Jakarta – Grup band Slank kembali menegaskan eksistensinya di panggung musik Indonesia dengan merilis album studio ke-26 bertajuk “Republik Fufufafa”. Tanggal perilisan sengaja dipilih bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sejalan dengan tema besar yang diusung dalam Album Launching Party Republik Fufufafa bareng Slank yang digelar di Markas Slank, Jl. Potlot 14.
Album ini memuat 10 lagu baru yang proses rekamannya dilakukan selama bulan Ramadhan 2025 di Flat 5 Studio milik Ridho Hafiedz dan dilanjutkan di Parah Studio – Potlot 14.
Selama dua minggu penuh, Slank menjalani rutinitas puasa dengan produktivitas tinggi di studio, dimulai dengan workshop, dilanjutkan proses tracking instrumen, diselingi sholat berjamaah, dan ditutup dengan buka puasa bersama.
Album ini tetap menghadirkan empat unsur khas Slank yaitu cinta, alam, sosial, dan youth. Sampul album menampilkan kelima personel dengan make up badut nakal hasil karya Face Painting Jakarta, menegaskan karakter slengean yang tetap melekat.
Bimbim menulis sebagian besar lagu sepanjang tahun 2024, sementara Kaka menyumbangkan karya sejak 2021. Variasi genre yang ditawarkan pun terasa segar, mulai dari rock alternatif, rock n’ roll, hingga ballad melankolis. Lirik-liriknya sederhana namun penuh makna, mencerminkan jiwa Slank yang apa adanya.
Sebelum album resmi dirilis, dua lagu ciptaan Bimbim yaitu “Republik Fufufafa” dan “PPN 12%” sudah lebih dulu diperkenalkan dan langsung menjadi perbincangan publik. Peluncuran album juga dibarengi dengan perilisan video musik “Rusak Ancur”, sebuah kritik keras atas kerusakan alam.
“Lagu ini jadi cara kami menyuarakan keresahan terhadap kondisi lingkungan yang semakin rusak akibat ulah banyak pihak,” ujar Bimbim.
Sementara itu, Kaka menulis lagu “Jangan Rakus” sebagai pengingat agar manusia merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
“Ambil yang kau perlu, makan yang kau butuh. Jangan jadi kaum mendang-mending yang selalu membandingkan diri dengan orang lain,” kata Kaka menegaskan pesan lagunya.
Album ini juga menghadirkan lagu “Di Dekatmu” ciptaan Kaka dan Bimbim dengan aransemen melankolis elegan, “My Rinduku” yang sederhana namun penuh kerinduan, serta “Papa Sid” yang ditulis Bimbim sebagai bentuk penghormatan atas kepergian sosok panutan Pak Sidharta.
“Rasa kehilangan itu begitu dalam, dan akhirnya saya tuangkan dalam lagu Papa Sid,” ucap Bimbim.
Ada pula lagu “Bunga Rindu” yang menghadirkan nuansa baru dengan kisah kelam di balik sosok gadis menawan, “Buka Baju” yang tetap slengean dengan lirik nakal, dan “Ku Tak Mungkin” sebagai penutup album dengan nuansa cinta penuh kesetiaan.
Album “Republik Fufufafa” lebih dulu dirilis dalam format digital pada 6 Juni 2026 dan dapat didengarkan di berbagai platform streaming. Album fisik akan hadir dalam bentuk kaset, CD, dan vinyl dengan desain sampul berbeda untuk setiap format.
Keistimewaan lain, seluruh foto yang ditampilkan di album fisik menggunakan kamera analog hasil jepretan Heret Frasthio.
“Semua yang kita kejar, apapun yang kita rasakan, pasti akan segera terlewati. Nikmati saja semua prosesnya,” kata Harist Santoso. []

