“Saya senang bisa mencetak gol dan membantu tim. Saya gugup menonton dari bangku cadangan di babak kedua setelah cedera, tapi yang terpenting kami menang. Sekarang saatnya merayakan,” kata Hümmet yang harus keluar lapangan di babak kedua akibat cedera.
Al Nassr mendominasi penguasaan bola dan peluang. Tapi dominasi tanpa konversi hanyalah statistik.
Ronaldo dan Momen-Momen yang Terbuang
Ronaldo nyaris menyamakan kedudukan jelang turun minum — sundulan jarak dekat dari umpan João Félix melambung tipis di atas mistar.
Baca juga: Mourinho Kembali ke Real Madrid: Tangan Besi untuk Ruang Ganti yang Retak
Felix sendiri menghantam tiang di menit ke-77 lewat tembakan keras dari luar kotak penalti.
Osaka bertahan dengan disiplin dan terorganisasi, menutup ruang serangan Al Nassr yang bertabur bintang. Hasilnya: frustrasi kolektif yang berakhir dengan peluit panjang kekalahan.
Luka yang Belum Kering
Yang membuat kekalahan ini semakin perih adalah konteksnya.
Lima hari sebelumnya, Al Nassr nyaris meraih gelar Saudi Pro League untuk pertama kali sejak 2019 — hanya untuk kebobolan di masa injury time dan membiarkan persaingan berlanjut hingga pekan terakhir.
Dua kegagalan dalam satu pekan. Dua trofi yang lepas dari genggaman.
Satu-satunya trofi resmi Ronaldo bersama Al Nassr tetaplah Arab Club Champions Cup 2023 — kompetisi yang tidak masuk dalam kalender resmi FIFA.
Masih Ada Harapan
Namun musim ini belum benar-benar tamat. Al Nassr masih memimpin klasemen Saudi Pro League dengan keunggulan dua poin atas Al Hilal.
Dan akan menentukan nasib gelar liga dalam laga terakhir melawan Damac, Kamis mendatang.
Satu trofi tersisa. Satu kesempatan terakhir. Bagi Ronaldo, malam Kamis itu bisa menjadi penebus — atau penambah daftar panjang kekecewaan. []


