir utama yang masih berlaku antara kedua negara adidaya itu.

Ketiadaan kesepakatan baru akan menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir dunia menyaksikan tidak adanya batasan hukum bagi dua kekuatan nuklir terbesar, Rusia dan AS.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia sekaligus juru bicara Kremlin untuk isu pengendalian senjata, Sergei Ryabkov, menyatakan kekecewaan atas sikap Washington.

Ia menegaskan bahwa Moskow telah mengajukan usulan perpanjangan, namun tidak mendapat respons.

"Tidak adanya jawaban juga merupakan jawaban," ujar Ryabkov dalam pernyataannya di Beijing, Selasa, 3 Februari 2026, seperti mengutip Reuters.

Ia menambahkan bahwa Rusia siap menghadapi realitas baru ini.

Sementara itu, di Washington, Presiden AS Donald Trump terkesan tidak khawatir dengan berakhirnya perjanjian tersebut. Dalam wawancara dengan New York Times bulan lalu, Trump menyatakan,

"Jika berakhir, ya berakhir... Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik."

Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, yang kini menjabat Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, telah memperingatkan bahaya yang mengintai.

"Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini segera berarti bencana dan perang nuklir akan dimulai, tetapi hal itu tetap seharusnya membuat semua orang khawatir," katanya.

AS sebelumnya menyarankan agar China, kekuatan nuklir terbesar ketiga di dunia, ikut serta dalam pembicaraan pengendalian senjata. Namun, Beijing menolak dan lebih memilih fokus pada modernisasi arsenal nuklirnya yang lebih kecil. Ryabkov, dalam kunjungannya ke Beijing, menyatakan dukungan Rusia terhadap posisi China.[] 

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya