Padahal, keberadaan tenaga teknis dengan standar kompetensi tinggi merupakan bagian penting dalam membangun sepak bola yang kompetitif.
Menurutnya, pembinaan sepak bola tidak cukup hanya berfokus pada pemain. Kualitas pelatih, profesionalisme wasit, serta penguatan sistem pembinaan juga harus berjalan beriringan.
Karena itu, peningkatan kompetensi dan perluasan akses terhadap program sertifikasi diharapkan menjadi bagian dari langkah strategis kepengurusan baru.
“Dengan pembinaan SDM yang lebih kuat, kita mampu membangun ekosistem sepak bola yang berkelanjutan, mulai dari pembinaan usia dini hingga kompetisi tingkat senior,” katanya.
Berbekal pengalaman di dunia olahraga, memimpin beberapa club olahraga.
Appi juga menegaskan targetnya untuk membawa sepak bola Sulawesi Selatan kembali menunjukkan prestasi di tingkat nasional, termasuk pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Ia optimistis target tersebut dapat dicapai melalui kerja sama seluruh elemen sepak bola, mulai dari organisasi, klub, pelatih, pemain, hingga dukungan pemerintah dan masyarakat.
Appi turut menyinggung PSM Makassar sebagai salah satu kekuatan sepak bola daerah yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun prestasi.
Menurutnya, keberhasilan klub dalam meraih prestasi harus berjalan seiring dengan pembenahan organisasi dan pembinaan sepak bola secara menyeluruh di tingkat provinsi.
“Semangat kebersamaan, penguatan infrastruktur, serta peningkatan kualitas SDM, menjadi fondasi bagi kebangkitan sepak bola Sulawesi Selatan,” tutup Appi.
Diketahui, Penetapan Munafri Arifuddin sebagai Ketua Asprov PSSI Sulsel periode 2026–2030 sekaligus membuka babak baru bagi organisasi sepak bola daerah tersebut untuk memperkuat tata kelola, memperluas pembinaan, dan meningkatkan prestasi di level nasional.
Hadir pada kesempatan ini, Sekjen PSSI Yunus Nusi, Wakil Ketua Umum PSSI Prof. Zainuddin Amali, Plt Ketua PSSI Sulsel Mayjen Rudi Yulianto, para pemilik suara PSSI. []


