Jakarta - Pengamat politik yang juga peneliti dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad membongkar jomplangnya pendapatan anggota DPR RI dengan pendapatan rata-rata rakyat Indonesia.
Dia menyebut, pendapatan anggota DPR RI 42 kali lebih banyak dari pendapatan rata-rata rakyat Indonesia.
Saidiman membeberkannya di akun X seperti dilihat pada Sabtu, 30 Agustus 2025.
Disebutnya, di negara-negara Eropa, terutama Scandinavia, antusiasme publik untuk menjadi politikus dan ikut dalam pemilihan anggota legislatif tidak sebesar minat orang Indonesia.
Salah satu alasannya adalah karena insentif menjadi anggota dewan di negara-negara itu tidak begitu besar.
Dan itu menurut dia, disengaja agar orang yang ingin masuk parlemen karena mengejar kekayaan tereliminasi sejak awal.
"Motivasi mereka yang ingin menjadi anggota dewan bukan semata karena uang," jelasnya dilansir Opsi.id.
Sistem ini ternyata bisa mengikis praktik politik uang dalam kampanye. Ketika pendapatan menjadi anggota parlemen tidak seberapa, maka mereka yang running untuk menjadi anggota parlemen akan berpikir beribu kali untuk mengeluarkan uang banyak dalam kampanye.
"Jangankan membeli suara, untuk kampanye biasa saja mereka sangat berhemat," lanjutnya.
Tak terlihat spanduk bertebaran di jalan. Yang terjadi justru voluntarisme yang tinggi. Orang-orang yang mendukung calon tertentu akan memasang poster di depan rumahnya masing-masing.
Kampanye juga bisa dilakukan melalui kirim pos. Dan tentu saja, media sosial yang murah dimanfaatkan secara optimal.
"Intinya mereka tidak akan mau mengeluarkan uang banyak untuk berkampanye, apalagi membeli suara, karena tahu bahwa ongkos itu tidak akan terbayar oleh gaji mereka sebagai anggota parlemen. Yang ingin masuk menjadi anggota parlemen di negara-negara itu tidak terutama termotivasi oleh kekayaan, tapi untuk pelayanan publik," jelas Saidiman.
Dia meneruskan, di negara-negara Eropa, pendapatan anggota parlemen hampir sama dengan pendapatan rata-rata penduduk.
Paling jauh di Jerman yang pendapatan anggota Bundestagnya 134,726 Euro per tahun atau 147.837 USD, hanya 2,64 kali dari pendapatan per kapita per tahun warga Jerman sebesar 56 ribu USD. Di Norwegia, pendapatan anggota parlemen setahun sebesar 110.364 USD, hanya 1,17 kali dari pendapatan rata-rata warga setahun sebesar 94 ribu USD.
"Sekarang mari kita bandingkan dengan pendapatan anggota DPR Indonesia," tutur dia.
Angka pasti pendapatan anggota DPR per bulan masih simpang siur. Ada yang menyatakan Rp 100 juta, ada yang yang bilang Rp 230 juta, bahkan miliaran kata Mahfud MD.
Angka miliaran per bulan itu kata Saidiman, terasa berlebihan. Tapi jika melihat bahwa ada calon anggota DPR yang rela mengeluarkan uang puluhan miliar untuk bertarung dalam pemilihan, maka mungkin saja mereka memang bisa mencapai pendapatan miliaran per bulan.
"Tapi mari kita ambil angka moderatnya, 230 juta per bulan atau 2,76 miliar per tahun atau setara dengan 211,814 USD. Dengan pendapatan per kapita per tahun warga Indonesia sekitar 5,030 USD (ada lembaga yang bilang angkanya di bawah itu, sekitar 4900an), maka pendapatan anggota DPR RI sebanyak 42,11 kali dari pendapatan umumnya rakyat Indonesia. Angkanya jomplang banget," tandasnya.
Di Thailand, perbandingannya hanya 7,14, Malaysia 6,03, Jepang 7,39, Korea Selatan 3,24, dan semuanya di bawah 8 kali.
"Coba perhatikan bagaimana ruang sidang atau ruang rapat anggota parlemen di negara-negara maju itu. Terlihat sangat sederhana. Lalu bandingkan bagaimana anggota parlemen kita bersidang. Wow, mewah," tukasnya lagi.
Saidiman menyebut, kalau hari ini banyak warga yang risih dengan pendapatan anggota DPR yang besar, menurut dia, itu sangat wajar. Disparitasnya dengan pendapatan rakyat kebanyakan terlampau jauh, jaraknya seperti langit dan dasar sumur. []