Jakarta – Grup band rock asal Surabaya, ElectricBird, kembali menancapkan taringnya di kancah musik nasional dengan resmi merilis album kedua mereka yang bertajuk “Odyssey” tepat pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Kehadiran album penuh ini sekaligus menjadi penanda kelanjutan produktivitas mereka setelah sebelumnya meluncurkan sejumlah single pemanasan secara berturut-turut, mulai dari “Aurora” pada Mei 2025, “Belantara” pada Agustus 2025, “entah/bagaimana?” pada Oktober 2025, “Power” pada April 2026, hingga “Tuju Pencarian” pada Mei 2026.
Album kedua ini sejatinya merupakan rangkuman perjalanan empiris yang mereka alami selama lima tahun terakhir dalam proses penciptaan karya.
Sebagai sebuah karya, album “Odyssey” menghadirkan eksplorasi bernuansa rock yang kental mengenai perjalanan eksistensial manusia, di mana setiap momen dalam hidup sering kali mempertemukan seseorang dengan pilihan-pilihan sulit.
Di balik balutan musik cadas tersebut, album ini juga memuat kritik sosial dan kemarahan atas berbagai peristiwa sosial-politik, maraknya penindasan, perusakan alam yang kian masif, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan, hingga keserakahan segelintir pihak yang mengutamakan ego demi meraup keuntungan pribadi.
Seluruh keresahan tersebut dirangkum secara kolektif ke dalam gelora amarah di dalam album “Odyssey”. Lagu utama yang juga berjudul “Odyssey” sendiri pada hakikatnya berbicara tentang perjalanan kehidupan sebagai sebuah pelayaran berkelanjutan tanpa tujuan yang pasti.
Karya ini menggambarkan kondisi psikologis seseorang yang sedang berada di persimpangan emosional, di mana ia harus mempertanyakan kegagalan masa lalu, menghadapi berbagai bentuk kompromi, sekaligus mencari arah tujuan di tengah ketidakpastian zaman.
Seluruh narasi tersebut menjadi benang merah yang merangkum keseluruhan tema di dalam album ini. Dari segi musikalitas, eksplorasi suara, genre, serta nuansa ruang atau ambience yang beragam terangkum dengan apik ke dalam sepuluh trek di album ini.
Dengan membawa ungkapan kemarahan yang searah, album ini diharapkan mampu menggambarkan dinamisnya perjalanan untuk merangkum keseluruhan esensi “Odyssey”.
Proses penggarapan album ini diketuai oleh Rahmana Wiradanu selaku vokalis sekaligus pemegang bass dan Julio Mulya sebagai gitaris yang bertindak sebagai produser.
Sementara itu, penulisan lirik dan materi lagu sebagian besar ditulis oleh personel lainnya seperti Vicky Aslam selaku gitaris dan Kurniawan Prasetyo pada posisi drum, di mana seluruh personel turut memberikan andil besar dalam penulisan seluruh trek yang ada di dalam album “Odyssey”.
Sebanyak sepuluh trek yang tersusun rapi dalam daftar putar album ini meliputi “Odyssey”, “Power”, “Entah//bagaimana?”, “Belantara”, “Mind”, “Senin”, “Black Widow Devil Dice”, “Tuju Pencarian”, “Tiba”, dan “Aurora”.
Melalui perilisan album kedua ini, ElectricBird tidak hanya memperkaya warna musik rock tanah air, tetapi juga menyuarakan kegelisahan kolektif masyarakat melalui medium seni yang jujur dan bertenaga. []

