Jakarta – Lanskap industri kreatif tanah air kembali dikejutkan oleh sebuah terobosan inovatif dari musisi lintas generasi, Bondan Prakoso & Fade2Black.
Mereka resmi meluncurkan sebuah karya visual dan audio bertajuk “PRAFASA” yang dikemas sebagai AI Music Film melalui kanal YouTube resmi mereka pada 18 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB lalu.
Karya ini tidak sekadar menghadirkan suguhan musik biasa, melainkan sebuah eksperimen estetik yang menggabungkan elemen fiksi ilmiah, tata suara sinematik, serta pemanfaatan teknologi generative AI secara komprehensif.
Secara naratif, “PRAFASA” mengambil latar waktu di masa depan ketika dunia berada di bawah kendali satu kekuasaan absolut.
Di dalam tatanan sosial tersebut, setiap gerak-gerik manusia diawasi secara ketat, seluruh perkembangan teknologi dikendalikan sepenuhnya, dan eksistensi mesin dipaksa untuk tunduk mutlak kepada kehendak penguasa. Kebebasan, dalam dunia semacam itu, bukan lagi hak yang melekat pada setiap makhluk.
Kendati sistem dirancang sedemikian rupa untuk memadamkan ruang gerak, selalu ada celah bagi upaya perlawanan terhadap batas-batas yang dianggap mutlak.
Sebuah penciptaan baru muncul dan menantang aturan paling fundamental: bagaimana jika kecerdasan buatan atau mesin tidak lagi sekadar menjadi budak perintah, melainkan memiliki kemampuan untuk mengingat, merumuskan tujuan, serta menentukan pilihannya sendiri?
Cerita dalam film ini berpusat pada tokoh R-73, seorang cyborg berusia lanjut dengan masa lalu yang menyimpan sejuta misteri. Berlatar di Jakarta tahun 2066—sebuah metrik urban futuristik yang memisahkan manusia dan mesin dalam batasan ketat—R-73 memulai perjalanan penuh teka-teki.
Perjalanan tersebut tidak hanya melibatkan empat peti misterius dan jejak-jejak kenangan yang tersimpan, tetapi juga sebuah alasan mendasar untuk kembali.
Lebih jauh dari sekadar ketegangan sinematik, film ini menyentuh esensi persoalan yang lebih dalam mengenai kebebasan, identitas diri, kelestarian lingkungan, dan arti kemanusiaan yang sesungguhnya.
Salah satu daya tarik utama dari “PRAFASA” adalah bagaimana karya ini menjembatani dua era musik yang berbeda ke dalam satu alur cerita yang padat emosi. Musik tidak diposisikan sekadar sebagai pengisi latar belakang, melainkan sebagai elemen vital yang membangun atmosfer, mengalirkan emosi, serta memperkuat pesan film.
Dua karya penting yang memperkuat narasi ini adalah lagu “SOS” (dirilis pada tahun 2010) dan lagu “PRAFASA” (dirilis pada tahun 2024) dari Bondan Prakoso & Fade2Black.
Pertemuan kedua lagu tersebut dalam satu ruang penceritaan menciptakan jembatan kronologis yang unik, menunjukkan konsistensi eksplorasi musikalitas mereka dari masa ke masa.
Di balik layar, penggarapan proyek ambisius ini dikomandoi langsung oleh Bondan Prakoso bersama Tito Budi Dwinanto.
Keduanya bertindak sebagai kreator sekaligus sutradara, memanfaatkan kemajuan teknologi generative AI untuk membangun dunia visual, merancang karakter-karakter distopia, hingga mewujudkan adegan-adegan sinematik yang memukau di dalam PRAFASA.
Melalui kehadiran karya ini, Bondan Prakoso & Fade2Black secara tersirat mengajak para penontonnya untuk merenungkan kembali dinamika hubungan antara umat manusia, perkembangan teknologi yang kian masif, serta bentuk dunia seperti apa yang nantinya akan diwariskan kepada generasi-generasi mendatang.
Bagi penikmat seni yang ingin menyaksikan langsung perpaduan inovasi teknologi dan estetika musik ini, PRAFASA | An AI Music Film dapat disaksikan secara penuh melalui kanal YouTube resmi Bondan Prakoso & Fade2Black. []

