Jakarta – Band alternatif Indonesia, WUSS, menandai perjalanan baru mereka dengan merilis album penuh perdana bertajuk “SUZAN” pada 26 Agustus 2026.
Album ini hadir bukan sekadar sebagai kumpulan lagu, melainkan sebuah narasi utuh yang dirancang layaknya kalender, dengan dua belas lagu yang masing-masing mewakili satu bulan dalam setahun.
Sebelum perilisan resmi, WUSS telah lebih dulu memperkenalkan potongan cerita melalui tiga single: “Born in February”, “Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March”, dan “May?”. Ketiganya bukan karya yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian yang akhirnya bermuara pada SUZAN.
Album ini dibuka dengan “January Note (Unsent)” dan ditutup oleh “December, at Last”, menghadirkan perjalanan emosional tentang kehilangan, harapan, nostalgia, kegelisahan, cinta, hingga penerimaan.
Dalam proses kreatifnya, WUSS memperluas eksplorasi musikal tanpa meninggalkan identitas yang telah mereka bangun sejak awal. Lapisan paduan suara, gitar yang intim, piano yang sunyi, serta dinamika yang berkembang perlahan menjadi bahasa utama dalam menyampaikan emosi.
Album ini juga menghadirkan kolaborasi lintas musisi, di antaranya Ami Voix Chorale, Yogha Prasiddhamukti dari Skandal, Christabel Annora, dan Eltria Raffi dari Dazzle. Kehadiran mereka memberi warna baru tanpa mengubah arah emosional album.
Artwork album “SUZAN” digarap oleh Farhan Endy dari Conbini, seniman visual asal Malang. Karyanya tidak hanya menjadi sampul album, tetapi juga menerjemahkan kesunyian, nostalgia, dan ruang emosional yang hidup di sepanjang dua belas lagu menjadi pengalaman visual yang utuh.
Sebagai kelanjutan dari perilisan album, WUSS juga menyiapkan official music video untuk “January Note (Unsent) feat. Ami Voix Chorale”, disutradarai oleh Jamal dari RCA Studio.
Lagu pembuka ini menjadi gerbang menuju keseluruhan narasi SUZAN. Layaknya halaman pertama sebuah buku, video musik tersebut menjadi pintu masuk menuju dua belas bab yang membentuk perjalanan emosional sepanjang satu tahun.
Judul “SUZAN” sengaja dibiarkan terbuka untuk dimaknai. Ia bukan sekadar nama seseorang, melainkan ruang bagi setiap pendengar untuk menemukan sosok, kenangan, atau perasaan yang pernah singgah dalam hidup mereka.
“Kami tidak pernah membayangkan ‘SUZAN’ sebagai dua belas lagu yang berdiri sendiri. Kami ingin album ini terasa seperti membuka sebuah buku harian, lalu menyadari bahwa setiap bulan diam-diam sedang menceritakan kisah yang sama,” ungkap Sabiella Maris dari WUSS.
Bagi WUSS, “SUZAN” bukan album yang berusaha memberikan jawaban. Album ini adalah dokumentasi tentang bagaimana waktu membentuk manusia, tentang bagaimana satu tahun dapat mengubah seseorang secara perlahan tanpa pernah benar-benar disadari.
Setiap cerita selalu memiliki sebuah awal, dan bagi WUSS, awal itu adalah “January Note (Unsent).” Selebihnya hanyalah satu tahun yang perlahan belajar untuk terungkap.
Dengan konsep narasi yang unik, eksplorasi musikal yang mendalam, serta kolaborasi lintas musisi dan seniman visual, “SUZAN” menegaskan posisi WUSS sebagai salah satu band alternatif Indonesia yang berani menghadirkan karya berbeda.
Album ini kini sudah tersedia di seluruh platform musik digital, siap menemani pendengar dalam perjalanan emosional sepanjang tahun. []


