MAKASSAR, OPSI.ID — Panggung musik di Kota Makassar dinilai mengalami krisis identitas akibat minimnya eksplorasi musik di kalangan pendengar muda. Di tengah maraknya festival dan konser, ruang bagi musisi lokal semakin menyempit karena selera penonton yang masih bergantung pada tren arus utama dari ibu kota.
Dody Kurniawan Asman, Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) sekaligus Pemerhati Budaya Populer, menyoroti fenomena ini.
Menurutnya, Gen Z dan Gen Alpha sebagai mayoritas penikmat musik saat ini memiliki kebiasaan mendengarkan yang masih sangat bergantung pada apa yang viral di dalam lingkar pertemanan mereka.
“Pendengar musik aktif yang rata-rata dari kalangan Gen Z dan Alpha ini cenderung tergantung sekali sama circle-nya dalam mendengarkan musik. Kayak tidak punya inisiatif memilih dan mendengarkan sesuatu di luar circlenya,” ujar Dody, Ahad (11/10).
Ia menilai, dominasi selera yang berpusat di ibu kota membuat penonton kehilangan daya eksplorasi. Padahal, kemudahan teknologi saat ini berada di genggaman tangan untuk mencari berbagai referensi karya baru.
“Anomali, akses informasinya mudah tapi justru niatan mengembangkan wawasan jadi gak ada. Bagaimana mereka bisa mencintai suatu karya musik kalau untuk mencarinya saja tidak ada niatan? Soe Hok Gie pernah bilang, kita bisa mencintai sesuatu kalau kita mengenalnya dari dekat,” tambahnya.
Di sisi lain, para musisi independen lokal sebenarnya terus memproduksi karya, memasifkan promosi, hingga merilis konten kreatif. Namun, homogenitas selera pendengar yang hanya berfokus pada konten viral membuat panggung acara di Makassar kerap diisi oleh penampil yang itu-itu saja.
Sebagai bentuk perbandingan, Dody berkaca dari pengalamannya saat berkunjung ke Bandung. Di kota-kota lain, terdapat bentuk respect yang tinggi terhadap musisi dan karyanya sendiri, di mana mereka tidak malu dan tidak meremehkan dari daerahnya, baik yang sudah populer maupun yang kurang populer.
Padahal, band-band dan musisi Makassar yang memiliki karya orisinal itu sangat banyak, tidak sebatas pada apa yang mereka dengar di dalam playlist harian mereka. Kota-kota lain telah membuktikan bagaimana ekosistem lokal dibangun dengan saling menghargai potensi daerah sendiri, dan semangat penyediaan ruang inklusif inilah yang semestinya dicontoh secara luas.
Selain itu, Dody juga mengapresiasi konsistensi festival Rock In Celebes ke 17, yang sebentar lagi akan kembali digelar di penghujung Oktober ini, sebagai salah satu panggung utama yang secara konsisten memberikan ruang bagi para musisi Makassar serta Sulawesi Selatan.
Keberadaan panggung konsisten seperti ini membuktikan bahwa ruang apresiasi itu memang harusnya bisa diwujudkan. Lewat kolaborasi yang kuat antara musisi, penyelenggara, penonton, dan pemerintah, Makassar diyakini mampu keluar dari krisis identitas dan berdiri sebagai rumah yang membanggakan bagi kreativitas lokalnya sendiri.
Dody pun berharap momentum ini dapat menjadi titik balik positif bagi ekosistem musik lokal. “Semoga pelaksanaan KMI (Konferensi Musik Indonesia) akhir Oktober di Makassar dapat menjadi angin segar bagi perkembangan musik di kota ini,” pungkasnya.

