Acara kemudian dilanjutkan dengan kehadiran keluarga besar, terutama pihak hula-hula, yang memberikan berkat, nasihat, ulos, serta dekke (ikan mas) sebagai simbol kesejahteraan dan kebersamaan.
Suasana semakin meriah dengan makan bersama, tortor, serta pemberian ulos dan doa-doa terbaik bagi penghuni rumah.
Tidak Semua Harus Megah
Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan Mangompoi Jabu juga mengalami penyesuaian.
Tidak semua keluarga memiliki kemampuan atau kesempatan untuk mengadakan pesta besar.
Karena itu, dikenal beberapa tingkatan pelaksanaan.
Ada yang sederhana karena rumah belum sepenuhnya selesai dibangun. Ada yang cukup dengan doa bersama keluarga inti.
Ada pula yang dilaksanakan secara lengkap dengan melibatkan seluruh keluarga besar serta masyarakat sekitar.
Meski berbeda dalam kemeriahan, esensinya tetap sama: mensyukuri berkat dan memohon kebaikan bagi penghuni rumah.
Makna yang Sering Terlupakan
Di balik kemeriahan acara, terdapat tiga nilai utama yang menjadi fondasi tradisi ini.
Pertama, makna adat. Rumah yang telah diresmikan bukan hanya milik satu orang, tetapi menjadi bagian dari sejarah dan warisan keluarga.
Kedua, makna sosial. Acara ini menjadi sarana memperkenalkan keluarga kepada lingkungan sekitar. Sekaligus memperkuat hubungan dalam sistem kekerabatan Batak yang dikenal sebagai Dalihan Na Tolu.
Ketiga, makna spiritual. Rumah diyakini sebagai berkat Tuhan yang harus disyukuri dan dijaga dengan baik.
Tradisi Boleh Berubah, Nilai Jangan Hilang
Dulu, pesta memasuki rumah baru bisa berlangsung sepanjang hari dengan melibatkan satu kampung.
Kini, banyak keluarga memilih acara yang lebih sederhana karena pertimbangan ekonomi dan waktu.


