BGN Sebut Kebutuhan 19 Ribu Ekor Sapi untuk MBG Hanya Simulasi

Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana meluruskan polemik kebutuhan 19 ribu ekor sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menegaskan angka yang ramai diperdebatkan itu bukan kebutuhan riil, melainkan sekadar simulasi perhitungan ekstrem.

Penjelasan ini muncul setelah publik menyoroti besarnya kebutuhan bahan pangan program nasional tersebut dan dampaknya terhadap pasokan serta harga di pasar.

“Ini hanya pengandaian. Kalau satu SPPG masak daging sapi maka butuh satu ekor.

Kalau seluruh SPPG kita perintahkan di hari yang sama memasak sapi, tinggal dijumlahkan,” kata Dadan Hindayana, Kamis (23/4/2026) dilansir dari Kompas.

Angka 19 Ribu Ekor Sapi muncul dari skenario seluruh dapur layanan gizi nasional memasak menu sapi secara serentak. Situasi yang disebut tidak pernah menjadi kebijakan pemerintah.

Negara Belajar dari Lonjakan Harga Telur

BGN mengakui pernah menghadapi efek pasar.

Ketika menyiapkan menu nasional berbahan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat pada peringatan ulang tahun Presiden Prabowo.

BACA JUGA: Program MBG Mendorong Pentingnya Membentuk Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas 2045

Saat itu, kebutuhan mencapai 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dan berdampak pada kenaikan harga telur di pasaran.

“Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,” ujar Dadan.

Pengakuan ini menunjukkan bahwa program pangan berskala raksasa dapat langsung mengguncang rantai pasok nasional bila tidak diatur dengan cermat.

Menu Nasional Dinilai Berisiko Ganggu Pasar

Belajar dari pengalaman tersebut, pemerintah kini mengubah pendekatan pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Setiap daerah diberikan keleluasaan menyusun menu sesuai bahan pangan lokal agar tekanan permintaan tidak menumpuk pada satu komoditas.

“Kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” katanya.

Langkah ini sekaligus menjadi pengakuan bahwa kebijakan pangan seragam secara nasional berpotensi menimbulkan gejolak harga, terutama pada komoditas strategis seperti telur, ayam, ikan, dan daging sapi. []

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI

Kasus Uang Paroki Aek Nabara Rp 28 Miliar di BNI, BP BUMN Berjanji Segera Tuntaskan

Jakarta - Kasus uang jemaat Gereja Paroki St. Fransiskus...

Profil Andi Hakim Febriansyah, Eks Kepala Kas BNI Aek Nabara yang Ditangkap Polda Sumut

Medan - Nama Andi Hakim Febriansyah menjadi perhatian publik...

GAMKI Minta JK Hadapi Proses Hukum, Dugaan Penistaan Agama Diminta Diusut Tuntas

JAKARTA – Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) menegaskan...

Bejat! Oknum Kiai di Pati Cabuli 50 Santriwati di Ponpes

Pati, Opsi.id - Kasus pencabulan kembali terungkap. kali ini...

Grup Duo Asal Makassar, DVY Rilis Single Bloom/Gloom

Jakarta - Duo musik asal Makassar, DVY, yang terdiri...

Utang Indonesia Tembus Rp9.920 Triliun, Ekonom Warning Beban Bunga Makin Menyesakkan Fiskal

JAKARTA, Opsi.id  — Utang pemerintah Indonesia terus mengalami kenaikan....

Desa Nelayan Modern Hadir di Miangas, Begini Rencana Prabowo

Jakarta, Opsi.id - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rencana pembangunan...

Promotor Antara Suara Debut di Malaysia, Bawa Mahalini Konser di Kuala Lumpur

Jakarta - Mahalini kembali ke panggung dengan penuh kejutan...

Fadhilah Intan dan Daniesh Suffian Rilis Single Duet Simpul

Jakarta - Dunia musik kembali diramaikan dengan hadirnya kolaborasi...

Baleg DPR Serap Aspirasi Masyarakat Adat di Tano Batak

Toba, Opsi.id — Badan Legislasi (Baleg) DPR RI mendorong...

Bobol Dapur MBG di Sergai, Dua Maling Diciduk Polisi, Penadah Masih Diburu

Tebing Tinggi, Opsi.id — Aksi pembobolan dapur program Makan Bergizi...

Komjen Panca Putra Simanjuntak Tinggalkan Lemhannas, Kini Jabat Kalemdiklat Polri

JAKARTA, Opsi.id – Komjen R. Z. Panca Putra Simanjuntak...

Profil Karutan Balige Valen Sonar Rumbiak, Sah Menyandang Marga Pardede

Toba, Opsi.id - Kepala Rutan Kelas IIB Balige, Valen...

Berita Terbaru

Popular Categories