Sengketa Lagu Tabah milik Dayu AG, Maheswara Musik Disorot

Jakarta – Sengketa lama di industri musik nasional kembali mencuat. Kali ini menyeret nama Lo Siong Fa alias Paku, bos dari Maheswara Musik, dalam dugaan praktik distribusi yang minim transparansi.

Lagu Tabah, karya Dayu AG yang juga dinyanyikan sekaligus diproduseri olehnya, menjadi pusat polemik setelah puluhan tahun diduga beredar tanpa kejelasan pembagian hasil penjualan.

Pada Senin, 6 April 2026, Dayu AG hadir di hadapan penyidik Bareskrim Polri untuk mengurai kronologi panjang yang kini berbuntut hukum. Menurut keterangan tim kuasa hukum, lagu tersebut diserahkan dalam bentuk master rekaman kepada Maheswara Musik pada pertengahan 1990-an untuk didistribusikan secara komersial.

Namun sejak saat itu, persoalan mendasar tak pernah terjawab, yakni ke mana aliran keuntungan dari penjualan lagu tersebut.

Berbicara dalam keterangan tertulisnya, kuasa hukum dari Indonesia Police Watch (IPW), Arianto Hulu, menegaskan bahwa hingga kini tidak pernah ada laporan resmi terkait jumlah produksi. Ia juga menyebutkan bahwa tidak ada laporan mengenai penjualan dalam format kaset, VCD, hingga DVD. Ketiadaan data ini dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap hak ekonomi pencipta.

“Yang kami persoalkan bukan sekadar royalti, melainkan pembagian hasil penjualan yang tidak pernah dilaporkan. Ini menyangkut transparansi dan akuntabilitas,” ujar Arianto Hulu.

Arianto menilai bahwa sikap Maheswara Musik yang tidak merespons somasi tertanggal 18 Maret 2026 semakin mempertegas dugaan adanya kelalaian serius. Surat tersebut berisi permintaan penghentian distribusi dan komersialisasi lagu Tabah hingga persoalan diselesaikan.

Namun hingga perkara bergulir ke ranah hukum, tidak ada klarifikasi yang disampaikan. Diamnya pihak distributor, kata Arianto, justru memunculkan pertanyaan publik mengenai apakah praktik semacam ini merupakan anomali. Ataukah cerminan tata kelola lama yang abai terhadap hak pencipta.

Estimasi kerugian yang diajukan pihak pelapor mencapai Rp32,3 miliar. Angka ini mencerminkan potensi nilai ekonomi dari distribusi panjang lagu tersebut. Meski masih bersifat sementara, estimasi ini memperlihatkan besarnya dugaan dampak yang ditanggung pencipta.

Menurut Arianto, kasus ini bukan sekadar sengketa individu. Melainkan potret buram praktik industri musik era distribusi fisik, ketika kontrol berada di tangan distributor dan transparansi belum menjadi standar.

Jika terbukti, perkara ini dapat menjadi preseden penting dalam menuntut pertanggungjawaban pelaku usaha atas hak ekonomi kreator. Sengketa lagu Tabah membuka kembali diskusi tentang perlunya regulasi yang lebih ketat dalam industri musik, terutama terkait transparansi distribusi dan pembagian keuntungan.

Di era digital saat ini, isu semacam ini menjadi pengingat bahwa hak pencipta harus tetap dijaga, baik dalam format fisik maupun digital.

Kini, sorotan tertuju pada langkah Bareskrim Polri dalam mengurai fakta dan memanggil pihak terlapor. Publik menanti, apakah Maheswara Musik akan memberikan penjelasan terbuka, atau tetap memilih diam di tengah tudingan yang kian menguat.

Kasus ini jelas akan menjadi ujian besar bagi industri musik Indonesia dalam menegakkan akuntabilitas dan melindungi hak ekonomi para kreator. []

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI

News Anchor Bongkar Cerita di Balik Layar TV

Jakarta - Sederet pembaca berita alias news...

Video Bokep 19 Detik di Emperan Toko Magelang, Viral di Media Sosial

Jakarta - Sebuah video bokep berdurasi 19 detik berisi...

Foto: Achmad Megantara, Perankan Rangga di Sinetron Dewi Rindu

Jakarta - Aktor muda Achmad Megantara didaulat untuk berperan...

Dihina Gurunya, Siswi SMP di Medan Didatangi Polisi

Medan - Seorang siswi SMP Negeri 28 Kota Medan,...

Masih Syuting, Sunil Samtani Ungkap Jadwal Tayang Film Pengabdi Setan 2: Communion

Jakarta - Produser Rapi Films, Sunil Samtani, membeberkan jadwal...

Inggris Libas Prancis 6-4, Rebut Peringkat Ketiga Piala Dunia 2026

Miami, OPSI.ID - Timnas Inggris menutup kiprahnya di Piala...

Thee Marloes Gelar Di Hotel Malibu Album Showcase di Surabaya dan Jakarta

Jakarta - Setelah sukses menjalani tur Amerika Serikat dan...

Lomba Sihir Buka Album Setelah: Obrolan Jam 3 Pagi Lewat Single Di Seberang

Jakarta - Grup band asal ibu kota, Lomba Sihir,...

Diduga Stres Akibat Masalah Keluarga, Seorang Pria di Medan Tega Bakar Ayah Kandung

Medan, OPSI.ID - Aksi kekerasan dalam keluarga terjadi di...

6 Karya Janner Clay Siahaan Resmi Dirilis Oleh 6 Entitas Musik Berbeda

Jakarta - Sixty Nine Music Factory kembali menegaskan posisinya...

Messi Tak Percaya Foto Masa Lalu dengan Lamine Yamal Jadi Kenyataan: “Ini Gila”

Jakarta, Opsi.id - Lionel Messi mengaku tak menyangka dirinya...

Kejari Indramayu Hentikan Penyelidikan Kasus Transfer Dana PDAM dan Tidak Ditemukan Unsur Korupsi

Indramayu, Veritanews.id – Kejaksaan Negeri (Kejari) Indramayu secara resmi...

Jokowi ke Lampung, PSI Dapat Tambahan 6.000 Anggota Baru

SOLO, Opsi.id – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengungkap kunjungan...

Berita Terbaru

Popular Categories