Jakarta – Seorang pemuda asal Papua, Hendrikus Hari (21), berdiri tegap di halaman Institut Teknologi PLN (ITPLN), Jakarta. Jaket hitam-cokelat melekat di tubuhnya, sementara tas selempang menggantung di bahu. Di belakangnya, gedung kampus ITPLN berdiri di antara pepohonan yang rindang dan bendera yang berkibar.
Hari pertama menginjakkan kaki di Jakarta, Hendrikus melihat pemandangan itu bukan sekadar halaman kampus. Tempat tersebut menjadi titik baru dalam perjalanan panjangnya dari Kampung Apuge, Distrik Asuwe, Kabupaten Mappi, Papua Selatan, menuju pendidikan tinggi.
Hendrikus merupakan lulusan SMAN 1 Asgon. Ia datang ke ITPLN melalui program beasiswa Seribu Sarjana dari Pemerintah Kabupaten Mappi. Di balik langkahnya meninggalkan tanah kelahiran, tersimpan satu cita-cita sederhana: memperoleh ilmu dan kelak menggunakannya untuk menghadirkan listrik bagi masyarakat di kampung halamannya.
“Di sini, saya mengikuti program dari ITPLN. Program beasiswa Seribu Sarjana dari Kabupaten Mappi,” ujar Hendrikus dalam keterangannya pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Hendrikus merupakan putra dari Alex Gnyo dan Nely Marume. Ia adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Ayah dan ibunya selama ini menopang keluarga dengan berkebun dan bertani.
Sebelum merantau jauh ke Jakarta, Hendrikus seringkali merasakan minimnya fasilitas pendidikan di tanah kelahirannya. Sejak kecil, ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh menempuh pendidikan di SMAN 1 Asgon.
Ia terbiasa berjalan kaki untuk menuju sekolah. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari kesehariannya sebelum akhirnya kesempatan kuliah membawanya terbang meninggalkan Papua.
Keputusan Hendrikus memilih ITPLN bukan tanpa alasan. Ia melihat pendidikan di bidang ketenagalistrikan sebagai jalan untuk menjawab persoalan yang masih dihadapi daerah asalnya.
Hendrikus ingin kelak ikut membangun infrastruktur kelistrikan di Kabupaten Mappi. Ia membayangkan ilmu yang diperolehnya di Jakarta dapat dibawa pulang untuk membantu masyarakat di tanah kelahirannya.
“Karena ingin membangun Kabupaten Mappi. Salah satunya ingin membangun kelistrikan di Kabupaten Mappi,” tegasnya.
Menurut Hendrikus, kondisi kelistrikan di daerahnya masih menjadi tantangan. Karena itu, ia bersyukur bisa lolos seleksi dalam program beasiswa Seribu Sarjana Kabupaten Mappi ke Institut Teknologi PLN (ITPLN). Terlebih, kampus transisi energi ini memiliki bidang pendidikan yang berkaitan langsung dengan energi dan ketenagalistrikan.
“Menurut saya, tidak semua orang memiliki kesempatan kuliah di ITPLN. Karena, semua orang memiliki jurusan seperti pak guru, ibu guru, bukan ke keteknikan. Belum semua memiliki program itu, atau jurusan itu. Bagi saya ITPLN, bisa mewujudkan keinginan saya,” ungkap Hendrikus bangga.
Di balik cita-cita membangun daerah, ada alasan lain yang lebih personal. Hendrikus ingin membahagiakan kedua orang tuanya sekaligus membantu meningkatkan kehidupan keluarganya.
Sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, ia menyadari perjalanan pendidikan yang ditempuhnya bukan hanya untuk dirinya sendiri.
“Saya ingin menemukan orang tua, membahagiakan orang tua dan meningkatkan ekonomi keluarga. Salah satunya itu,” kata Hendrikus.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Hendrikus, pendidikan menjadi jalan untuk membuka peluang yang lebih besar bagi keluarganya.
Ia tidak melupakan dari mana dirinya berasal. Kehidupan orang tuanya yang bekerja sebagai petani dan berkebun menjadi salah satu alasan mengapa ia ingin berjuang lebih jauh.
Di tanah kelahirannya, keluarganya mengandalkan pekerjaan berkebun dan bertani. Tanaman yang dikelola antara lain sayuran dan ubi.
Kini, ia harus belajar hidup jauh dari keluarga. Jakarta menjadi tempat baru yang sebelumnya hanya ada dalam bayangan.
Menatap Masa Depan
Hendrikus belum mengetahui secara pasti seperti apa jalan yang akan ditempuh setelah menyelesaikan pendidikan. Namun, ia memiliki gambaran besar mengenai masa depannya.
Salah satu cita-citanya adalah bekerja di PLN. Ia ingin memperoleh pengalaman dan ilmu yang cukup sebelum suatu hari kembali berkontribusi bagi daerah asalnya.
“Saya akan menjadi pegawai PLN,” ujarnya.
Namun, cita-cita Hendrikus tidak berhenti di sana. Dengan gaya khasnya, ia bahkan menyebut ingin menjadi pemimpin di perusahaan energi suatu saat nanti.
“Satu saat,” katanya.
Di balik cita-cita yang terdengar tinggi itu, ada keinginan yang tetap sama: membangun. Hendrikus ingin pendidikan yang ditempuhnya di ITPLN tidak berhenti sebagai gelar akademik. Ia ingin ilmu tersebut menjadi bekal untuk membantu pemerintah daerah dan masyarakat Mappi.
Kepada Pemerintah Kabupaten Mappi yang telah memberinya kesempatan kuliah, Hendrikus menyampaikan rasa terima kasih.
“Terima kasih kepada Bapak-Ibu dan mungkin rasa bersyukur kepada orang tua yang sudah membesarkan saya untuk meraih cita-cita atau kesuksesan yang saya suka,” ucapnya.
Dari sebuah kampung di Papua menuju kampus teknologi di Jakarta, perjalanan Hendrikus baru saja dimulai. Ia datang membawa cerita tentang jarak, keluarga, dan perjuangan. Namun, lebih dari itu, ia membawa sebuah mimpi: suatu hari pulang ke tanah kelahiran dengan ilmu yang dapat mengubah gelap menjadi terang. []

