Jakarta – The Script resmi mengumumkan kembalinya mereka ke Asia Tenggara pada Maret 2027, setelah kesuksesan tur dunia Satellites pada 2025. Band rock asal Irlandia ini juga tengah bersiap merilis album terbaru bertajuk “The User’s Guide to Being Human” pada 14 Agustus 2026.
Menjelang perilisan album, mereka lebih dulu memperkenalkan single “Man in the Arena” yang kini sudah dapat didengarkan di berbagai platform digital.
Kembalinya The Script ke Asia Tenggara akan ditandai dengan tiga konser besar. Di Filipina, mereka akan tampil di Manila Arena pada 18–20 Maret 2027. Konser pada 18 dan 19 Maret sudah terjual habis, sehingga satu tanggal tambahan resmi ditambahkan pada 20 Maret.
Setelah itu, mereka akan tampil di Singapore Indoor Stadium pada 31 Maret 2027, lalu melanjutkan ke Jakarta pada 3 April 2027.
Antusiasme penggemar di kawasan ini bukan hal baru. Pada tur Satellites 2025, seluruh konser mereka di Singapura, Malaysia, Filipina, Indonesia, dan Thailand berhasil sold out.
Kecepatan tiket konser Manila 2027 yang langsung ludes kembali menegaskan besarnya basis penggemar The Script di Asia. Kawasan ini kini menjadi salah satu pasar terpenting dalam perjalanan tur dunia mereka.
Album “The User’s Guide to Being Human direkam” di Topanga Canyon, Los Angeles, dan menandai fase kreatif baru bagi The Script.
Setelah album “Satellites” (2024) yang menjadi cara vokalis Danny O’Donoghue menghadapi duka atas meninggalnya Mark Sheehan pada 2023, album baru ini menghadirkan semangat baru, harapan, dan tujuan yang lebih jelas.
“Banyak orang mungkin tidak akan pernah benar-benar memahami hubungan saya dengan kata-kata dan musik. Begitulah cara saya memproses segala hal dalam hidup,” kata Danny.
Ia menambahkan bahwa sejak kecil, musik selalu menjadi ruang untuk menyalurkan rasa sakit dan kehilangan.
Setelah tur Satellites berakhir, Danny merasa kembali penuh energi dan inspirasi. Hanya dalam waktu satu minggu, ia mulai menulis dan merekam lagu baru bersama Andrew Frampton, Steve Kipner, dan Jimbo Barry—nama-nama yang sebelumnya ikut menulis hits The Script seperti “Hall of Fame”, “The Man Who Can’t Be Moved”, dan “Breakeven”.
“Judul album ini menggambarkan seluruh isinya. Jika Anda membutuhkan sesuatu yang bisa mengingatkan tentang berbagai macam perasaan dan emosi yang membuat kita menjadi manusia, maka album ini adalah jawabannya,” tutur Danny.
Single utama “Man in the Arena” kembali menunjukkan kemampuan The Script menciptakan lagu rock berskala stadion. Lagu ini dibangun di atas irama R&B yang kuat sebelum berkembang menjadi chorus besar khas The Script.
Liriknya terinspirasi pidato Presiden AS Theodore Roosevelt tentang kehormatan sejati yang bukan milik para pengkritik, melainkan milik orang-orang yang berani turun langsung ke arena.
“Roosevelt mengatakan bahwa kehormatan bukan milik para pengkritik… Kehormatan adalah milik orang yang benar-benar masuk ke arena dan wajahnya dipenuhi debu serta darah,” ujar Danny.
Selama kariernya, The Script telah meraih enam album nomor satu di Inggris, delapan album nomor satu di Irlandia, lebih dari 14 miliar kali streaming, penjualan lebih dari lima juta album, serta berbagai sertifikasi Platinum di banyak negara.
Dengan lebih dari 4,5 juta tiket konser terjual sepanjang karier, mereka berhasil membangun basis penggemar global yang terhubung lewat musik emosional dan penuh ketulusan.
Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah dengan penonton paling antusias, menjadikan The Script sebagai salah satu band internasional yang paling dicintai di kawasan ini. []

