MEDAN, Opsi.id – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) optimistis mampu berkembang menjadi partai besar di Sumatera Utara.
Untuk mewujudkan target tersebut, PSI Sumut terus membenahi struktur kepengurusan sekaligus menyiapkan delapan program solidaritas yang menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari buruh, pedagang pasar, petani, nelayan, hingga masyarakat miskin perkotaan.
Optimisme itu disampaikan Ketua DPW PSI Sumatera Utara, Sahat Marthin Philips Sinurat, saat memberikan keterangan pers di Kantor DPW PSI Sumut, Jalan Pattimura, Medan, Jumat (16/10/2026).
Sahat mengatakan, pembenahan organisasi menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat kehadiran PSI di seluruh wilayah Sumatera Utara.
Saat ini, proses pembaruan kepengurusan terus dilakukan mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga kecamatan dan desa.
“Saat ini dari 33 DPD tingkat kabupaten/kota di Sumatera Utara, tinggal satu DPD yang masih kepengurusan lama. Sedangkan 32 sudah kepengurusan baru,” kata Sahat, didampingi Sekretaris DPW PSI Sumut, Delia Ulfa.
Baca juga: Francine Widjojo PSI Minta Pemprov DKI Segera Paparkan Kajian TransJakarta Laut
Selain memperbarui kepengurusan di tingkat kabupaten/kota, PSI Sumut juga mempercepat pembentukan dan pengesahan pengurus di tingkat kecamatan.
Dari sekitar 455 kecamatan yang ada di Sumatera Utara, kepengurusan PSI di 380 kecamatan telah memperoleh surat keputusan (SK).
“Secara keseluruhan, pembentukan struktur kepengurusan sudah mencapai sekitar 85 persen. Ini menjadi semangat baru bagi kami untuk membesarkan PSI di Sumatera Utara,” ujarnya.
Delapan Program Solidaritas
Selain memperkuat organisasi, PSI Sumut mengusung delapan program solidaritas sebagai upaya membangun kedekatan dengan masyarakat dan menampung berbagai aspirasi warga.
Delapan program tersebut meliputi:
1. Solidaritas untuk pekerja dan buruh;
2. Solidaritas untuk masyarakat desa;
3. Solidaritas untuk penyandang disabilitas;
4. Solidaritas untuk petani dan nelayan;
5. Solidaritas untuk pedagang pasar dan pelaku UMKM;
6. Solidaritas perempuan dan anak;
7. Solidaritas bilal mayit dan penggali kubur;
8. Solidaritas untuk wong cilik dan masyarakat miskin perkotaan.
Menurut Sahat, program-program tersebut dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat dengan kebutuhan dan persoalan yang beragam.
Melalui program itu, PSI Sumut ingin membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, sekaligus memperjuangkan kepentingan mereka melalui kegiatan dan kerja organisasi.
“Melalui program solidaritas ini PSI akan menjadi ‘rumah’ bagi semua elemen masyarakat untuk menjadi tempat menampung aspirasi mereka dan juga untuk memperjuangkan kebutuhan mereka,” katanya.
Baca juga: Jokowi Resmi Jadi Kader PSI, Tunjukkan KTA Saat Rakorda di Bandung
Ia menegaskan, program solidaritas tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda politik, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun hubungan yang berkelanjutan antara partai dan masyarakat.
Dengan pembenahan struktur organisasi serta pelaksanaan delapan program solidaritas, PSI Sumut menargetkan kehadirannya semakin dekat dengan berbagai kelompok masyarakat di Sumatera Utara.
Sahat berharap, PSI dapat menjadi wadah bagi buruh, pedagang pasar, petani, nelayan, penyandang disabilitas, perempuan, anak, hingga masyarakat kecil untuk menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan kebutuhan mereka.
“PSI menargetkan program-program itu tidak berhenti sebagai agenda politik semata, tetapi menjadi sarana untuk menampung aspirasi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya. []

