Jakarta — Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh menegaskan, tantangan Direktur Utama (Dirut) PLN yang baru, Suroso Isnandar, bukan sekadar meningkatkan kapasitas pembangkit listrik.
Menurutnya, Suroso Isnandar harus melakukan transformasi PLN menjadi perusahaan yang andal, sehat secara finansial, adaptif terhadap teknologi, dan mampu mempercepat transisi energi rendah karbon.
”Transformasi PLN membutuhkan strategi terpadu yang mencakup ketahanan energi, investasi infrastruktur, disiplin keuangan, inovasi teknologi, serta tata kelola perusahaan,” ujar Syamsir dalam keterangannya, Senin, 19 Oktober 2026.
Karena itu, ujar Syamsir, keberhasilan Direktur Utama PLN tidak cukup diukur dari besarnya produksi listrik, tetapi juga keandalan pasokan, efisiensi biaya, dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi, dan kontribusi terhadap pengurangan emisi.
Salah satu pekerjaan utama adalah menyeimbangkan ketahanan energi, keterjangkauan tarif, dan dekarbonisasi. PLN perlu menjaga pasokan listrik tetap stabil dengan harga kompetitif sembari memperbesar porsi energi terbarukan.
”Tantangannya, percepatan transisi energi harus dilakukan tanpa menimbulkan beban keuangan berlebihan bagi perusahaan, pemerintah, maupun konsumen,” katanya.
Dia juga mengingatkan, perlu kepastian investasi serta mekanisme pengadaan yang tepat pada sisi pembangkitan, pengembangan energi surya, panas bumi, tenaga air, angin, dan bioenergi.
”Pembangunan pembangkit juga harus berjalan seiring dengan kesiapan jaringan transmisi. Penambahan kapasitas terpasang tidak akan optimal apabila listrik yang dihasilkan tidak dapat disalurkan secara efektif ke pusat kebutuhan,” tegasnya.
Keberlanjutan keuangan menjadi pekerjaan berikutnya. PLN harus mengelola investasi infrastruktur yang membutuhkan modal besar, biaya bahan bakar, subsidi dan kompensasi listrik, serta kewajiban dari kontrak pembelian listrik jangka panjang. Efisiensi operasional, optimalisasi bauran pembangkit, dan penentuan prioritas investasi diperlukan agar agenda transisi energi tidak mengganggu kesehatan keuangan perusahaan.
Syamsir juga menyoroti modernisasi jaringan melalui pengembangan smart grid, sistem penyimpanan energi baterai (battery energy storage system/BESS), serta teknologi prakiraan dan pengendalian sistem. Infrastruktur tersebut diperlukan untuk mengintegrasikan energi terbarukan yang produksinya bergantung pada kondisi alam sekaligus menjaga stabilitas dan keandalan pasokan listrik.
Selain persoalan teknis, transisi dari batu bara menuju energi rendah karbon harus memperhatikan dampak sosial dan ekonomi. PLN perlu menyiapkan pengelolaan aset pembangkit yang ada, melindungi pekerja dan masyarakat terdampak, serta memastikan manfaat transisi energi terdistribusi secara adil. Transparansi pengadaan, penguatan manajemen risiko, dan indikator kinerja yang terukur juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan akuntabilitas perusahaan.
Tantangan lainnya adalah mengantisipasi lonjakan kebutuhan listrik akibat elektrifikasi transportasi, pertumbuhan industri, dan pembangunan pusat data. PLN perlu menyusun proyeksi permintaan secara akurat serta memastikan setiap investasi memberikan nilai ekonomi dan mendukung keandalan sistem.
Sebelumnya, Suroso Isnandar resmi dipercaya memimpin PLN melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026, menggantikan Darmawan Prasodjo. Kepemimpinannya akan diuji oleh kemampuan mengintegrasikan seluruh agenda tersebut menjadi transformasi PLN yang efisien, tangguh, dan berkelanjutan. []

