Daerah Minggu, 28 Desember 2025 | 14:12

Perayaan Natal bersama Anak-anak di Adiankoting, Sekber Gokesu Serukan Pendidikan Ekologi

Lihat Foto Perayaan Natal bersama Anak-anak di Adiankoting, Sekber Gokesu Serukan Pendidikan Ekologi Perayaan natal bersama anak-anak penyintas banjir dan longsor di Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara yang dilaksanakan Sekber Gokesu pada Sabtu, 27 Desember 2025. (Foto: Ist)
Editor: Tigor Munte

SILANGIT – Sebanyak 1.200 anak-anak penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, merayakan Natal pada Sabtu, 27 Desember 2025. 

Perayaan Natal digelar di HKBP Parsingkaman, Desa Pagaran Lambung 1 diselenggarakan oleh Sekretariat Bersama Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis di Sumatra Utara (Sekber Gokesu).

Tema yang diangkat pada perayaan Natal ini adalah "Anak-Anak Terang yang Tetap Kuat di Tengah Bencana".

Pastor Walden Sitanggang yang memimpin kegiatan ini mengatakan, bencana banjir dan longsor menyadarkan masyarakat bahwa kerusakan lingkungan itu nyata adanya. 

Menurutnya, momen Natal yang spesial ini merupakan saat yang tepat untuk mengajak anak-anak di masa perkembangan mereka agar tidak hanya melakukan ritual seremonial, namun juga dibekali dengan pendidikan ekologis penyelamatan lingkungan.

Pesan-pesan kepedulian lingkungan disampaikan melalui kegiatan yang menyenangkan seperti bernyanyi bersama dan teater boneka. 

Kabar suka cita bagi bumi hendaknya dimulai dengan tindakan konkret bagi alam ciptaan, tumbuhan, juga hewan-hewan. 

Kepada anak-anak disampaikan pesan untuk tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon sembarangan, serta mengurangi pemakaian air minum dalam kemasan dan membawa wadah minumnya sendiri.

Hadir mewakili Badan Nasional Penanggulan Bencana atau BNPB Viktor Rembeth mengatakan, perayaan Natal ini menjadi wujud solidaritas, pengharapan, dan upaya pemulihan bagi anak-anak yang terdampak bencana. 

Pemerintah akan terus mendampingi bukan hanya saat masa tanggap darurat namun berlanjut hingga masa pemulihan. 

Pada kesempatan ini, BNPB turut membagikan 1.000 bingkisan Natal untuk anak-anak.

Juruselamat

Diketahui, Kecamatan Adiankoting merupakan salah satu wilayah terdampak cukup parah pada kejadian banjir dan tanah longsor pada 25 November 2025 lalu.

Dalam kejadian itu, pihak BNPB mengungkap ada sosok `juru selamat` di wilayah ini saat bencana terjadi. 

Di Desa Dolok Nauli, semua warga berhasil evakuasi dengan selamat salah satunya berkat kesiapsiagaan salah seorang warganya. 

Hutauruk, yang pada petang sekitar pukul 19.00 WIB itu sedang duduk di teras rumah, menyadari bahwa hujan yang turun sangat lebat intensitasnya. 

Ia juga mendengar suara gemuruh dari atas bukit di seberang rumah. Saat aliran air mulai meluncur deras di jalanan depan rumah, Hutauruk segera memberitahu istrinya untuk bergegas keluar rumah. 

Rumah Hutauruk dan tetangganya terletak persis di pinggir jalan raya, berseberangan dengan bukit. 

Merasa bahwa ancaman bahaya longsor sudah sangat dekat karena ia melihat rekahan di dinding bukit, Hutauruk dan istrinya berusaha memberitahu warga sekitar untuk segera keluar rumah. 

Teriakannya tertelan deru hujan, Hutauruk berinisiatif untuk mengambil tumpukan kayu bakar dan melempari rumah tetangganya dengan kayu tersebut. 

Para tetangga kemudian keluar dari rumah mereka dan segera mengevakuasi diri ke titik yang lebih aman yaitu di Gereja Lobupining.

Karena kesiapsiagaan Hutauruk, seluruh warga Desa Dolok Nauli berhasil selamat. Keesokan pagi, warga mendapati banyak rumah yang hancur dan rusak berat diterjang material longsor berupa batang kayu besar, batu, hingga lumpur.

`Juru Selamat` lainnya adalah Castle Sianipar, seorang pendeta di gereja HKBP Parsingkaman, Desa Pagaran Lambung 1, Kecamatan Adiankoting. 

Pada 25 November 2025, sekitar pukul sebelas malam, ia dan istrinya sedang berada di rumah yang bersebelahan dengan gereja. 

Ia berkisah, pada malam itu tiba-tiba terdengar suara seperti air bah namun ia belum mengetahui dimana air itu mengalir. 

Istrinya juga mencium bau yang tidak biasa, seperti bau lumpur dan bau patahan kayu. Keadaan malam itu hujan deras dan listrik padam.

Setelah Castle mengecek menggunakan senter, barulah ia mengetahui, aliran air deras meluncur tepat di depan rumahnya menuju ke pemukiman warga.

Castle lalu berinisiatif untuk membunyikan lonceng gereja untuk memberitahu warga yang saat itu telah memasuki waktu tidur. 

Suara lonceng yang tidak biasa ini kemudian membangunkan warga untuk kemudian mengevakuasi diri menerjang genangan air ke titik yang lebih aman yaitu di satu gedung SMP Negeri 5 Pagaran Lambung 1. 

Seingatnya, ia membunyikan lonceng selama empat kali, hingga pukul empat pagi. []

 

Berita Terkait

Berita terbaru lainnya