Opini: Dr. Lince Bulutoding, SE., M.Si., Ak., CA., PCIF., SAS
Dosen Akuntansi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
BANYAK keturunan Pong Sampun kini tinggal jauh dari Toraja. Ada yang bekerja di kota besar, ada yang sudah berkeluarga di perantauan.
Namun, setiap kali keluarga besar berkumpul, ada satu tempat yang selalu menjadi tujuan: Tongkonan Kalolok Pong Sampun di Lembang Saluallo, Sangalla Utara.
Bagi mereka, tongkonan ini bukan sekadar rumah adat, melainkan tempat
Rumah Leluhur Sejak Masa Pembuka Kampung
Tongkonan Kalolok Pong Sampun adalah salah satu tongkonan tertua di Tana Toraja. Tongkonan ini didirikan oleh Pong Sampun dan istrinya, Lai’ Bulaan.
Pong Sampun dikenal sebagai Pangngala Tondok, yaitu orang yang pertama kali membuka tanah di Kalolok dan sekitarnya setelah ia datang dari Tanamalia. Hingga kini, keturunannya telah mencapai sebelas generasi.
Tongkonan Berarti Duduk Bersama
Kata tongkonan berasal dari tongkon, yang berarti duduk. Karena itu, ma’ tongkonan bermakna duduk bersama untuk bermusyawarah.
Dari arti kata ini saja sudah terlihat bahwa tongkonan sejak awal dimaksudkan sebagai tempat berkumpul, bukan sekadar bangunan untuk ditinggali.
Bagi keluarga Bati’ Pong Sampun, yaitu seluruh keturunan sedarah Pong Sampun dan Lai’ Bulaan, makna tongkonan setidaknya terwujud dalam empat hal.


