JAKARTA, Opsi.id – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia pada 1998 dan 1999 memiliki suasana yang jauh berbeda dibandingkan perayaan kemerdekaan saat ini.
Di balik upacara yang berlangsung khidmat di Istana, Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie menghadapi situasi politik dan ekonomi yang penuh tekanan.
Hal itu diceritakan putra BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie, saat mengenang pengalaman keluarganya melihat langsung suasana peringatan HUT RI dari lingkungan Istana.
Ilham mengatakan, BJ Habibie memimpin upacara kemerdekaan sebanyak dua kali, yakni pada 17 Agustus 1998 dan 17 Agustus 1999.
Menurutnya, suasana psikologis kedua perayaan tersebut sangat berbeda karena Indonesia ketika itu masih berada dalam masa transisi setelah perubahan politik besar pada Mei 1998.
“Kalau di permukaan Bapak itu selalu tenang sebetulnya. Tapi saya tahu persis bahwasanya yang sedang dihadapi pasti membuat Bapak itu tegang,” kata Ilham dalam wawancara di kanal YouTube Official iNews, Senin (17/8/2026).
Menurut Ilham, ayahnya dikenal mampu mengendalikan emosi. Di tengah situasi nasional yang dinamis dan kompleks, BJ Habibie tetap berusaha menunjukkan ketenangan di hadapan publik.
Ilham menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi “di luar tenang, di dalam tegang”.
Pemerintahan saat itu harus menghadapi berbagai persoalan sekaligus, mulai dari kondisi politik, keamanan hingga persoalan ekonomi.
Tiba-tiba Jadi Presiden, Ilham Masih di Jerman
Ilham juga mengungkap bagaimana dirinya mengetahui BJ Habibie menjadi presiden.
Saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998, Ilham sedang berada di Jerman. Ia bahkan tidak mengetahui bahwa ayahnya akan segera dilantik sebagai Presiden RI.
Ilham mengatakan, BJ Habibie meninggalkan pesan melalui voice mail di hotel tempatnya menginap. Pesannya sederhana: setelah bangun, Ilham diminta menyalakan televisi.
“Saya nyalakan, saya lihat Bapak saya lagi dilantik,” ujar Ilham dalam wawancara tersebut.
Kabar itu membuat Ilham terkejut. Ia kemudian segera mengatur kepulangannya ke Indonesia.
Saat itu Ilham sedang berada di Jerman untuk urusan pekerjaan dan pertemuan dengan mitra di sebuah air show di Berlin.
Setelah mengetahui ayahnya dilantik menjadi presiden, ia langsung kembali ke Indonesia dan dari bandara menuju Istana.
Habibie Terlalu Sibuk Mengendalikan Situasi
Sesampainya di Indonesia, Ilham mendapati ayahnya berada dalam kondisi yang sangat sibuk.
Menurut Ilham, BJ Habibie tidak banyak meminta masukan dari keluarga karena seluruh perhatiannya tercurah pada upaya mengendalikan situasi negara.
“Keluarga hanya berperan di sisi mendukung Bapak sebagai keluarga,” kata Ilham.
Ia menuturkan, peran keluarga ketika itu lebih banyak memberikan dukungan agar BJ Habibie tetap tenang.
Sementara urusan pemerintahan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sang presiden bersama kabinet, DPR dan berbagai pihak terkait.
Ilham juga menegaskan bahwa ibunya, Hasri Ainun Habibie, tidak pernah ikut dalam rapat kabinet.
Namun, sebagai pasangan, Ainun tetap menjadi sosok yang memberikan pandangan kepada BJ Habibie secara pribadi.
Menurut Ilham, ayah dan ibunya memang kerap bertukar pendapat secara langsung, tetapi pembicaraan tersebut berlangsung di antara keduanya dan bukan dalam forum keluarga.
Istana seperti “Oasis” di Tengah Situasi yang Tegang
Menariknya, meskipun kondisi di luar Istana penuh gejolak, Ilham justru menggambarkan suasana di dalam Istana sebagai tempat yang relatif tenang.
“Istana itu kalau menurut saya seperti satu oasis,” ujarnya.
Menurut Ilham, ketegangan yang terjadi di luar tidak selalu terasa di lingkungan Istana karena adanya pengamanan.
Namun, ia tetap mengikuti perkembangan situasi melalui pemberitaan media.
Pada masa awal Reformasi, kebebasan pers berkembang pesat. Kondisi tersebut membuat BJ Habibie kerap menjadi sasaran kritik dan hujatan media.
Namun, menurut Ilham, ayahnya merupakan sosok yang sangat tahan terhadap kritik.
Keluarga pun memilih tidak ikut memperkeruh keadaan. Ilham mengatakan mereka berusaha menahan emosi dan tidak memberikan reaksi terbuka yang justru dapat menambah persoalan.
“Kita mendingan diam aja,” kata Ilham.
Tradisi Bermalam di Istana Jelang 17 Agustus
Ada pula tradisi keluarga Presiden yang tetap dijalankan pada masa BJ Habibie.
Ilham mengungkapkan bahwa keluarganya bermalam di Istana Merdeka pada malam sebelum peringatan 17 Agustus.
Tradisi tersebut sebelumnya sudah dilakukan sejak era Presiden Soeharto dan kemudian diteruskan.
Menurut Ilham, di salah satu bagian Istana Merdeka terdapat ruang-ruang yang digunakan untuk beristirahat.
Selain mempertahankan tradisi, kebiasaan tersebut juga memiliki alasan praktis karena keluarga tidak perlu berangkat dari rumah sejak dini hari untuk mengikuti upacara.


