Mardiono pun mengungkapkan sudah menyiapkan strategi PPP agar bisa kembali masuk ke parlemen. Mardiono mengaku sejak Pemilu 2014, perolehan suara PPP tidak turun secara drastis.
Ia menjadi anggota pada Pemilu 2014, PPP memperoleh 39 kursi di DPR RI setelah meraih 8,9 juta suara. Selanjutnya pada Pemilu 2019, PPP kembali meraih 8,4 juta suara dan mendapatkan 19 kursi.
“Kemudian terakhir tahun 2024, kita masih 8,22 juta (suara), tetapi suara kita hanya 12 kursi, dengan jumlah suara DPR RI itu kurang 130 ribu untuk mencapai ambang batas parlemen,” kata dia.
Mardiono melihat kelemahan partainya, yakni tidak berbanding lurus antara perolehan suara di tingkat kabupaten dengan pusat.
Hal itulah yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi dirinya agar PPP bisa kembali ke parlemen.
“PR-nya adalah membuat bagaimana suara itu di bawah bisa berbanding lurus. Jadi suara di kabupaten, kota, dan suara di provinsi, kemudian suara di pusat,” ungkapnya.
“Juga daerah-daerah sebagian besar kemarin itu banyak yang tidak berbanding lurus. Sehingga suara kita ke pusat dan provinsi banyak yang hilang, ada di daerah kabupaten dan kota. Nah kita tinggal mensetarakan itu,” imbuhnya.
Mardiono menyebut hal tersebut bisa terjadi karena kurang adanya kerja sama antara akar rumput dengan calon legislatif (caleg) pusat.
Untuk itu, Mardiono mengaku sedang memperbaiki hal tersebut dengan memperkuat dengan cara konsolidasi.


